<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Di Tengah Pandemi, SMKL Pede Bisa Raup Rp1,68 Triliun dari Penjualan</title><description>PT Satyamitra Kemas Lestari Tbk (SMKL) memproyeksikan penjualan selama  tahun 2020 akan mencapai Rp1,68 triliun pada akhir tahun nanti.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/12/03/278/2321175/di-tengah-pandemi-smkl-pede-bisa-raup-rp1-68-triliun-dari-penjualan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/12/03/278/2321175/di-tengah-pandemi-smkl-pede-bisa-raup-rp1-68-triliun-dari-penjualan"/><item><title>Di Tengah Pandemi, SMKL Pede Bisa Raup Rp1,68 Triliun dari Penjualan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/12/03/278/2321175/di-tengah-pandemi-smkl-pede-bisa-raup-rp1-68-triliun-dari-penjualan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/12/03/278/2321175/di-tengah-pandemi-smkl-pede-bisa-raup-rp1-68-triliun-dari-penjualan</guid><pubDate>Kamis 03 Desember 2020 18:42 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/03/278/2321175/di-tengah-pandemi-smkl-pede-bisa-raup-rp1-68-triliun-dari-penjualan-pWWG5uQs1O.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/03/278/2321175/di-tengah-pandemi-smkl-pede-bisa-raup-rp1-68-triliun-dari-penjualan-pWWG5uQs1O.jpg</image><title>Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - PT Satyamitra Kemas Lestari Tbk (SMKL) memproyeksikan penjualan selama tahun 2020 akan mencapai Rp1,68 triliun pada akhir tahun nanti. Sebab, perseroan memperkirakan penjualan pada Semester II-2020 akan naik sedikit menjadi Rp850 miliar atau sekitar 62.000 ton dari Rp832,47 miliar 60.437 ton.
Direktur Satyamitra Kemas Lestari Heriyanto S Hidayat mengatakan  pemberlakuan PSBB, menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat menurun tajam dan pertumbuhan ekonomi anjlok. PSBB pun terus diperpanjang dan berdampak pada melambatnya kegiatan operasional perseroan dan proses produksi.
Baca Juga:&amp;nbsp;Bye, Pizza Hut Akan Tutup 300 Gerai
&amp;ldquo;Masalah dan hambatan yang terjadi tersebut menyebabkan turunnya perolehan pendapatan, cahsflow pun terganggu,&amp;rdquo; ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (3/12/2020).
Menurut Heri, sepanjang Januari-Juni 2020, penjualan Satyamitra Kemas Lestari hanya mencapai Rp832,47 miliar 60.017 ton. Angka tersebut turun sedikit jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp918,69 miliar 60.437 ton.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xOS82Ny8xMjM1MTUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Meskipun begitu, laba sebelum pajak Perseroan mengalami lonjakan tajam menjadi Rp20,140 miliar sepanjang periode Januari-Juni 2020. Angka ini lebih tinggi dibandingkan  Rp765,35 juta yang diperoleh pada periode yang sama tahun 2019.
Pada 23 September 2020, Perseroan telah menggunakan laba bersih tahun 2019 untuk pembagian dividen sebesar Rp17 miliar  atau 83,58% dari total laba bersih atau Rp5 per saham. Perseroan juga menggunakan sebagian laba bersih yaitu 4,92% atau Rp1 miliar sebagai dana cadangan umum.
&amp;ldquo;Dan 11,50% dari keuntungan sisanya atau Rp2,3 miliar digunakan sebagai laba ditahan,&amp;rdquo; ucapnyaSementara itu, Di tahun 2021, perseroan optimis akan pemulihan  ekonomi yang terjadi. Apalagi pemerintah telah menunjuk empat sektor  industri sebagai prioritas bagi revolusi Industri 4.0. Keempat sektor  itu adalah sektor makanan dan minuman, sektor tekstil dan busana, sektor  otomotif dan sektor biokimia serta sektor elektronik.
&amp;ldquo;Pemerintah telah memfokuskan masing-masing sektor menjadi kekuatan  besar bagi industri nasional. Sektor makanan dan minuman (mamin) akan  menjadi fokus pemerintah sebagai kekuatan besar bagi Indonesia di kancah  ASEAN,&amp;rdquo; ujarnya
Ditambah lagi, pemerintah juga akan memfokuskan sektor tekstil dan  busana yang selama ini menyumbang 60% terhadap PDB manufaktur, menjadi  produsen functional clothing terkemuka. Demikian sektor otomotif yang  menyumbang 65% terhadap ekspor manufaktur dan sektor biokimia serta  elektronik yang telah menyerap 60% pekerja sektor manufaktur.
