<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Mentah Jatuh Imbas Ketegangan China-AS</title><description>Harga minyak mentah jatuh sekitar satu persen pada akhir perdagangan Senin (7/12/2020) waktu setempat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/12/08/320/2323535/harga-minyak-mentah-jatuh-imbas-ketegangan-china-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/12/08/320/2323535/harga-minyak-mentah-jatuh-imbas-ketegangan-china-as"/><item><title>Harga Minyak Mentah Jatuh Imbas Ketegangan China-AS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/12/08/320/2323535/harga-minyak-mentah-jatuh-imbas-ketegangan-china-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/12/08/320/2323535/harga-minyak-mentah-jatuh-imbas-ketegangan-china-as</guid><pubDate>Selasa 08 Desember 2020 07:57 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/08/320/2323535/harga-minyak-mentah-jatuh-imbas-ketegangan-china-as-CzHN4JlhAG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Minyak Mentah (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/08/320/2323535/harga-minyak-mentah-jatuh-imbas-ketegangan-china-as-CzHN4JlhAG.jpg</image><title>Minyak Mentah (Shutterstock)</title></images><description>NEW YORK - Harga minyak mentah jatuh sekitar satu persen pada akhir perdagangan Senin (7/12/2020) waktu setempat. Kejatuhan tersebut dikarenakan melonjaknya kasus virus corona dan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China merusak dampak positif dari kesepakatan OPEC+ tentang pembatasan produksi.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari turun 46 sen atau 0,9%, menjadi ditutup di USD48,79 per barel. Minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari turun 50 sen atau 1,1% menjadi menetap di USD45,76 per barel.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Harga Minyak Mentah Naik, Brent Dekati USD50/Barel
&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;Untuk pekan yang berakhir Jumat (4/12/2020), WTI dan Brent masing-masing naik 1,6% dan 2,1%, berdasarkan kontrak bulan depan mereka.

Harga minyak berada di bawah tekanan setelah Reuters secara eksklusif melaporkan bahwa Amerika Serikat sedang bersiap untuk menjatuhkan sanksi kepada setidaknya selusin pejabat China atas dugaan peran mereka dalam diskualifikasi Beijing terhadap legislator oposisi terpilih di Hong Kong.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Target Minyak 1 Juta Barel/Hari, Sri Mulyani: Tidak Mudah
Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China, konsumen minyak terbesar dunia, telah berulang kali membebani pasar dalam beberapa tahun terakhir.

China, importir minyak mentah terbesar dunia, telah membantu mendukung harga minyak mentah tahun ini. Dalam 11 bulan pertama tahun ini, China mengimpor total 503,92 juta ton atau 10,98 juta barel per hari, naik 9,5 persen dari tahun sebelumnya.

Impor minyak November negara itu naik dari bulan sebelumnya, data dari Administrasi Umum Kepabeanan menunjukkan.Secara global, lonjakan kasus virus corona telah memaksa serangkaian  penguncian baru, termasuk langkah-langkah ketat di negara bagian  California AS dan di Jerman serta Korea Selatan.

Konsumsi bensin AS turun selama minggu liburan Thanksgiving ke level  terendah dalam lebih dari 20 tahun, kata OPIS (Oil Price Information  Service), karena lebih sedikit orang Amerika yang bepergian selama  pandemi.

Kedua kontrak minyak naik sekitar dua persen minggu lalu setelah  OPEC+, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya,  setuju untuk sedikit meningkatkan produksi mulai Januari tetapi  melanjutkan sebagian besar pembatasan pasokan yang ada.

&amp;ldquo;Mereka tetap sedikit pelit, dalam hal pasokan selama puncak musim  dingin di belahan bumi utara,&amp;rdquo; kata John Kilduff, mitra di Again Capital  LLC di New York.

Capital Economics, sebuah perusahaan riset ekonomi, mengatakan dalam  sebuah laporan mereka memperkirakan produksi OPEC+ akan naik kurang dari  yang diizinkan perjanjian baru karena pemotongan kompensasi dan  permintaan kuartal pertama yang lemah.

Setelah kesepakatan OPEC+, Morgan Stanley menaikkan perkiraan harga  Brent jangka panjang menjadi 47,50 dolar AS per barel dari 45 dolar AS  dan merevisi perkiraan harga jangka panjang WTI menjadi 45 dolar AS per  barel dari 42,50 dolar AS.

