<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pabrik Nikel di Sulawesi Tenggara Segera Dibangun, Berapa Nilai Investasinya?</title><description>Pemerintah terus melakukan percepatan pada hilirisasi nikel.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/29/320/2318258/pabrik-nikel-di-sulawesi-tenggara-segera-dibangun-berapa-nilai-investasinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/29/320/2318258/pabrik-nikel-di-sulawesi-tenggara-segera-dibangun-berapa-nilai-investasinya"/><item><title>Pabrik Nikel di Sulawesi Tenggara Segera Dibangun, Berapa Nilai Investasinya?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/29/320/2318258/pabrik-nikel-di-sulawesi-tenggara-segera-dibangun-berapa-nilai-investasinya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/29/320/2318258/pabrik-nikel-di-sulawesi-tenggara-segera-dibangun-berapa-nilai-investasinya</guid><pubDate>Minggu 29 November 2020 13:43 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/29/320/2318258/pabrik-nikel-di-sulawesi-tenggara-segera-dibangun-berapa-nilai-investasinya-6VVbYjATGW.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Tambang (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/29/320/2318258/pabrik-nikel-di-sulawesi-tenggara-segera-dibangun-berapa-nilai-investasinya-6VVbYjATGW.jpeg</image><title>Ilustrasi Tambang (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah terus melakukan percepatan pada hilirisasi nikel. Salah satu buktinya adalah dengan percepatan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian bijih nikel rotary-kiln electric furnace (RKEF) dan Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Kobalt di Kolaka, Sulawesi Tenggara yang merupakan kelanjutan dari fase sebelumnya.
Pembangunan pabrik pengolahan atau smelter tersebut menelan biaya USD180 juta atau setara Rp2,8 triliun. Di mana, proyek yang ada di Sulawesi Tenggara ini dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) sebagai pelaksana proyek.
Baca Juga: Eropa Gugat Nikel RI, Menko Airlangga: Kita Lawan 
 
Direktur Utama Wika Agung Budi Waskito mengatakan, rencananya, proyek ini akan berlangsung selama 36 bulan kalender kerja. Diharapkan proyek ini bisa selesai tepat waktu yaitu pada 2023 mendatngan dengan kualitas yang sangat baik.
Nantinya, proyek tersebut akan terdiri dari dua lajur produksi, dimana masing-masing lajur akan ditunjang dengan fasilitas produksi utama. Seperti  Rotary Dryer berkapasitas 196 ton/jam (wet base), Rotary Kiln berkapasitas 178 ton/jam (wet base), Electric Furnace berkapasitas 72 MVA serta peralatan penunjang lainnya.
Baca Juga: 9 Perusahaan Kembali Ekspor Bijih Nikel, 2 Masih Belum Dapat Izin
 
&quot;WIKA menyambut positif kepercayaan besar yang diberikan oleh PT. CNI. Insha Allah, proyek ini dapat selesai tepat waktu dengan kualitas yang memuaskan dan bisa menjadi titik ungkit kebangkitan industri berbasis mineral di tanah air dan dunia,&amp;rdquo; ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu (29/11/2020).
Sementara itu, Direktur Utama PT CNI Derian Sakmiwata mengatakan, dengan pembangunan fasilitas smelter ini diharapkan bisa menggenjot produk nikel di tanah air. Sehingga berefek domino bagi perekonomian nasional.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8wNC8yNi80Lzk0NjgxLzAv&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Nantinya fasiltas produksi utama pada pabrik tersebut adalah Ore preparation facility dan Hydrometallurgical plant berkapasitas 3,6 juta ton per tahun. Kemudian Limestone treatment plant berkapasitas 770 ribu ton per tahun, Sulfuric Acid Plant berkapasitas 550 ribu ton per tahun, Residue storage facilites berkapasitas 970 ribu ton tailing serta peralatan penunjang lainnya.&amp;ldquo;Semoga dengan semangat merah putih yang menjadi semangat kita semua,  komoditas nikel menjadi harapan untuk menggenjot pertumbuhan industri  logam dasar, sekaligus pertumbuhan ekonomi nasional,&amp;rdquo; ucapnya.
Sebagai informasi, proyek pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnuan  nikel dalam pengoperasiannya kelak akan menggunakan rute Rotary Kiln &amp;ndash;  Electric Furnace yang sudah terbukti (untuk mengolah bijih nikel kadar  1.59% Ni menjadi ferronickel dengan kadar 22%.
Berbeda dengan pabrik nikel di Indonesia pada umumnya yang  menggunakan electric furnace tipe circular, pabrik ini menggunakan  electric furnace tipe rectangular yang memiliki keunggulan. Misalnya,  memiliki konsumsi energi per ton atau kWh per ton yang lebih efisien  karena menggunakan desain electrode yang tercelup slag.
Lalu, memiliki service life yang lebih lama karena fleksibilitas  struktur rectangular yang sangat baik mengatasi masalah ekspansi  furnace. Kemudian, Memiliki tingkat recovery Ni yang lebih baik, melalui  bagian slag settling yang diperpanjang oleh dimensi rectangular.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah terus melakukan percepatan pada hilirisasi nikel. Salah satu buktinya adalah dengan percepatan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian bijih nikel rotary-kiln electric furnace (RKEF) dan Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Kobalt di Kolaka, Sulawesi Tenggara yang merupakan kelanjutan dari fase sebelumnya.
Pembangunan pabrik pengolahan atau smelter tersebut menelan biaya USD180 juta atau setara Rp2,8 triliun. Di mana, proyek yang ada di Sulawesi Tenggara ini dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) sebagai pelaksana proyek.
Baca Juga: Eropa Gugat Nikel RI, Menko Airlangga: Kita Lawan 
 
