<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI Direset Pasca-Pandemi Corona</title><description>Pemerintah terus berupaya memulihkan ekonomi akibat pandemi virus corona</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/23/320/2314725/ekonomi-ri-direset-pasca-pandemi-corona</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/23/320/2314725/ekonomi-ri-direset-pasca-pandemi-corona"/><item><title>Ekonomi RI Direset Pasca-Pandemi Corona</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/23/320/2314725/ekonomi-ri-direset-pasca-pandemi-corona</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/23/320/2314725/ekonomi-ri-direset-pasca-pandemi-corona</guid><pubDate>Senin 23 November 2020 18:36 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/23/320/2314725/ekonomi-ri-direset-pasca-pandemi-corona-Wyc44r1MAL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pasca-Pandemi Ekonomi RI Bakal Direset Ulang. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/23/320/2314725/ekonomi-ri-direset-pasca-pandemi-corona-Wyc44r1MAL.jpg</image><title>Pasca-Pandemi Ekonomi RI Bakal Direset Ulang. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah terus berupaya memulihkan ekonomi akibat pandemi virus corona.  Pandemi pun dijadikan moment ekonomi Indonesia akan tumbuh berkelanjutan ke depannya.
Pemulihan ekonomi pasca-pandemi Covid-19 mengharuskan negara melakukan great reset, yang mengedepankan keberlanjutan.
Baca Juga:&amp;nbsp;Strategi Gas dan Rem Mulai Kelihatan Hasilnya, Jokowi: Ekonomi Membaik
Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Amalia Adininggar Wisyasari mengatakan, Covid-19 memberi pelajaran bahwa  pemulihan harus dilaksanakan secara bersama dan inklusif, mengedepankan aspek sosial dan lingkungan yang selaras dengan prinsip pelaksanaan SDGs.
&amp;ldquo;Great reset itu sudah akan kita mulai lakukan di tahun 2021, dengan tagline pembangunan kita adalah bagaimana kita bisa bersama-sama mempercepat pemulihan ekonomi dan sekaligus secara bersamaan melakukan reformasi sosial,&amp;rdquo; kata Amalia, Jakarta, Senin (23/11/2020).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNi82Ny8xMjQyMDAvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Amalia menekankan pentingnya prinsip inklusif dan berkelanjutan sudah disadari sejak sebelum pandemi dan sudah tercantum jelas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2020-2024.
&amp;ldquo;Kami butuh dukungan dan support dari masyarakat,  maupun para pebisnis, dan industialis dan  seluruh komponen masyarakat sehingga kita bisa berkerja bersama-sama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan&amp;rdquo; tambahnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Cara Pulihkan dan Bangkitkan Ekonomi Pasca-Pandemi
Saat ini, kata Amalia, Indonesia tengah menerapkan strategi  menuju pertumbuhan ekonomi hijau, yang dilakukan antara lain dengan mengembangkan rencana aksi strategis nasional dan sub-nasional untuk perubahan iklim. Selanjutnya sejumlah kabupaten kota  juga menyusun strategi yang mengintegrasikan  pembangunan ekonomi dan konservasi lingkungan.  Berikutnya dilakukan perencanaan penganggaran hijau dan replikasi scaling up menuju program percontohan.
&amp;ldquo;Kita juga mempunyai beberapa pilot project dan mungkin nanti program-program percontohan ini akan di-scale up dan direplikasi ke tempat lain,&amp;rdquo; tambahnyaSementara itu, President of Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) Shinta Kamdani mengatakan, pandemi telah menjadi alarm bagi semua pihak termasuk sektor swasta untuk bertransformasi yang selaras dengan SDGs.
&amp;ldquo;Jadi kami melihat ini sebagai wake up call, dan bagaimana kami sekarang bisa mengakselarsikan. Karena jelas kepentingannya untuk sustainable bisnis,&amp;rdquo; kata Shinta.
Bagi sektor swasta, bukan lagi sebuah opsi tapi menjadi kewajiban untuk menjadi bagian dalam pembangunan berkelanjutan bersama pemerintah dan masyarakat. &amp;ldquo;Dalam RPJMN swasta dilibatkan, dalam perencanaan maupun action-nya,&amp;rdquo; kata Shinta. Tren ini menurutnya juga terjadi secara global.
