<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Simak Tantangan dan Peluang Startup</title><description>Umumnya, startup didirikan untuk memberi kemudahan melalui teknologi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/29/455/2318294/simak-tantangan-dan-peluang-startup</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/29/455/2318294/simak-tantangan-dan-peluang-startup"/><item><title>Simak Tantangan dan Peluang Startup</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/29/455/2318294/simak-tantangan-dan-peluang-startup</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/29/455/2318294/simak-tantangan-dan-peluang-startup</guid><pubDate>Minggu 29 November 2020 18:16 WIB</pubDate><dc:creator>Arif Budianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/29/455/2318294/simak-tantangan-dan-peluang-startup-6H1XKg1j5O.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Startup (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/29/455/2318294/simak-tantangan-dan-peluang-startup-6H1XKg1j5O.jpg</image><title>Ilustrasi Startup (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>BANDUNG &amp;ndash; Umumnya, startup didirikan untuk memberi kemudahan melalui teknologi. Namun terkadang startup kurang diketahui manfaat dan keberadaannya karena bebagai faktor. Padahal, bila startup memiliki strategi bisnis yang memadai, tidak menutup kemungkinan bisnis bakal makin moncer.
Menurut Ketua Umum Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (Mikti) Joddy Hernady, untuk dapat sampai pada level startup sukes, setidaknya terdapat tujuh tahapan yang mesti dilalui. Ketujuh tahapan tersebut adalah fase embrio; pembentukan; prototype/purwarupa; peluncuran produk; pertumbuhan cepat; ekspansi; dan, stabil.
Baca Juga: Krisdayanti: Banyak Startup Bakal Gugur dan Sisakan Pengangguran
 
Sementara dari sisi pengembangan produk, fase yang dilalui startup antara lain adalah problem-solution fit, product launch fit, product market fit, dan meningkatkan skala bisnis. Akan tetapi, kata dia, perjalanan startup hingga produknya dapat diterima oleh market dan mencapai kestabilan tidaklah mudah. Banyak usaha start-up yang berujung pada kegagalan dan berhenti beroperasi.
&quot;Situasi ini sering disebut sebagai periode valley of death, yaitu periode berhenti beroperasinya startup sebelum mencapai kesuksesan komersial. Ini diakibatkan antara lain karena produknya tidak diterima dengan baik oleh pasar. Kegagalan ini terjadi akibat startup masih belum dapat mencapai keuntungan operasional,&quot; kata dia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8yMC82Ny8xMjQ4NTEvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Menurut Joddy, terdapat dua kemungkinan mengapa startup gagal pada fase ini. Pertama karena mereka belum menemukan produk yang dapat diterima dengan baik oleh pasar. Kedua belum dapat menemukan strategi operasional yang tepat untuk mengomersialkan produk tersebut.
&quot;Selain itu, banyak juga start-up yang menyerah di awal karena pesimistis dan menganggap bahwa perusahaannya tidak akan sukses,&quot; kata dia.
Sebenarnya, kata dia, ketika kegagalan operasional terjadi, tidak dapat disimpulkan secara langsung bahwa startup tersebut gagal. Setiap startup memiliki fase yang harus dilalui untuk membangun perusahaan yang stabil. Termasuk tahapan di mana perusahaan belum memiliki penjualan dari produk maupun jasa yang dikembangkan, tetapi tetap harus menjalankan operasional perusahaannya hingga saat peluncuran dan penjualan nanti.Menurut IDEO, sebuah konsultan inovasi global, inovasi yang sukses  ialah yang mampu menggabungkan aspek viability (kelayakan secara  bisnis), feasibility (kemungkinan secara teknis) dan desirability  (keinginan penggunanya).
Pandangan ini diperkuat oleh keyakinan dari sejumlah akselerator dan  inkubator terkemuka di dunia, yang menyebutkan bahwa komposisi terbaik  dari pendiri pendiri startup adalah gabungan antara hustler (business  co-founder), hacker (technical cofounder), dan hipster (design  co-founder).
Melihat hal itu, menurut Sekjen Mikti M Andy Zaky, pada 1 Desember  2020 Mikti bakal meluncurkan sebuah buku panduan bagi para pelaku  inkubator bisnis agar mereka memahami secara teknis tentang pengelolaan  inkubator bisnis. Buku ini diberi judul Incubator Play akan diberikan  atau dapat diunduh secara gratis oleh siapapun. Peluncuran akan  dilakukan secara virtual.
&quot;Buku ini memberikan edukasi dan pembahasan tentang proses  menjalankan dan mengelola inkubator bisnis dari mulai persiapan sampai  dengan pengelolaan keuangan,&quot; jelas Sekjen Mikti M Andy Zaky.
