<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jadi Petani Milenial, Ini Keuntungan dan Tantangannya</title><description>Kaum milenial yang memilih profesi menjadi petani di Indonesia tentu masih bisa dihitung menggunakan jari.&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/23/455/2314738/jadi-petani-milenial-ini-keuntungan-dan-tantangannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/23/455/2314738/jadi-petani-milenial-ini-keuntungan-dan-tantangannya"/><item><title>Jadi Petani Milenial, Ini Keuntungan dan Tantangannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/23/455/2314738/jadi-petani-milenial-ini-keuntungan-dan-tantangannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/23/455/2314738/jadi-petani-milenial-ini-keuntungan-dan-tantangannya</guid><pubDate>Senin 23 November 2020 20:05 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/23/455/2314738/jadi-petani-milenial-ini-keuntungan-dan-tantangannya-4DFJTK4qdO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Petani Milenial (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/23/455/2314738/jadi-petani-milenial-ini-keuntungan-dan-tantangannya-4DFJTK4qdO.jpg</image><title>Petani Milenial (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kaum milenial yang memilih profesi menjadi petani di  Indonesia tentu masih bisa dihitung menggunakan jari. Pasalnya, mereka  masih menilai kalau pekerjaan tersebut belum bisa menghasilkan  pundi-pundi rupiah yang signifikan.

Ketua Duta Petani Milenial Sandi Octa Susila menyebut bila ada orang  yang masih menganggap sektor pertanian tak menghasilkan uang yang banyak  adalah pemikiran yang keliru. Sebab, dirinya selama lima tahun  berkecimpung di bidang tersebut, pekerjaan itu bonafid dan  menguntungkan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Jokowi Tagih Komitmen Pengusaha Dampingi 2 Juta Petani Swadaya
&amp;ldquo;Kalau enggka ada uangnya, saya ke sektor lain. Saya rasakan betul  usaha yang saya jalankan memang kurang lebih udah 5 tahun,&amp;rdquo; kata Sandi  di Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (23/11/2020).

Dia mengisahkan awal mula dirinya memutuskan menjadi wirausahawan di  sektor pertanian. Kala itu, dirinya hanya memiliki 5 hingga 15 petani.  Namun, kini karena sudah semakin berkembang, sudah ada 385 petani yang  bergabung untuk mengelola lahan sebesar 98 hektare.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Proyek Korporasi Petani Berbasis Koperasi Ditargetkan Beroperasi Maret 2021
&amp;ldquo;Alhamdulillah sekarang saya punya 385 petani. Karena kita memang ada  beberapa aspek kerjasama. ada 98 hektare yang kita kelola lahan  tersebut. Yang mengelola para petani,&amp;rdquo; ujarnya.Dia menyebut membangun bisnis pertanian memang sulit ketika di awal.  Apalagi saat mengkonsolidasikan para petani di desanya yang seluruhnya  berusia tua.

Menurut Sandi, penggunaan teknologi digital tidak bisa digunakan oleh  generasi petani tua saat ini. Ia mengaku telah berulang kali melatih  petani namun tetap tidak bisa diadaptasi.

&amp;ldquo;Kalau dulu saya ke lahan 8 hektare harus keliling melihat situasi,  saat ini dalam satu dashboard, semua terdata citra satelit yang  melaporkan semua melalui petugas lapangan,&amp;rdquo; kata dia.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kaum milenial yang memilih profesi menjadi petani di  Indonesia tentu masih bisa dihitung menggunakan jari. Pasalnya, mereka  masih menilai kalau pekerjaan tersebut belum bisa menghasilkan  pundi-pundi rupiah yang signifikan.

Ketua Duta Petani Milenial Sandi Octa Susila menyebut bila ada orang  yang masih menganggap sektor pertanian tak menghasilkan uang yang banyak  adalah pemikiran yang keliru. Sebab, dirinya selama lima tahun  berkecimpung di bidang tersebut, pekerjaan itu bonafid dan  menguntungkan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Jokowi Tagih Komitmen Pengusaha Dampingi 2 Juta Petani Swadaya
&amp;ldquo;Kalau enggka ada uangnya, saya ke sektor lain. Saya rasakan betul  usaha yang saya jalankan memang kurang lebih udah 5 tahun,&amp;rdquo; kata Sandi  di Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (23/11/2020).

Dia mengisahkan awal mula dirinya memutuskan menjadi wirausahawan di  sektor pertanian. Kala itu, dirinya hanya memiliki 5 hingga 15 petani.  Namun, kini karena sudah semakin berkembang, sudah ada 385 petani yang  bergabung untuk mengelola lahan sebesar 98 hektare.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Proyek Korporasi Petani Berbasis Koperasi Ditargetkan Beroperasi Maret 2021
&amp;ldquo;Alhamdulillah sekarang saya punya 385 petani. Karena kita memang ada  beberapa aspek kerjasama. ada 98 hektare yang kita kelola lahan  tersebut. Yang mengelola para petani,&amp;rdquo; ujarnya.Dia menyebut membangun bisnis pertanian memang sulit ketika di awal.  Apalagi saat mengkonsolidasikan para petani di desanya yang seluruhnya  berusia tua.

Menurut Sandi, penggunaan teknologi digital tidak bisa digunakan oleh  generasi petani tua saat ini. Ia mengaku telah berulang kali melatih  petani namun tetap tidak bisa diadaptasi.

&amp;ldquo;Kalau dulu saya ke lahan 8 hektare harus keliling melihat situasi,  saat ini dalam satu dashboard, semua terdata citra satelit yang  melaporkan semua melalui petugas lapangan,&amp;rdquo; kata dia.</content:encoded></item></channel></rss>