Direktur Utama Wika Agung Budi Waskito mengatakan, rencananya, proyek ini akan berlangsung selama 36 bulan kalender kerja. Diharapkan proyek ini bisa selesai tepat waktu yaitu pada 2023 mendatngan dengan kualitas yang sangat baik.
Nantinya, proyek tersebut akan terdiri dari dua lajur produksi, dimana masing-masing lajur akan ditunjang dengan fasilitas produksi utama. Seperti  Rotary Dryer berkapasitas 196 ton/jam (wet base), Rotary Kiln berkapasitas 178 ton/jam (wet base), Electric Furnace berkapasitas 72 MVA serta peralatan penunjang lainnya.
Baca Juga: 9 Perusahaan Kembali Ekspor Bijih Nikel, 2 Masih Belum Dapat Izin
 
&quot;WIKA menyambut positif kepercayaan besar yang diberikan oleh PT. CNI. Insha Allah, proyek ini dapat selesai tepat waktu dengan kualitas yang memuaskan dan bisa menjadi titik ungkit kebangkitan industri berbasis mineral di tanah air dan dunia,&amp;rdquo; ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu (29/11/2020).
Sementara itu, Direktur Utama PT CNI Derian Sakmiwata mengatakan, dengan pembangunan fasilitas smelter ini diharapkan bisa menggenjot produk nikel di tanah air. Sehingga berefek domino bagi perekonomian nasional.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8wNC8yNi80Lzk0NjgxLzAv&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Nantinya fasiltas produksi utama pada pabrik tersebut adalah Ore preparation facility dan Hydrometallurgical plant berkapasitas 3,6 juta ton per tahun. Kemudian Limestone treatment plant berkapasitas 770 ribu ton per tahun, Sulfuric Acid Plant berkapasitas 550 ribu ton per tahun, Residue storage facilites berkapasitas 970 ribu ton tailing serta peralatan penunjang lainnya.&amp;ldquo;Semoga dengan semangat merah putih yang menjadi semangat kita semua,  komoditas nikel menjadi harapan untuk menggenjot pertumbuhan industri  logam dasar, sekaligus pertumbuhan ekonomi nasional,&amp;rdquo; ucapnya.
Sebagai informasi, proyek pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnuan  nikel dalam pengoperasiannya kelak akan menggunakan rute Rotary Kiln &amp;ndash;  Electric Furnace yang sudah terbukti (untuk mengolah bijih nikel kadar  1.59% Ni menjadi ferronickel dengan kadar 22%.
Berbeda dengan pabrik nikel di Indonesia pada umumnya yang  menggunakan electric furnace tipe circular, pabrik ini menggunakan  electric furnace tipe rectangular yang memiliki keunggulan. Misalnya,  memiliki konsumsi energi per ton atau kWh per ton yang lebih efisien  karena menggunakan desain electrode yang tercelup slag.
Lalu, memiliki service life yang lebih lama karena fleksibilitas  struktur rectangular yang sangat baik mengatasi masalah ekspansi  furnace. Kemudian, Memiliki tingkat recovery Ni yang lebih baik, melalui  bagian slag settling yang diperpanjang oleh dimensi rectangular.</content:encoded></item></channel></rss>
