<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bos BI Beberkan Aliran Modal Asing Deras ke Negara Berkembang</title><description>Besarnya likuiditas global merupakan faktor utama yang mendorong kenaikan aliran modal ke negara-negara berkembang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/27/320/2317324/bos-bi-beberkan-aliran-modal-asing-deras-ke-negara-berkembang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/27/320/2317324/bos-bi-beberkan-aliran-modal-asing-deras-ke-negara-berkembang"/><item><title>Bos BI Beberkan Aliran Modal Asing Deras ke Negara Berkembang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/27/320/2317324/bos-bi-beberkan-aliran-modal-asing-deras-ke-negara-berkembang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/27/320/2317324/bos-bi-beberkan-aliran-modal-asing-deras-ke-negara-berkembang</guid><pubDate>Jum'at 27 November 2020 14:05 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/27/320/2317324/bos-bi-beberkan-aliran-modal-asing-deras-ke-negara-berkembang-Us0WZtQqoJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dolar (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/27/320/2317324/bos-bi-beberkan-aliran-modal-asing-deras-ke-negara-berkembang-Us0WZtQqoJ.jpg</image><title>Dolar (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Besarnya likuiditas global merupakan faktor utama yang mendorong kenaikan aliran modal ke negara-negara berkembang, selain faktor prospek pertumbuhan yang lebih baik, serta kebijakan lalu lintas modal yang kondusif di sejumlah negara berkembang. Volatilitas aliran modal ini berpotensi meningkatkan volatilitas dan tekanan terhadap nilai tukar, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi stabilitas moneter dan sistem keuangan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan dalam merumuskan respons kebijakan yang tepat untuk mengatasi volatilitas aliran modal dan nilai tukar, bank sentral pada umumnya melakukan monitoring terhadap likuiditas valuta asing, termasuk mengamati kecepatan perubahan nilai tukar serta pengaruh aliran modal terhadap harga aset, untuk menjamin pasar keuangan tetap berfungsi dengan baik.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Aliran Modal Asing Masuk Rp7,18 Triliun Selama Pekan Kedua November
&quot;Untuk menjaga stabilitas eksternal, beberapa bank sentral melakukan intervensi di pasar valuta asing apabila terjadi volatilitas nilai tukar yang berlebihan,&quot; kata Perry di Jakarta

Sementara itu, jumlah bank sentral yang menerapkan kebijakan makroprudensial untuk menjaga kestabilan sistem keuangan juga mulai mengalami kenaikan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pasar Modal Sudah Positif, Aliran Modal Asing Masuk Rp5,23 Triliun
Sejalan dengan meningkatnya volatilitas aliran modal dan nilai tukar di negara-negara berkembang, BIS mengkoordinasikan penyusunan kajian tersebut guna melihat penggunaan kebijakan moneter, makroprudential, nilai tukar, dan manajemen aliran modal dalam mengatasi dampak kenaikan volatilitas aliran modal terhadap stabilitas nilai tukar.Pasalnya, Pandemi Covid-19 juga menjadi stress-test bagi kerangka  kebijakan bank sentral saat ini. Selain menerapkan berbagai kebijakan  konvensional, bank sentral di kawasan Asia Pasifik juga menempuh  kebijakan yang tidak biasa (unconventional) untuk memitigasi dampak  krisis, menjamin kecukupan likuiditas di pasar keuangan, dan merelaksasi  pengaturan sehingga tidak terjadi negative feedback loops antara sektor  riil dan sektor keuangan.

&quot;Dalam hal ini, koordinasi dan kerja sama yang erat antara Bank  Sentral dan Pemerintah merupakan kunci dari efektivitas respons  kebijakan dalam mengatasi krisis,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Besarnya likuiditas global merupakan faktor utama yang mendorong kenaikan aliran modal ke negara-negara berkembang, selain faktor prospek pertumbuhan yang lebih baik, serta kebijakan lalu lintas modal yang kondusif di sejumlah negara berkembang. Volatilitas aliran modal ini berpotensi meningkatkan volatilitas dan tekanan terhadap nilai tukar, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi stabilitas moneter dan sistem keuangan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan dalam merumuskan respons kebijakan yang tepat untuk mengatasi volatilitas aliran modal dan nilai tukar, bank sentral pada umumnya melakukan monitoring terhadap likuiditas valuta asing, termasuk mengamati kecepatan perubahan nilai tukar serta pengaruh aliran modal terhadap harga aset, untuk menjamin pasar keuangan tetap berfungsi dengan baik.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Aliran Modal Asing Masuk Rp7,18 Triliun Selama Pekan Kedua November
&quot;Untuk menjaga stabilitas eksternal, beberapa bank sentral melakukan intervensi di pasar valuta asing apabila terjadi volatilitas nilai tukar yang berlebihan,&quot; kata Perry di Jakarta

Sementara itu, jumlah bank sentral yang menerapkan kebijakan makroprudensial untuk menjaga kestabilan sistem keuangan juga mulai mengalami kenaikan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pasar Modal Sudah Positif, Aliran Modal Asing Masuk Rp5,23 Triliun
Sejalan dengan meningkatnya volatilitas aliran modal dan nilai tukar di negara-negara berkembang, BIS mengkoordinasikan penyusunan kajian tersebut guna melihat penggunaan kebijakan moneter, makroprudential, nilai tukar, dan manajemen aliran modal dalam mengatasi dampak kenaikan volatilitas aliran modal terhadap stabilitas nilai tukar.Pasalnya, Pandemi Covid-19 juga menjadi stress-test bagi kerangka  kebijakan bank sentral saat ini. Selain menerapkan berbagai kebijakan  konvensional, bank sentral di kawasan Asia Pasifik juga menempuh  kebijakan yang tidak biasa (unconventional) untuk memitigasi dampak  krisis, menjamin kecukupan likuiditas di pasar keuangan, dan merelaksasi  pengaturan sehingga tidak terjadi negative feedback loops antara sektor  riil dan sektor keuangan.

&quot;Dalam hal ini, koordinasi dan kerja sama yang erat antara Bank  Sentral dan Pemerintah merupakan kunci dari efektivitas respons  kebijakan dalam mengatasi krisis,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