Shinta mengingatkan bahwa untuk mencapai SDGs hingga 2030 dibutuhkan investasi Rp10.397 triliun. &amp;ldquo;Jadi kalau hanya bertumpu pada ABPN tidak mungkin, gap-nya ada sekitar Rp2.867 triliun untuk bisa mencapai SDGs, kesenjangan pembiayaan ini ada pada infrastruktur, perubahan iklim, keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, pendidikan, dan kesehatan,&amp;rdquo; tambahnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah terus berupaya memulihkan ekonomi akibat pandemi virus corona.  Pandemi pun dijadikan moment ekonomi Indonesia akan tumbuh berkelanjutan ke depannya.
Pemulihan ekonomi pasca-pandemi Covid-19 mengharuskan negara melakukan great reset, yang mengedepankan keberlanjutan.
Baca Juga:&amp;nbsp;Strategi Gas dan Rem Mulai Kelihatan Hasilnya, Jokowi: Ekonomi Membaik
Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Amalia Adininggar Wisyasari mengatakan, Covid-19 memberi pelajaran bahwa  pemulihan harus dilaksanakan secara bersama dan inklusif, mengedepankan aspek sosial dan lingkungan yang selaras dengan prinsip pelaksanaan SDGs.
&amp;ldquo;Great reset itu sudah akan kita mulai lakukan di tahun 2021, dengan tagline pembangunan kita adalah bagaimana kita bisa bersama-sama mempercepat pemulihan ekonomi dan sekaligus secara bersamaan melakukan reformasi sosial,&amp;rdquo; kata Amalia, Jakarta, Senin (23/11/2020).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNi82Ny8xMjQyMDAvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Amalia menekankan pentingnya prinsip inklusif dan berkelanjutan sudah disadari sejak sebelum pandemi dan sudah tercantum jelas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2020-2024.
&amp;ldquo;Kami butuh dukungan dan support dari masyarakat,  maupun para pebisnis, dan industialis dan  seluruh komponen masyarakat sehingga kita bisa berkerja bersama-sama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan&amp;rdquo; tambahnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Cara Pulihkan dan Bangkitkan Ekonomi Pasca-Pandemi
Saat ini, kata Amalia, Indonesia tengah menerapkan strategi  menuju pertumbuhan ekonomi hijau, yang dilakukan antara lain dengan mengembangkan rencana aksi strategis nasional dan sub-nasional untuk perubahan iklim. Selanjutnya sejumlah kabupaten kota  juga menyusun strategi yang mengintegrasikan  pembangunan ekonomi dan konservasi lingkungan.  Berikutnya dilakukan perencanaan penganggaran hijau dan replikasi scaling up menuju program percontohan.
&amp;ldquo;Kita juga mempunyai beberapa pilot project dan mungkin nanti program-program percontohan ini akan di-scale up dan direplikasi ke tempat lain,&amp;rdquo; tambahnyaSementara itu, President of Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) Shinta Kamdani mengatakan, pandemi telah menjadi alarm bagi semua pihak termasuk sektor swasta untuk bertransformasi yang selaras dengan SDGs.
&amp;ldquo;Jadi kami melihat ini sebagai wake up call, dan bagaimana kami sekarang bisa mengakselarsikan. Karena jelas kepentingannya untuk sustainable bisnis,&amp;rdquo; kata Shinta.
Bagi sektor swasta, bukan lagi sebuah opsi tapi menjadi kewajiban untuk menjadi bagian dalam pembangunan berkelanjutan bersama pemerintah dan masyarakat. &amp;ldquo;Dalam RPJMN swasta dilibatkan, dalam perencanaan maupun action-nya,&amp;rdquo; kata Shinta. Tren ini menurutnya juga terjadi secara global.
Shinta mengingatkan bahwa untuk mencapai SDGs hingga 2030 dibutuhkan investasi Rp10.397 triliun. &amp;ldquo;Jadi kalau hanya bertumpu pada ABPN tidak mungkin, gap-nya ada sekitar Rp2.867 triliun untuk bisa mencapai SDGs, kesenjangan pembiayaan ini ada pada infrastruktur, perubahan iklim, keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, pendidikan, dan kesehatan,&amp;rdquo; tambahnya.</content:encoded></item></channel></rss>
