<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Produk Herbal RI Punya Potensi Besar</title><description>Direktur Utama PT Phapros Tbk (PEHA) Hadi Kardoko mengatakan, potensi obat herbal di dalam negeri masih sangat besar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/11/320/2308161/produk-herbal-ri-punya-potensi-besar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/11/320/2308161/produk-herbal-ri-punya-potensi-besar"/><item><title>Produk Herbal RI Punya Potensi Besar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/11/320/2308161/produk-herbal-ri-punya-potensi-besar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/11/320/2308161/produk-herbal-ri-punya-potensi-besar</guid><pubDate>Rabu 11 November 2020 22:04 WIB</pubDate><dc:creator>Oktiani Endarwati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/11/320/2308161/produk-herbal-ri-punya-potensi-besar-GBLX9PUs3i.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jamu (Foto: Indoindian)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/11/320/2308161/produk-herbal-ri-punya-potensi-besar-GBLX9PUs3i.jpg</image><title>Jamu (Foto: Indoindian)</title></images><description>JAKARTA - Direktur Utama PT Phapros Tbk (PEHA) Hadi Kardoko mengatakan, potensi obat herbal di dalam negeri masih sangat besar. Hal ini harus didorong untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor industri farmasi.
&quot;Apakah pasar herbal cukup besar? Ya, cukup besar. Apakah diterima masyarakat? Tergantung bagaimana melakukan edukasi,&quot; ujarnya saat berkunjung ke MNC Portal di Gedung iNews Tower, Rabu (11/11/2020).
Baca Juga: Redam Impor Tekstil, Pemerintah Bakal Revisi Aturan
Dia melanjutkan, produk obat di Indonesia mayoritas masih mengandalkan bahan baku dari luar negeri. Sekitar 95% bahan baku obat masih diimpor sehingga Indonesia baru menguasai industri hilir.
Untuk itu, penggunaan bahan baku obat herbal harus didorong mengingat sumbernya sangat berlimpah di dalam negeri.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNy82Ny8xMjQyMzUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurut Hadi, masih perlu dilakukan edukasi dan sosialisasi terkait produk herbal ini. Masyarakat masih belum sepenuhnya paham mengenai obat herbal.
&quot;Pasarnya ada dan pemerintah mendorong pengembangan obat herbal. Kami juga punya obat herbal tetapi secara pasar belum masif sehingga harus dilakukan sosialisasi secara bertahap,&quot; ungkapnya.Direktur Pemasaran PT Phapros Tbk (PEHA) Chairani Harahap mengatakan,  mindset orang Indonesia terhadap produk herbal selalu produk jamu.  Padahal produk obat herbal sangat beragam.
&quot;Memang mindset orang Indonesia herbal itu jamu. Jadi orang Indonesia  harus paham karena sekarang istilahnya diganti menjadi Obat Modern Asli  Indonesia (OMAI),&quot; tuturnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri kimia,  farmasi, dan obat tradisional menjadi salah satu sektor yang menunjukkan  pertumbuhan di tengah pandemi pada sepanjang kuartal III tahun ini.
Sektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional di kuartal III  2020 mengalami pertumbuhan sebesar 5,69% dibanding kuartal II 2020 lalu.  Pertumbuhan sektor kimia, farmasi, dan obat tradisional didukung oleh  peningkatan produksi obat-obatan, multivitamin dan suplemen untuk  memenuhi permintaan domestik dalam menghadapi wabah Covid-19.</description><content:encoded>JAKARTA - Direktur Utama PT Phapros Tbk (PEHA) Hadi Kardoko mengatakan, potensi obat herbal di dalam negeri masih sangat besar. Hal ini harus didorong untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor industri farmasi.
&quot;Apakah pasar herbal cukup besar? Ya, cukup besar. Apakah diterima masyarakat? Tergantung bagaimana melakukan edukasi,&quot; ujarnya saat berkunjung ke MNC Portal di Gedung iNews Tower, Rabu (11/11/2020).
Baca Juga: Redam Impor Tekstil, Pemerintah Bakal Revisi Aturan
Dia melanjutkan, produk obat di Indonesia mayoritas masih mengandalkan bahan baku dari luar negeri. Sekitar 95% bahan baku obat masih diimpor sehingga Indonesia baru menguasai industri hilir.
Untuk itu, penggunaan bahan baku obat herbal harus didorong mengingat sumbernya sangat berlimpah di dalam negeri.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNy82Ny8xMjQyMzUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurut Hadi, masih perlu dilakukan edukasi dan sosialisasi terkait produk herbal ini. Masyarakat masih belum sepenuhnya paham mengenai obat herbal.
&quot;Pasarnya ada dan pemerintah mendorong pengembangan obat herbal. Kami juga punya obat herbal tetapi secara pasar belum masif sehingga harus dilakukan sosialisasi secara bertahap,&quot; ungkapnya.Direktur Pemasaran PT Phapros Tbk (PEHA) Chairani Harahap mengatakan,  mindset orang Indonesia terhadap produk herbal selalu produk jamu.  Padahal produk obat herbal sangat beragam.
&quot;Memang mindset orang Indonesia herbal itu jamu. Jadi orang Indonesia  harus paham karena sekarang istilahnya diganti menjadi Obat Modern Asli  Indonesia (OMAI),&quot; tuturnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri kimia,  farmasi, dan obat tradisional menjadi salah satu sektor yang menunjukkan  pertumbuhan di tengah pandemi pada sepanjang kuartal III tahun ini.
Sektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional di kuartal III  2020 mengalami pertumbuhan sebesar 5,69% dibanding kuartal II 2020 lalu.  Pertumbuhan sektor kimia, farmasi, dan obat tradisional didukung oleh  peningkatan produksi obat-obatan, multivitamin dan suplemen untuk  memenuhi permintaan domestik dalam menghadapi wabah Covid-19.</content:encoded></item></channel></rss>
