<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Portofolio BI di Sektor Keberlanjutan Capai USD894 Juta</title><description>Pemanasan global terus terakselerasi sejak 1960 dan diprakirakan dampaknya akan semakin intensif.&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/25/278/2315822/portofolio-bi-di-sektor-keberlanjutan-capai-usd894-juta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/25/278/2315822/portofolio-bi-di-sektor-keberlanjutan-capai-usd894-juta"/><item><title>Portofolio BI di Sektor Keberlanjutan Capai USD894 Juta</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/25/278/2315822/portofolio-bi-di-sektor-keberlanjutan-capai-usd894-juta</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/25/278/2315822/portofolio-bi-di-sektor-keberlanjutan-capai-usd894-juta</guid><pubDate>Rabu 25 November 2020 12:43 WIB</pubDate><dc:creator>Kunthi Fahmar Shandy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/25/278/2315822/portofolio-bi-di-sektor-keberlanjutan-capai-usd894-juta-CeRmLETOT5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BI (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/25/278/2315822/portofolio-bi-di-sektor-keberlanjutan-capai-usd894-juta-CeRmLETOT5.jpg</image><title>BI (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pemanasan global terus terakselerasi sejak 1960 dan  diprakirakan dampaknya akan semakin intensif. Pemanasan global  menimbulkan tantangan nyata seperti cuaca ekstrim, ancaman krisis air  bersih, kebakaran hutan dan gangguan lingkungan lainnya.

Dampaknya mengancam seluruh level masyarakat tanpa terkecuali, dari  individu dan rumah tangga hingga dunia usaha bahkan para pembuat  kebijakan.

&amp;nbsp;Baca juga: Kemenkeu Jual Obligasi Langsung ke BI, Ini Caranya 
Salah satu upaya otoritas untuk menjawab tantangan tersebut adalah  melalui kerjasama dalam bentuk NGFS atau The Network of Central Banks  and Supervisors for Greening the Financial System yang terdiri dari 69  bank sentral, termasuk Bank Indonesia.

Misi dari NGFS adalah untuk berkontribusi mendorong sustainable  economy dan juga untuk memitigasi dampak dari environmental and climate  risk terhadap sektor keuangan.

&amp;nbsp;Baca juga:4 Obligasi Rp2,41 Triliun Listing di BEI, Ini Daftarnya
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan sebagai  otoritas moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran,  BI juga telah  Indonesia telah mengadopsi Sustainable and Responsible Investment (SRI)  dalam pengelolaan devisa.

&quot;Saat ini, Bank Indonesia juga telah memiliki Portofolio di sektor  berkelanjutan (sustainable sectors) sebesar USD894 juta dan menggunakan  sustainable SUKUK sebagai underlying SUKBI,&quot; katanya, Jakarta, Rabu  (25/11/2020).

Selain itu, Bank Indonesia juga menggunakan instrumen berwawasan lingkungan green bond dan green SUKUK dalam operasi moneter.

Adapu di sisi kebijakan makroprudensial, Bank Indonesia telah  memberikan insentif kepada pembiayaan bagi properti dan kendaraan yang  bermotor berwawasan lingkungan, berupa pelonggaran kebijakan rasio  loan-to-value atau financing-to-value kredit/pembiayaan properti, serta  uang muka kredit/pembiayaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Sedangkan di sisi kebijakan sistem pembayaran, langkah Bank Indonesia  mendorong percepatan ekonomi keuangan digital berkontribusi terhadap  keberlangsungan lingkungan, salah satunya tercermin dari berkurangnya  pemakaian kertas dalam transaksi dan operasional perbankan.Menurut Destry, berbagai instrumen investasi pun semakin beragam dan   terus berkembang, baik secara jenis maupun dari sisi jumlah.  Berdasarkan  informasi dari IMF, total investasi di pasar keuangan  berbasis  sustainable investment telah naik dari USD300 miliar di tahun  2010  menjadi USD850 miliar di tahun 2019.

Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan   meningkatnya awareness atas dampak terhadap lingkungan dan juga tingkat   suku bunga global yang masih akan rendah. &quot;Hal ini akan mendorong   investor mencari aset alternative, salah satunya ke sustainable   investing,&quot; katanya.

Pengembangan instrumen investasi berbasis lingkungan seperti &amp;ldquo;Green   Bonds&amp;rdquo;, juga masuk menjadi salah satu strategi pendalaman pasar keuangan   Indonesia yang tertuang didalam &amp;ldquo;Strategi Nasional Pengembangan dan   Pendalaman Pasar Keuangan&amp;rdquo; bersama pemerintah dan OJK.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemanasan global terus terakselerasi sejak 1960 dan  diprakirakan dampaknya akan semakin intensif. Pemanasan global  menimbulkan tantangan nyata seperti cuaca ekstrim, ancaman krisis air  bersih, kebakaran hutan dan gangguan lingkungan lainnya.

Dampaknya mengancam seluruh level masyarakat tanpa terkecuali, dari  individu dan rumah tangga hingga dunia usaha bahkan para pembuat  kebijakan.

&amp;nbsp;Baca juga: Kemenkeu Jual Obligasi Langsung ke BI, Ini Caranya 
Salah satu upaya otoritas untuk menjawab tantangan tersebut adalah  melalui kerjasama dalam bentuk NGFS atau The Network of Central Banks  and Supervisors for Greening the Financial System yang terdiri dari 69  bank sentral, termasuk Bank Indonesia.

Misi dari NGFS adalah untuk berkontribusi mendorong sustainable  economy dan juga untuk memitigasi dampak dari environmental and climate  risk terhadap sektor keuangan.

&amp;nbsp;Baca juga:4 Obligasi Rp2,41 Triliun Listing di BEI, Ini Daftarnya
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan sebagai  otoritas moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran,  BI juga telah  Indonesia telah mengadopsi Sustainable and Responsible Investment (SRI)  dalam pengelolaan devisa.

&quot;Saat ini, Bank Indonesia juga telah memiliki Portofolio di sektor  berkelanjutan (sustainable sectors) sebesar USD894 juta dan menggunakan  sustainable SUKUK sebagai underlying SUKBI,&quot; katanya, Jakarta, Rabu  (25/11/2020).

Selain itu, Bank Indonesia juga menggunakan instrumen berwawasan lingkungan green bond dan green SUKUK dalam operasi moneter.

Adapu di sisi kebijakan makroprudensial, Bank Indonesia telah  memberikan insentif kepada pembiayaan bagi properti dan kendaraan yang  bermotor berwawasan lingkungan, berupa pelonggaran kebijakan rasio  loan-to-value atau financing-to-value kredit/pembiayaan properti, serta  uang muka kredit/pembiayaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Sedangkan di sisi kebijakan sistem pembayaran, langkah Bank Indonesia  mendorong percepatan ekonomi keuangan digital berkontribusi terhadap  keberlangsungan lingkungan, salah satunya tercermin dari berkurangnya  pemakaian kertas dalam transaksi dan operasional perbankan.Menurut Destry, berbagai instrumen investasi pun semakin beragam dan   terus berkembang, baik secara jenis maupun dari sisi jumlah.  Berdasarkan  informasi dari IMF, total investasi di pasar keuangan  berbasis  sustainable investment telah naik dari USD300 miliar di tahun  2010  menjadi USD850 miliar di tahun 2019.

Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan   meningkatnya awareness atas dampak terhadap lingkungan dan juga tingkat   suku bunga global yang masih akan rendah. &quot;Hal ini akan mendorong   investor mencari aset alternative, salah satunya ke sustainable   investing,&quot; katanya.

Pengembangan instrumen investasi berbasis lingkungan seperti &amp;ldquo;Green   Bonds&amp;rdquo;, juga masuk menjadi salah satu strategi pendalaman pasar keuangan   Indonesia yang tertuang didalam &amp;ldquo;Strategi Nasional Pengembangan dan   Pendalaman Pasar Keuangan&amp;rdquo; bersama pemerintah dan OJK.</content:encoded></item></channel></rss>
