<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bansos hingga BLT Belum Bisa Buat Indonesia Keluar dari Resesi</title><description>Bantuan sosial dengan bantuan  setara Rp600 ribu rupiah per bulan ternyata tidak mampu mendorong  konsumsi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/09/320/2306520/bansos-hingga-blt-belum-bisa-buat-indonesia-keluar-dari-resesi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/09/320/2306520/bansos-hingga-blt-belum-bisa-buat-indonesia-keluar-dari-resesi"/><item><title>Bansos hingga BLT Belum Bisa Buat Indonesia Keluar dari Resesi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/09/320/2306520/bansos-hingga-blt-belum-bisa-buat-indonesia-keluar-dari-resesi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/09/320/2306520/bansos-hingga-blt-belum-bisa-buat-indonesia-keluar-dari-resesi</guid><pubDate>Senin 09 November 2020 12:26 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/09/320/2306520/bansos-hingga-blt-belum-bisa-buat-indonesia-keluar-dari-resesi-uZqd2fF3Hd.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/09/320/2306520/bansos-hingga-blt-belum-bisa-buat-indonesia-keluar-dari-resesi-uZqd2fF3Hd.jpeg</image><title>Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Bantuan sosial yang telah menyasar lebih 50%  penduduk dengan bantuan setara Rp600 ribu rupiah per bulan ternyata tidak mampu mendorong konsumsi rumah tangga menjadi positif bahkan dalam TW III 2020 sebesar -4,04% atau turun sedikit dari posisi -5,52% pada TW II 2020.
Ekonom Indef Tauhid Ahmad mengatakan untuk konsumsi makanan dan minuman (selain restoran) juga masih -0,69% atau bergeser sedikit sekali pada TW II 2020 yang sebesar -0,73%.
Baca Juga:&amp;nbsp;Cair Hari Ini, Penerima BLT Subsidi Gaji Berkurang&amp;nbsp;
&quot;Ini artinya, untuk kebutuhan pokok saja, masyarakat tidak mampu menyediakan kebutuhannya dengan baik walaupun lebih dari 176,38 triliun rupiah telah digelontorkan pemerintah hingga 2 November 2020,&quot;kata Tauhid Ahmad di Jakarta, Senin (9/11/2020).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNS82Ny8xMjQxMzEvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Menurutnya, ketidakpastian  program ini banyak disebabkan ketidaktepatan sasaran, administrasi untuk verifikasi sasaran yang tidak mendukung, besaran bantuan yang tidak memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
&quot;Jenis bantuan yang tidak memberdayakan usaha mikro dan kecil di tengah masyarakat, hingga penggunaan bantuan sosial untuk yang tidak semestinya,&quot; katanya.Dia menambahkan  pada Triwulan II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia  yang sebesar - 5,32%  yoy memang masih lebih baik dibandingkan Amerika  Serikat (-9%), Hong Kong (-9%), Uni Eropa (-13,9%), Singapura (- 13,3%).
&quot;Namun demikian, apabila dilihat Triwulan III 2020, negara- negara  tersebut yang justru jauh lebih cepat pemulihannya, misalnya Amerika  Serikat -2,9%, Hong Kong -3,4% dan Uni Eropa -3,9%. Negara-negara  tersebut berhasil meningkatkan perbaikan ekonominya lebih dari 50% pada  TW III 2020, &quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Bantuan sosial yang telah menyasar lebih 50%  penduduk dengan bantuan setara Rp600 ribu rupiah per bulan ternyata tidak mampu mendorong konsumsi rumah tangga menjadi positif bahkan dalam TW III 2020 sebesar -4,04% atau turun sedikit dari posisi -5,52% pada TW II 2020.
Ekonom Indef Tauhid Ahmad mengatakan untuk konsumsi makanan dan minuman (selain restoran) juga masih -0,69% atau bergeser sedikit sekali pada TW II 2020 yang sebesar -0,73%.
Baca Juga:&amp;nbsp;Cair Hari Ini, Penerima BLT Subsidi Gaji Berkurang&amp;nbsp;
&quot;Ini artinya, untuk kebutuhan pokok saja, masyarakat tidak mampu menyediakan kebutuhannya dengan baik walaupun lebih dari 176,38 triliun rupiah telah digelontorkan pemerintah hingga 2 November 2020,&quot;kata Tauhid Ahmad di Jakarta, Senin (9/11/2020).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNS82Ny8xMjQxMzEvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Menurutnya, ketidakpastian  program ini banyak disebabkan ketidaktepatan sasaran, administrasi untuk verifikasi sasaran yang tidak mendukung, besaran bantuan yang tidak memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
&quot;Jenis bantuan yang tidak memberdayakan usaha mikro dan kecil di tengah masyarakat, hingga penggunaan bantuan sosial untuk yang tidak semestinya,&quot; katanya.Dia menambahkan  pada Triwulan II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia  yang sebesar - 5,32%  yoy memang masih lebih baik dibandingkan Amerika  Serikat (-9%), Hong Kong (-9%), Uni Eropa (-13,9%), Singapura (- 13,3%).
&quot;Namun demikian, apabila dilihat Triwulan III 2020, negara- negara  tersebut yang justru jauh lebih cepat pemulihannya, misalnya Amerika  Serikat -2,9%, Hong Kong -3,4% dan Uni Eropa -3,9%. Negara-negara  tersebut berhasil meningkatkan perbaikan ekonominya lebih dari 50% pada  TW III 2020, &quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
