<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonom: Ya Hemat Pangkal Kaya, tapi Bisa Membunuh Ekonomi</title><description>Ari Kuncoro menyebutkan pemerintah jangan terlalu mengejar  pertumbuhan ekonomi ke arah 10% atau bahkan yang lebih tinggi untuk saat  ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/27/320/2317294/ekonom-ya-hemat-pangkal-kaya-tapi-bisa-membunuh-ekonomi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/27/320/2317294/ekonom-ya-hemat-pangkal-kaya-tapi-bisa-membunuh-ekonomi"/><item><title>Ekonom: Ya Hemat Pangkal Kaya, tapi Bisa Membunuh Ekonomi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/27/320/2317294/ekonom-ya-hemat-pangkal-kaya-tapi-bisa-membunuh-ekonomi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/27/320/2317294/ekonom-ya-hemat-pangkal-kaya-tapi-bisa-membunuh-ekonomi</guid><pubDate>Jum'at 27 November 2020 13:39 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/27/320/2317294/ekonom-ya-hemat-pangkal-kaya-tapi-bisa-membunuh-ekonomi-Q31UZDSFZA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/27/320/2317294/ekonom-ya-hemat-pangkal-kaya-tapi-bisa-membunuh-ekonomi-Q31UZDSFZA.jpg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro menyebutkan bahwa pemerintah jangan terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi ke arah 10% atau bahkan yang lebih tinggi untuk saat ini.
Seharusnya, pemerintah berfokus bagaimana bisa menyeimbangkan keadaan sehingga bisa kembali ke kondisi sebelum pandemi Covid-19.
Baca Juga: Ada Vaksin, Ekonomi dan Investasi RI Siap &quot;Lari&quot; Tahun Depan
 
&quot;Hal ini dapat dilakukan dengan mempercepat serapan anggaran dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas vaksin Covid-19,&quot; kata Ari dalam IDX Market Review di Jakarta, Jumat (27/11/2020).
Dia mengatakan, Indonesia bisa mengambil contoh dari China. Di China, sebelum ada vaksin, masyarakat sudah tahu bahwa akan ada vaksin dan ada hasil uji klinis vaksin yang memberikan kepercayaan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNi82Ny8xMjQyMDAvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Yang dituju itu tingkah laku sebelum pandemi, di China mereka biasanya membeli barang-barang tahan lama dan melakukan travelling,&quot; tambahnya.
Di Indonesia saat ini, masyarakat cenderung menahan sebagian pendapatan di tabungan. Mereka menahan diri untuk tidak melakukan pembelian untuk berhemat.
&quot;Ya hemat pangkal kaya, tapi terlalu berhemat bisa membunuh ekonomi. Pemerintah punya PR untuk membuktikan efektivitas vaksin, dan ingat, virus bisa bermutasi, maka kebijakan pun harus bisa bermutasi juga mengikuti keadaan,&quot; tekan Ari.&amp;nbsp;Untuk penyerapan anggaran, dia menegaskan bahwa auditnya sudah harus  dikawal sejak awal. Selain itu, dia menyebutkan bahwa Indonesia ada  peluang di sektor kesehatan.
&quot;Vaksin merah putih yang diproduksi dalam negeri, multipliernya dari  dalam negeri. Bukan hanya itu, tapi obat-obatan dan jamu herbal produksi  dalam negeri juga,&quot; ungkap Ari.</description><content:encoded>JAKARTA - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro menyebutkan bahwa pemerintah jangan terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi ke arah 10% atau bahkan yang lebih tinggi untuk saat ini.
Seharusnya, pemerintah berfokus bagaimana bisa menyeimbangkan keadaan sehingga bisa kembali ke kondisi sebelum pandemi Covid-19.
Baca Juga: Ada Vaksin, Ekonomi dan Investasi RI Siap &quot;Lari&quot; Tahun Depan
 
&quot;Hal ini dapat dilakukan dengan mempercepat serapan anggaran dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas vaksin Covid-19,&quot; kata Ari dalam IDX Market Review di Jakarta, Jumat (27/11/2020).
Dia mengatakan, Indonesia bisa mengambil contoh dari China. Di China, sebelum ada vaksin, masyarakat sudah tahu bahwa akan ada vaksin dan ada hasil uji klinis vaksin yang memberikan kepercayaan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNi82Ny8xMjQyMDAvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Yang dituju itu tingkah laku sebelum pandemi, di China mereka biasanya membeli barang-barang tahan lama dan melakukan travelling,&quot; tambahnya.
Di Indonesia saat ini, masyarakat cenderung menahan sebagian pendapatan di tabungan. Mereka menahan diri untuk tidak melakukan pembelian untuk berhemat.
&quot;Ya hemat pangkal kaya, tapi terlalu berhemat bisa membunuh ekonomi. Pemerintah punya PR untuk membuktikan efektivitas vaksin, dan ingat, virus bisa bermutasi, maka kebijakan pun harus bisa bermutasi juga mengikuti keadaan,&quot; tekan Ari.&amp;nbsp;Untuk penyerapan anggaran, dia menegaskan bahwa auditnya sudah harus  dikawal sejak awal. Selain itu, dia menyebutkan bahwa Indonesia ada  peluang di sektor kesehatan.
&quot;Vaksin merah putih yang diproduksi dalam negeri, multipliernya dari  dalam negeri. Bukan hanya itu, tapi obat-obatan dan jamu herbal produksi  dalam negeri juga,&quot; ungkap Ari.</content:encoded></item></channel></rss>
