<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Ramal Ekonomi RI Bisa Tumbuh 6%, Yakin Nih Pak Perry?</title><description>Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan optimismenya terkait kondisi perekonomian Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/16/320/2310392/bi-ramal-ekonomi-ri-bisa-tumbuh-6-yakin-nih-pak-perry</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/16/320/2310392/bi-ramal-ekonomi-ri-bisa-tumbuh-6-yakin-nih-pak-perry"/><item><title>BI Ramal Ekonomi RI Bisa Tumbuh 6%, Yakin Nih Pak Perry?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/16/320/2310392/bi-ramal-ekonomi-ri-bisa-tumbuh-6-yakin-nih-pak-perry</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/16/320/2310392/bi-ramal-ekonomi-ri-bisa-tumbuh-6-yakin-nih-pak-perry</guid><pubDate>Senin 16 November 2020 14:58 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/16/320/2310392/bi-ramal-ekonomi-ri-bisa-tumbuh-6-yakin-nih-pak-perry-LLF3tAQooE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/16/320/2310392/bi-ramal-ekonomi-ri-bisa-tumbuh-6-yakin-nih-pak-perry-LLF3tAQooE.jpg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan optimismenya terkait kondisi perekonomian Indonesia. Dirinya meyakini perbaikan ekonomi Indonesia akan terus berlanjut.
&quot;Insya Allah pertumbuhan ekonomi akan positif di kuartal IV 2020, dan meningkat menjadi 5% di 2021, naik ke 6% dalam 5 tahun mendatang,&quot; ujar Perry dalam West Java Investment Summit secara virtual di Jakarta, Senin (16/11/2020).
Baca Juga: Ini 10 Orang Terkaya di China Era Covid-19
Hal ini, kata dia, didukung oleh perbaikan konsumsi, ekspor, dan investasi. Ditambah lagi, stabilitas ekonomi makro dan keuangan juga terjaga.
&quot;Nilai tukar Rupiah stabil dan cenderung menguat. Inflasi rendah, defisit transaksi berjalan menurun, dan sistem perbankan secara keseluruhan sehat,&quot; ungkapnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNi82Ny8xMjQyMDAvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Perry juga menyampaikan bahwa sinergi koordinasi kebijakan ekonomi nasional sangat kuat dan erat antara pemerintah, BI, OJK, maupun berbagai instansi dan lembaga. Pemerintah sendiri sudah memberikan stimulus fiskal dalam jumlah besar untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional (PEN) dari dampak pandemi Covid-19.
&quot;Dengan defisit fiskal 6,3% di tahun 2020 dan 5,7% di tahun 2021. Sebagian besar anggaran pengeluaran untuk kesehatan, bansos, dan program PEN termasuk mendorong UMKM dan pulihnya investasi,&quot; tandasnya.Dia menyampaikan, BI telah memberikan stimulus moneter yang besar.  Komitmen BI juga sangat tinggi untuk menjaga stabilitas nilai tukar  Rupiah agar terus kondusif untuk pemulihan ekonomi.
&quot;Suku bunga kami turunkan 1%, menjadi 4% tahun ini. Kami juga  melakukan injeksi likuiditas atau quantitative easing (QE) lebih dari  Rp670 triliun, atau setara 4% dari PDB,&quot; tutur Perry.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa likuiditas di perbankan  lebih dari cukup dalam mendorong pemulihan ekonomi. Strategi kebijakan  makro yang pruden juga ditempuh untuk penyaluran kredit dan pembiayaan  untuk dunia usaha.
&quot;BI mendukung dan berpartisipasi dalam pembiayaan dan burden sharing  APBN 2020 melalui kesepakatan antara Kemenkeu dan saya sebagai Gubernur  BI dengan pendanaan dan beban ditanggung BI, sehingga pemerintah bisa  berfokus mempercepat realisasi anggaran PEN,&quot; pungkas Perry.</description><content:encoded>JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan optimismenya terkait kondisi perekonomian Indonesia. Dirinya meyakini perbaikan ekonomi Indonesia akan terus berlanjut.
&quot;Insya Allah pertumbuhan ekonomi akan positif di kuartal IV 2020, dan meningkat menjadi 5% di 2021, naik ke 6% dalam 5 tahun mendatang,&quot; ujar Perry dalam West Java Investment Summit secara virtual di Jakarta, Senin (16/11/2020).
Baca Juga: Ini 10 Orang Terkaya di China Era Covid-19
Hal ini, kata dia, didukung oleh perbaikan konsumsi, ekspor, dan investasi. Ditambah lagi, stabilitas ekonomi makro dan keuangan juga terjaga.
&quot;Nilai tukar Rupiah stabil dan cenderung menguat. Inflasi rendah, defisit transaksi berjalan menurun, dan sistem perbankan secara keseluruhan sehat,&quot; ungkapnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNi82Ny8xMjQyMDAvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Perry juga menyampaikan bahwa sinergi koordinasi kebijakan ekonomi nasional sangat kuat dan erat antara pemerintah, BI, OJK, maupun berbagai instansi dan lembaga. Pemerintah sendiri sudah memberikan stimulus fiskal dalam jumlah besar untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional (PEN) dari dampak pandemi Covid-19.
&quot;Dengan defisit fiskal 6,3% di tahun 2020 dan 5,7% di tahun 2021. Sebagian besar anggaran pengeluaran untuk kesehatan, bansos, dan program PEN termasuk mendorong UMKM dan pulihnya investasi,&quot; tandasnya.Dia menyampaikan, BI telah memberikan stimulus moneter yang besar.  Komitmen BI juga sangat tinggi untuk menjaga stabilitas nilai tukar  Rupiah agar terus kondusif untuk pemulihan ekonomi.
&quot;Suku bunga kami turunkan 1%, menjadi 4% tahun ini. Kami juga  melakukan injeksi likuiditas atau quantitative easing (QE) lebih dari  Rp670 triliun, atau setara 4% dari PDB,&quot; tutur Perry.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa likuiditas di perbankan  lebih dari cukup dalam mendorong pemulihan ekonomi. Strategi kebijakan  makro yang pruden juga ditempuh untuk penyaluran kredit dan pembiayaan  untuk dunia usaha.
&quot;BI mendukung dan berpartisipasi dalam pembiayaan dan burden sharing  APBN 2020 melalui kesepakatan antara Kemenkeu dan saya sebagai Gubernur  BI dengan pendanaan dan beban ditanggung BI, sehingga pemerintah bisa  berfokus mempercepat realisasi anggaran PEN,&quot; pungkas Perry.</content:encoded></item></channel></rss>