Di tempat lain, Iran telah menginstruksikan kementerian  perminyakannya untuk mempersiapkan instalasi guna produksi dan penjualan  minyak mentah dengan kapasitas penuh dalam tiga bulan, kata media  pemerintah pada Minggu (6/12/2020).

&quot;Menambah tekanan pada harga minyak adalah potensi peningkatan  produksi Iran dalam tiga bulan,&quot; kata Edward Moya, analis pasar senior  di OANDA. &quot;Iran optimis AS akan melonggarkan pembatasan jika mereka  kembali ke kesepakatan nuklir 2015.&quot;</description><content:encoded>NEW YORK - Harga minyak mentah jatuh sekitar satu persen pada akhir perdagangan Senin (7/12/2020) waktu setempat. Kejatuhan tersebut dikarenakan melonjaknya kasus virus corona dan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China merusak dampak positif dari kesepakatan OPEC+ tentang pembatasan produksi.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari turun 46 sen atau 0,9%, menjadi ditutup di USD48,79 per barel. Minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari turun 50 sen atau 1,1% menjadi menetap di USD45,76 per barel.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Harga Minyak Mentah Naik, Brent Dekati USD50/Barel
&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;Untuk pekan yang berakhir Jumat (4/12/2020), WTI dan Brent masing-masing naik 1,6% dan 2,1%, berdasarkan kontrak bulan depan mereka.

Harga minyak berada di bawah tekanan setelah Reuters secara eksklusif melaporkan bahwa Amerika Serikat sedang bersiap untuk menjatuhkan sanksi kepada setidaknya selusin pejabat China atas dugaan peran mereka dalam diskualifikasi Beijing terhadap legislator oposisi terpilih di Hong Kong.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Target Minyak 1 Juta Barel/Hari, Sri Mulyani: Tidak Mudah
Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China, konsumen minyak terbesar dunia, telah berulang kali membebani pasar dalam beberapa tahun terakhir.

China, importir minyak mentah terbesar dunia, telah membantu mendukung harga minyak mentah tahun ini. Dalam 11 bulan pertama tahun ini, China mengimpor total 503,92 juta ton atau 10,98 juta barel per hari, naik 9,5 persen dari tahun sebelumnya.

Impor minyak November negara itu naik dari bulan sebelumnya, data dari Administrasi Umum Kepabeanan menunjukkan.Secara global, lonjakan kasus virus corona telah memaksa serangkaian  penguncian baru, termasuk langkah-langkah ketat di negara bagian  California AS dan di Jerman serta Korea Selatan.

Konsumsi bensin AS turun selama minggu liburan Thanksgiving ke level  terendah dalam lebih dari 20 tahun, kata OPIS (Oil Price Information  Service), karena lebih sedikit orang Amerika yang bepergian selama  pandemi.

Kedua kontrak minyak naik sekitar dua persen minggu lalu setelah  OPEC+, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya,  setuju untuk sedikit meningkatkan produksi mulai Januari tetapi  melanjutkan sebagian besar pembatasan pasokan yang ada.

&amp;ldquo;Mereka tetap sedikit pelit, dalam hal pasokan selama puncak musim  dingin di belahan bumi utara,&amp;rdquo; kata John Kilduff, mitra di Again Capital  LLC di New York.

Capital Economics, sebuah perusahaan riset ekonomi, mengatakan dalam  sebuah laporan mereka memperkirakan produksi OPEC+ akan naik kurang dari  yang diizinkan perjanjian baru karena pemotongan kompensasi dan  permintaan kuartal pertama yang lemah.

Setelah kesepakatan OPEC+, Morgan Stanley menaikkan perkiraan harga  Brent jangka panjang menjadi 47,50 dolar AS per barel dari 45 dolar AS  dan merevisi perkiraan harga jangka panjang WTI menjadi 45 dolar AS per  barel dari 42,50 dolar AS.

Di tempat lain, Iran telah menginstruksikan kementerian  perminyakannya untuk mempersiapkan instalasi guna produksi dan penjualan  minyak mentah dengan kapasitas penuh dalam tiga bulan, kata media  pemerintah pada Minggu (6/12/2020).

&quot;Menambah tekanan pada harga minyak adalah potensi peningkatan  produksi Iran dalam tiga bulan,&quot; kata Edward Moya, analis pasar senior  di OANDA. &quot;Iran optimis AS akan melonggarkan pembatasan jika mereka  kembali ke kesepakatan nuklir 2015.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