Menurut dia, Mikti merupakan organisasi nirlaba profesional untuk  pengembangan ekosistem industri kreatif digital di Indonesia. Visi Mikti  yaitu membangun ekosistem yang berkelanjutan dan kompetitif untuk  pertumbuhan Digital Creative Industry di Indonesia. Sehingga, buku  panduan ini akan diberikan secara cuma cuma.</description><content:encoded>BANDUNG &amp;ndash; Umumnya, startup didirikan untuk memberi kemudahan melalui teknologi. Namun terkadang startup kurang diketahui manfaat dan keberadaannya karena bebagai faktor. Padahal, bila startup memiliki strategi bisnis yang memadai, tidak menutup kemungkinan bisnis bakal makin moncer.
Menurut Ketua Umum Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (Mikti) Joddy Hernady, untuk dapat sampai pada level startup sukes, setidaknya terdapat tujuh tahapan yang mesti dilalui. Ketujuh tahapan tersebut adalah fase embrio; pembentukan; prototype/purwarupa; peluncuran produk; pertumbuhan cepat; ekspansi; dan, stabil.
Baca Juga: Krisdayanti: Banyak Startup Bakal Gugur dan Sisakan Pengangguran
 
Sementara dari sisi pengembangan produk, fase yang dilalui startup antara lain adalah problem-solution fit, product launch fit, product market fit, dan meningkatkan skala bisnis. Akan tetapi, kata dia, perjalanan startup hingga produknya dapat diterima oleh market dan mencapai kestabilan tidaklah mudah. Banyak usaha start-up yang berujung pada kegagalan dan berhenti beroperasi.
&quot;Situasi ini sering disebut sebagai periode valley of death, yaitu periode berhenti beroperasinya startup sebelum mencapai kesuksesan komersial. Ini diakibatkan antara lain karena produknya tidak diterima dengan baik oleh pasar. Kegagalan ini terjadi akibat startup masih belum dapat mencapai keuntungan operasional,&quot; kata dia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8yMC82Ny8xMjQ4NTEvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Menurut Joddy, terdapat dua kemungkinan mengapa startup gagal pada fase ini. Pertama karena mereka belum menemukan produk yang dapat diterima dengan baik oleh pasar. Kedua belum dapat menemukan strategi operasional yang tepat untuk mengomersialkan produk tersebut.
&quot;Selain itu, banyak juga start-up yang menyerah di awal karena pesimistis dan menganggap bahwa perusahaannya tidak akan sukses,&quot; kata dia.
Sebenarnya, kata dia, ketika kegagalan operasional terjadi, tidak dapat disimpulkan secara langsung bahwa startup tersebut gagal. Setiap startup memiliki fase yang harus dilalui untuk membangun perusahaan yang stabil. Termasuk tahapan di mana perusahaan belum memiliki penjualan dari produk maupun jasa yang dikembangkan, tetapi tetap harus menjalankan operasional perusahaannya hingga saat peluncuran dan penjualan nanti.Menurut IDEO, sebuah konsultan inovasi global, inovasi yang sukses  ialah yang mampu menggabungkan aspek viability (kelayakan secara  bisnis), feasibility (kemungkinan secara teknis) dan desirability  (keinginan penggunanya).
Pandangan ini diperkuat oleh keyakinan dari sejumlah akselerator dan  inkubator terkemuka di dunia, yang menyebutkan bahwa komposisi terbaik  dari pendiri pendiri startup adalah gabungan antara hustler (business  co-founder), hacker (technical cofounder), dan hipster (design  co-founder).
Melihat hal itu, menurut Sekjen Mikti M Andy Zaky, pada 1 Desember  2020 Mikti bakal meluncurkan sebuah buku panduan bagi para pelaku  inkubator bisnis agar mereka memahami secara teknis tentang pengelolaan  inkubator bisnis. Buku ini diberi judul Incubator Play akan diberikan  atau dapat diunduh secara gratis oleh siapapun. Peluncuran akan  dilakukan secara virtual.
&quot;Buku ini memberikan edukasi dan pembahasan tentang proses  menjalankan dan mengelola inkubator bisnis dari mulai persiapan sampai  dengan pengelolaan keuangan,&quot; jelas Sekjen Mikti M Andy Zaky.
Menurut dia, Mikti merupakan organisasi nirlaba profesional untuk  pengembangan ekosistem industri kreatif digital di Indonesia. Visi Mikti  yaitu membangun ekosistem yang berkelanjutan dan kompetitif untuk  pertumbuhan Digital Creative Industry di Indonesia. Sehingga, buku  panduan ini akan diberikan secara cuma cuma.</content:encoded></item></channel></rss>
