<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>2021 Jadi Peluang Perbaikan Ekonomi RI</title><description>Tahun 2021 merupakan tahun krusial yang amat diharapkan oleh masyarakat Indonesia untuk menjadi tahun pemulihan ekonomi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/21/320/2313580/2021-jadi-peluang-perbaikan-ekonomi-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/21/320/2313580/2021-jadi-peluang-perbaikan-ekonomi-ri"/><item><title>2021 Jadi Peluang Perbaikan Ekonomi RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/21/320/2313580/2021-jadi-peluang-perbaikan-ekonomi-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/21/320/2313580/2021-jadi-peluang-perbaikan-ekonomi-ri</guid><pubDate>Sabtu 21 November 2020 13:31 WIB</pubDate><dc:creator>Kunthi Fahmar Shandy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/21/320/2313580/2021-jadi-peluang-perbaikan-ekonomi-ri-qeBVsjo3QA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/21/320/2313580/2021-jadi-peluang-perbaikan-ekonomi-ri-qeBVsjo3QA.jpg</image><title>Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Tahun 2021 merupakan tahun krusial yang amat diharapkan oleh masyarakat Indonesia untuk menjadi tahun pemulihan ekonomi. Apalagi pasca keterpurukan akibat serangan pandemi Covid-19 pada 2020.

CORE Indonesia melihat peluang besar bagi ekonomi Indonesia untuk membalikkan kondisi resesi pada tahun ini menjadi tumbuh positif pada kisaran 3-6% pada tahun 2021.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Sri Mulyani Beberkan Cara RI Keluar dari Middle Income Trap
&quot;Lebarnya rentang potensi pertumbuhan ini tidak terlepas dari kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi sejauh mana ekspansi ekonomi Indonesia akan terjadi pada tahun depan,&quot; kata Ekonom senior dan pendiri CORE Indonesia Hendri Saparini, Jakarta, Sabtu (21/11/2020).

Kondisi tersebut sangatlah berbeda dengan pola pergerakan ekonomi pra-pandemi yang relatif lebih stabil. Menurut dia, ada sejumlah faktor penting yang akan mempengaruhi tingkat pemulihan ekonomi pada 2021 dan juga tahun-tahun berikutnya, yaitu tren perkembangan pandemi Covid-19, adaptabilitas masyarakat dalam menghadapi pandemi, kecepatan penemuan dan pendistribusian vaksin, efektivitas implementasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), serta ada tidaknya terobosan kebijakan yang mendorong reformasi dan transformasi ekonomi untuk pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Tak Cuma Lawan Covid-19, Sri Mulyani: Kita Harus Bangun Indonesia
Pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya akan mencapai batas bawah tiga persen pada tahun depan apabila terjadi kondisi sebagai berikut. Pertama, tingkat penularan wabah Covid-19 yang mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan menjelang akhir 2020 kembali meningkat pada tahun 2021 (second wave).&quot;Kedua, proses distribusi vaksinCovid-19 berjalan lamban dan belum  dapat diakses secara masal hingga semester kedua 2021,&quot; ungkap dia.  Ketiga, tingkat keyakinan masyarakat kalangan menengah dan atas untuk  berbelanja belum sepenuhnya pulih yang menyebabkan masih terbatasnya  ekspansi sejumlah sektor ekonomi.

Keempat, respons kebijakan pemerintah terutama program Pemulihan  Ekonomi Nasional (PEN) berjalan lamban dan kurang efektif. Namun, lanjut  dia, ekspansi ekonomi tahun depan berpotensi lebih cepat hingga  mencapai enam persen apabila beberapa asumsi berikut terpenuhi.

Pertama, penularan wabah Covid-19 secara konsisten mereda pada 2021.  Kedua, pendistribusian vaksin Covid-19 berjalan lancar dan dapat diakses  secara masal pada semester kedua 2021. Ketiga, masyarakat semakin dapat  beradaptasi terhadap pandemi dan tingkat keyakinan masyarakat kalangan  menengah atas untuk berbelanja pulih dengan cepat.

Kondisi tersebut juga didukung oleh respons kebijakan pemerintah yang  cepat dan efektif, tidak hanya terbatas pada yang bersifat jangka  pendek, tetapi juga terobosan kebijakan yang mendorong reformasi dan  transformasi ekonomi untuk pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan.</description><content:encoded>JAKARTA - Tahun 2021 merupakan tahun krusial yang amat diharapkan oleh masyarakat Indonesia untuk menjadi tahun pemulihan ekonomi. Apalagi pasca keterpurukan akibat serangan pandemi Covid-19 pada 2020.

CORE Indonesia melihat peluang besar bagi ekonomi Indonesia untuk membalikkan kondisi resesi pada tahun ini menjadi tumbuh positif pada kisaran 3-6% pada tahun 2021.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Sri Mulyani Beberkan Cara RI Keluar dari Middle Income Trap
&quot;Lebarnya rentang potensi pertumbuhan ini tidak terlepas dari kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi sejauh mana ekspansi ekonomi Indonesia akan terjadi pada tahun depan,&quot; kata Ekonom senior dan pendiri CORE Indonesia Hendri Saparini, Jakarta, Sabtu (21/11/2020).

Kondisi tersebut sangatlah berbeda dengan pola pergerakan ekonomi pra-pandemi yang relatif lebih stabil. Menurut dia, ada sejumlah faktor penting yang akan mempengaruhi tingkat pemulihan ekonomi pada 2021 dan juga tahun-tahun berikutnya, yaitu tren perkembangan pandemi Covid-19, adaptabilitas masyarakat dalam menghadapi pandemi, kecepatan penemuan dan pendistribusian vaksin, efektivitas implementasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), serta ada tidaknya terobosan kebijakan yang mendorong reformasi dan transformasi ekonomi untuk pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Tak Cuma Lawan Covid-19, Sri Mulyani: Kita Harus Bangun Indonesia
Pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya akan mencapai batas bawah tiga persen pada tahun depan apabila terjadi kondisi sebagai berikut. Pertama, tingkat penularan wabah Covid-19 yang mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan menjelang akhir 2020 kembali meningkat pada tahun 2021 (second wave).&quot;Kedua, proses distribusi vaksinCovid-19 berjalan lamban dan belum  dapat diakses secara masal hingga semester kedua 2021,&quot; ungkap dia.  Ketiga, tingkat keyakinan masyarakat kalangan menengah dan atas untuk  berbelanja belum sepenuhnya pulih yang menyebabkan masih terbatasnya  ekspansi sejumlah sektor ekonomi.

Keempat, respons kebijakan pemerintah terutama program Pemulihan  Ekonomi Nasional (PEN) berjalan lamban dan kurang efektif. Namun, lanjut  dia, ekspansi ekonomi tahun depan berpotensi lebih cepat hingga  mencapai enam persen apabila beberapa asumsi berikut terpenuhi.

Pertama, penularan wabah Covid-19 secara konsisten mereda pada 2021.  Kedua, pendistribusian vaksin Covid-19 berjalan lancar dan dapat diakses  secara masal pada semester kedua 2021. Ketiga, masyarakat semakin dapat  beradaptasi terhadap pandemi dan tingkat keyakinan masyarakat kalangan  menengah atas untuk berbelanja pulih dengan cepat.

Kondisi tersebut juga didukung oleh respons kebijakan pemerintah yang  cepat dan efektif, tidak hanya terbatas pada yang bersifat jangka  pendek, tetapi juga terobosan kebijakan yang mendorong reformasi dan  transformasi ekonomi untuk pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan.</content:encoded></item></channel></rss>
