<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Kritik Pedas Budaya dan Sistem Kerja Patriarki</title><description>Akibat budaya patriarkis yang kental, lingkungan kerja di Indonesia menempatkan perempuan sebagai minoritas.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/18/320/2311935/sri-mulyani-kritik-pedas-budaya-dan-sistem-kerja-patriarki</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/18/320/2311935/sri-mulyani-kritik-pedas-budaya-dan-sistem-kerja-patriarki"/><item><title>Sri Mulyani Kritik Pedas Budaya dan Sistem Kerja Patriarki</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/18/320/2311935/sri-mulyani-kritik-pedas-budaya-dan-sistem-kerja-patriarki</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/18/320/2311935/sri-mulyani-kritik-pedas-budaya-dan-sistem-kerja-patriarki</guid><pubDate>Rabu 18 November 2020 19:51 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/18/320/2311935/sri-mulyani-kritik-pedas-budaya-dan-sistem-kerja-patriarki-i62hWXvjHm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Karyawan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/18/320/2311935/sri-mulyani-kritik-pedas-budaya-dan-sistem-kerja-patriarki-i62hWXvjHm.jpg</image><title>Karyawan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa akibat budaya patriarkis yang kental, lingkungan kerja di Indonesia menempatkan perempuan sebagai minoritas. Tak hanya itu, pekerja perempuan juga mendapat upah yang lebih rendah.
Hal ini dinilai menghambat agenda pemerintah terkait kesetaraan gender dan inklusivitas.
Baca Juga: Sri Mulyani Tak Bisa Memilih, Kesehatan dan Ekonomi Sama-Sama Penting
 
&quot;Ada konsekuensi apabila kita tidak meng-address isu kesetaraan gender. Kita juga harus lihat dari sisi tata kelola, banyak perusahaan itu perusahaan keluarga,&quot; ujar Sri dalam webinar di Jakarta, Rabu (18/11/2020).
Perusahaan seperti ini, jika dijalankan oleh laki-laki, dia akan menganggapnya taken for granted, bahwa posisi default jatuh ke laki-laki. Kalau perempuan, kinerja mereka akan dilihat dan diamati dengan lebih kritis.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xMy80LzEyMzM0Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Praktik-praktik semacam ini membuat susah. Kita selalu menganggap laki-laki selalu kompeten, sementara perempuan harus selalu membuktikan diri mereka untuk bisa diterima,&quot; tandas Sri.
Terlebih jika membayangkan terkait resource perusahaan. Hal ini berarti pekerja perempuan harus bekerja dua kali lipat untuk mendapatkan acceptance atau diterima oleh lingkungan kerjanya.
&quot;Ini memberikan hambatan dalam resources. Andaikan tidak seperti itu,  dia bisa berkontribusi terhadap perusahaan tanpa merasa terhalang,&quot;  tekannya.
Sri mengatakan bahwa perlu dilakukan advokasi, karena banyak  laki-laki yang tidak sadar bahwa tindakan memberi standar yang berbeda  justru tidak menguntungkan.
&quot;Banyak diantara mereka tidak punya sensitivitas terhadap aspek  gender karena mereka dibesarkan dengan pandangan perempuan harus  diperlakukan seperti itu. PR nya adalah edukasi dini, dan lebih dalam  dan meluas soal kesetaraan gender,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa akibat budaya patriarkis yang kental, lingkungan kerja di Indonesia menempatkan perempuan sebagai minoritas. Tak hanya itu, pekerja perempuan juga mendapat upah yang lebih rendah.
Hal ini dinilai menghambat agenda pemerintah terkait kesetaraan gender dan inklusivitas.
Baca Juga: Sri Mulyani Tak Bisa Memilih, Kesehatan dan Ekonomi Sama-Sama Penting
 
&quot;Ada konsekuensi apabila kita tidak meng-address isu kesetaraan gender. Kita juga harus lihat dari sisi tata kelola, banyak perusahaan itu perusahaan keluarga,&quot; ujar Sri dalam webinar di Jakarta, Rabu (18/11/2020).
Perusahaan seperti ini, jika dijalankan oleh laki-laki, dia akan menganggapnya taken for granted, bahwa posisi default jatuh ke laki-laki. Kalau perempuan, kinerja mereka akan dilihat dan diamati dengan lebih kritis.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xMy80LzEyMzM0Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Praktik-praktik semacam ini membuat susah. Kita selalu menganggap laki-laki selalu kompeten, sementara perempuan harus selalu membuktikan diri mereka untuk bisa diterima,&quot; tandas Sri.
Terlebih jika membayangkan terkait resource perusahaan. Hal ini berarti pekerja perempuan harus bekerja dua kali lipat untuk mendapatkan acceptance atau diterima oleh lingkungan kerjanya.
&quot;Ini memberikan hambatan dalam resources. Andaikan tidak seperti itu,  dia bisa berkontribusi terhadap perusahaan tanpa merasa terhalang,&quot;  tekannya.
Sri mengatakan bahwa perlu dilakukan advokasi, karena banyak  laki-laki yang tidak sadar bahwa tindakan memberi standar yang berbeda  justru tidak menguntungkan.
&quot;Banyak diantara mereka tidak punya sensitivitas terhadap aspek  gender karena mereka dibesarkan dengan pandangan perempuan harus  diperlakukan seperti itu. PR nya adalah edukasi dini, dan lebih dalam  dan meluas soal kesetaraan gender,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