Sektor industri tersebut adalah sektor potensial yang selama ini  menjadi pasar bagi produk Perseroan. Belum lagi dukungan dari  pertumbuhan kelas menengah di tahun-tahun mendatang juga akan memperkuat  pasar bagi produk perseroan.
&amp;ldquo;Prospek Perseroan di masa mendatang akan berjalan seiring dengan  pertumbuhan sektor-sektor tersebut di atas. Industri kemasan yang  menjadi produk Perseroan, akan memiliki peranan penting bagi  sektor-sektor tersebut,&amp;rdquo; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Satyamitra Kemas Lestari Tbk (SMKL) memproyeksikan penjualan selama tahun 2020 akan mencapai Rp1,68 triliun pada akhir tahun nanti. Sebab, perseroan memperkirakan penjualan pada Semester II-2020 akan naik sedikit menjadi Rp850 miliar atau sekitar 62.000 ton dari Rp832,47 miliar 60.437 ton.
Direktur Satyamitra Kemas Lestari Heriyanto S Hidayat mengatakan  pemberlakuan PSBB, menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat menurun tajam dan pertumbuhan ekonomi anjlok. PSBB pun terus diperpanjang dan berdampak pada melambatnya kegiatan operasional perseroan dan proses produksi.
Baca Juga:&amp;nbsp;Bye, Pizza Hut Akan Tutup 300 Gerai
&amp;ldquo;Masalah dan hambatan yang terjadi tersebut menyebabkan turunnya perolehan pendapatan, cahsflow pun terganggu,&amp;rdquo; ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (3/12/2020).
Menurut Heri, sepanjang Januari-Juni 2020, penjualan Satyamitra Kemas Lestari hanya mencapai Rp832,47 miliar 60.017 ton. Angka tersebut turun sedikit jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp918,69 miliar 60.437 ton.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xOS82Ny8xMjM1MTUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Meskipun begitu, laba sebelum pajak Perseroan mengalami lonjakan tajam menjadi Rp20,140 miliar sepanjang periode Januari-Juni 2020. Angka ini lebih tinggi dibandingkan  Rp765,35 juta yang diperoleh pada periode yang sama tahun 2019.
Pada 23 September 2020, Perseroan telah menggunakan laba bersih tahun 2019 untuk pembagian dividen sebesar Rp17 miliar  atau 83,58% dari total laba bersih atau Rp5 per saham. Perseroan juga menggunakan sebagian laba bersih yaitu 4,92% atau Rp1 miliar sebagai dana cadangan umum.
&amp;ldquo;Dan 11,50% dari keuntungan sisanya atau Rp2,3 miliar digunakan sebagai laba ditahan,&amp;rdquo; ucapnyaSementara itu, Di tahun 2021, perseroan optimis akan pemulihan  ekonomi yang terjadi. Apalagi pemerintah telah menunjuk empat sektor  industri sebagai prioritas bagi revolusi Industri 4.0. Keempat sektor  itu adalah sektor makanan dan minuman, sektor tekstil dan busana, sektor  otomotif dan sektor biokimia serta sektor elektronik.
&amp;ldquo;Pemerintah telah memfokuskan masing-masing sektor menjadi kekuatan  besar bagi industri nasional. Sektor makanan dan minuman (mamin) akan  menjadi fokus pemerintah sebagai kekuatan besar bagi Indonesia di kancah  ASEAN,&amp;rdquo; ujarnya
Ditambah lagi, pemerintah juga akan memfokuskan sektor tekstil dan  busana yang selama ini menyumbang 60% terhadap PDB manufaktur, menjadi  produsen functional clothing terkemuka. Demikian sektor otomotif yang  menyumbang 65% terhadap ekspor manufaktur dan sektor biokimia serta  elektronik yang telah menyerap 60% pekerja sektor manufaktur.
Sektor industri tersebut adalah sektor potensial yang selama ini  menjadi pasar bagi produk Perseroan. Belum lagi dukungan dari  pertumbuhan kelas menengah di tahun-tahun mendatang juga akan memperkuat  pasar bagi produk perseroan.
&amp;ldquo;Prospek Perseroan di masa mendatang akan berjalan seiring dengan  pertumbuhan sektor-sektor tersebut di atas. Industri kemasan yang  menjadi produk Perseroan, akan memiliki peranan penting bagi  sektor-sektor tersebut,&amp;rdquo; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
