<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengadaan Barang Lamban, Jokowi Siapkan Teknologi Alarm Pengingat</title><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka Rakornas Pengadaan Barang dan Jasa 2020</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/18/320/2311578/pengadaan-barang-lamban-jokowi-siapkan-teknologi-alarm-pengingat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/18/320/2311578/pengadaan-barang-lamban-jokowi-siapkan-teknologi-alarm-pengingat"/><item><title>Pengadaan Barang Lamban, Jokowi Siapkan Teknologi Alarm Pengingat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/18/320/2311578/pengadaan-barang-lamban-jokowi-siapkan-teknologi-alarm-pengingat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/18/320/2311578/pengadaan-barang-lamban-jokowi-siapkan-teknologi-alarm-pengingat</guid><pubDate>Rabu 18 November 2020 12:30 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/18/320/2311578/pengadaan-barang-lamban-jokowi-siapkan-teknologi-alarm-pengingat-3IH8zD8Pcl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Joko Widodo. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/18/320/2311578/pengadaan-barang-lamban-jokowi-siapkan-teknologi-alarm-pengingat-3IH8zD8Pcl.jpg</image><title>Presiden Joko Widodo. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka Rakornas Pengadaan Barang dan Jasa 2020. Kepala Negara pun menyoroti beberapa masalah terkait realisasi anggaran dan hambatan-hambatannya.
Dia mengatakan, untuk sistem pengadaan barang dan jasa, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) harus berani melakukan banyak terobosan dengan memanfaatkan teknologi modern. Terobosan ini diperlukan untuk memonitor transaksi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah (pemda) secara real time.
Baca Juga:&amp;nbsp;Sindir Proses Pengadaan Barang dan Jasa yang Lamban, Jokowi: Ngerjainnya Kapan?
&quot;Dengan bantuan teknologi terkini, kita bisa memonitor real time transaksi mereka, apakah sudah terserap 100% dari total belanja pengadaan atau belum, sehingga mereka bisa diberi alarm peringatan,&quot; ujar Jokowi secara virtual di Jakarta, Rabu (18/11/2020).
Selain itu, lanjut dia, dengan berpijak pada data tersebut, para menteri, kepala lembaga, dan pemda bisa diberi alarm untuk melakukan langkah percepatan. Terlebih, karena situasi pandemi Covid-19, pengadaan adalah aspek yang sangat penting.
Baca Juga:&amp;nbsp;Buka Rakornas Pengadaan Barang, Jokowi: Kita Harus Turunkan Defisit Neraca Dagang
&quot;Alarm peringatan perlu, karena masih banyak yang bekerja dengan cara lama. Bahkan kondisi darurat masih saja bekerja dengan biasa-biasa saja, belum berganti ke channel yang extraordinary,&quot; tambah Jokowi.Dia juga menyoroti kinerja mereka yang belum mengubah SOP-nya dari normal menjadi SOP yang penuh terobosan. Hal ini yang menyebabkan realisasi anggaran menjadi terlambat.
&quot;Ini contohnya konstruksi, per November baru Rp40 triliun. Kalau misal jadi, barangnya kayak apa? Kalau bangunan ya ambruk, jembatan ambruk. Jangan sampai semuanya diulang-ulang, malah numpuk di akhir tahun,&quot; pungkasnya.
Sementara itu,&amp;nbsp;Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) mencatat pengadaan barang dan jasa tahun ini belum mencapai 50%. Hal ini diungkapkan dalam acara peresmian pembukaan Rakornas Pengadaan Barang dan Jasa pemerintah.
&quot;Dari total nilai barang dan jasa 2020 sebesar Rp1.027 triliun, namun harus kami laporkan bahwa realisasinya sampai 9 November 2020 kurang dari 50%,&quot; ujar, Kepala LKPP, Roni Dwi Susanto.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka Rakornas Pengadaan Barang dan Jasa 2020. Kepala Negara pun menyoroti beberapa masalah terkait realisasi anggaran dan hambatan-hambatannya.
Dia mengatakan, untuk sistem pengadaan barang dan jasa, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) harus berani melakukan banyak terobosan dengan memanfaatkan teknologi modern. Terobosan ini diperlukan untuk memonitor transaksi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah (pemda) secara real time.
Baca Juga:&amp;nbsp;Sindir Proses Pengadaan Barang dan Jasa yang Lamban, Jokowi: Ngerjainnya Kapan?
&quot;Dengan bantuan teknologi terkini, kita bisa memonitor real time transaksi mereka, apakah sudah terserap 100% dari total belanja pengadaan atau belum, sehingga mereka bisa diberi alarm peringatan,&quot; ujar Jokowi secara virtual di Jakarta, Rabu (18/11/2020).
Selain itu, lanjut dia, dengan berpijak pada data tersebut, para menteri, kepala lembaga, dan pemda bisa diberi alarm untuk melakukan langkah percepatan. Terlebih, karena situasi pandemi Covid-19, pengadaan adalah aspek yang sangat penting.
Baca Juga:&amp;nbsp;Buka Rakornas Pengadaan Barang, Jokowi: Kita Harus Turunkan Defisit Neraca Dagang
&quot;Alarm peringatan perlu, karena masih banyak yang bekerja dengan cara lama. Bahkan kondisi darurat masih saja bekerja dengan biasa-biasa saja, belum berganti ke channel yang extraordinary,&quot; tambah Jokowi.Dia juga menyoroti kinerja mereka yang belum mengubah SOP-nya dari normal menjadi SOP yang penuh terobosan. Hal ini yang menyebabkan realisasi anggaran menjadi terlambat.
&quot;Ini contohnya konstruksi, per November baru Rp40 triliun. Kalau misal jadi, barangnya kayak apa? Kalau bangunan ya ambruk, jembatan ambruk. Jangan sampai semuanya diulang-ulang, malah numpuk di akhir tahun,&quot; pungkasnya.
Sementara itu,&amp;nbsp;Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) mencatat pengadaan barang dan jasa tahun ini belum mencapai 50%. Hal ini diungkapkan dalam acara peresmian pembukaan Rakornas Pengadaan Barang dan Jasa pemerintah.
&quot;Dari total nilai barang dan jasa 2020 sebesar Rp1.027 triliun, namun harus kami laporkan bahwa realisasinya sampai 9 November 2020 kurang dari 50%,&quot; ujar, Kepala LKPP, Roni Dwi Susanto.</content:encoded></item></channel></rss>
