<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani: Resesi Ekonomi 2020 Sangat Dalam</title><description>Resesi ekonomi terjadi di banyak negara. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai resesi ekonomi dunia belum berakhir.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/12/21/320/2331497/sri-mulyani-resesi-ekonomi-2020-sangat-dalam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/12/21/320/2331497/sri-mulyani-resesi-ekonomi-2020-sangat-dalam"/><item><title>Sri Mulyani: Resesi Ekonomi 2020 Sangat Dalam</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/12/21/320/2331497/sri-mulyani-resesi-ekonomi-2020-sangat-dalam</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/12/21/320/2331497/sri-mulyani-resesi-ekonomi-2020-sangat-dalam</guid><pubDate>Senin 21 Desember 2020 15:22 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/21/320/2331497/sri-mulyani-resesi-ekonomi-2020-sangat-dalam-bHmMzsZoeU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/21/320/2331497/sri-mulyani-resesi-ekonomi-2020-sangat-dalam-bHmMzsZoeU.jpg</image><title>Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Resesi ekonomi terjadi di banyak negara. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai resesi ekonomi dunia belum berakhir. Sebab pandemi virus Covid-19 membawa dampak yang dalam bagi perekonomian dunia.
Adapun, laporan OECD pertumbuhan ekonomi dunia bisa minus 4,2%. Jika terjadi, maka resesi yang sangat dalam tak bisa terhindarkan.
Baca Juga: Sri Mulyani: Masa Kritis Ekonomi Sudah Lewat
 
&quot;Tahun 2020 menurut OECD growth akan mencapai minus 4,2%. Ini berarti resesi yang cukup dalam atau sangat dalam bahkan kalau dibandingkan pada saat guncangan global ekonomi pada saat financial crisis tahun 2008-2009,&quot; tutur Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa secara virtual, Senin (21/12/2020).
Lalu, setiap negara mengalami kontraksi seperti Amerika Serikat China dalam hal ini China masih positif sedangkan India kontraksinya cukup dalam di 10,3%, Malaysia di 6,0%, Filipina 8,3% kontraksi dan Singapura di minus 6%. Indonesia ada di Kisaran antara minus 1,7% hingga minus 2,2%.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Sudah Lewati Masa Krisis
 
&quot;Dalam hal ini menjadi range yang kementerian keuangan melihat terutama sampai dengan minggu kedua bulan Desember ini yaitu outlook kita di -1,7% hingga minus 2,2%,&quot; tuturnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNi82Ny8xMjQyMDAvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Lanjutnya, lembaga internasional tersebut juga merevisi proyeksi  ekonomi di 2021. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia 4,2%, IMF  memprediksi 5,2%, dan Bank Dunia memprediksi ekonomi dunia tumbuh 4,2%.
&quot;Untuk tahun 2021 lembaga-lembaga ini melakukan juga revisi terhadap  proses pemulihan. OECD memproyeksikan tahun depan tumbuh 4,2% untuk  global growth, IMF 5,2%, dan World Bank 4,2%,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Resesi ekonomi terjadi di banyak negara. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai resesi ekonomi dunia belum berakhir. Sebab pandemi virus Covid-19 membawa dampak yang dalam bagi perekonomian dunia.
Adapun, laporan OECD pertumbuhan ekonomi dunia bisa minus 4,2%. Jika terjadi, maka resesi yang sangat dalam tak bisa terhindarkan.
Baca Juga: Sri Mulyani: Masa Kritis Ekonomi Sudah Lewat
 
&quot;Tahun 2020 menurut OECD growth akan mencapai minus 4,2%. Ini berarti resesi yang cukup dalam atau sangat dalam bahkan kalau dibandingkan pada saat guncangan global ekonomi pada saat financial crisis tahun 2008-2009,&quot; tutur Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa secara virtual, Senin (21/12/2020).
Lalu, setiap negara mengalami kontraksi seperti Amerika Serikat China dalam hal ini China masih positif sedangkan India kontraksinya cukup dalam di 10,3%, Malaysia di 6,0%, Filipina 8,3% kontraksi dan Singapura di minus 6%. Indonesia ada di Kisaran antara minus 1,7% hingga minus 2,2%.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Sudah Lewati Masa Krisis
 
&quot;Dalam hal ini menjadi range yang kementerian keuangan melihat terutama sampai dengan minggu kedua bulan Desember ini yaitu outlook kita di -1,7% hingga minus 2,2%,&quot; tuturnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wNi82Ny8xMjQyMDAvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Lanjutnya, lembaga internasional tersebut juga merevisi proyeksi  ekonomi di 2021. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia 4,2%, IMF  memprediksi 5,2%, dan Bank Dunia memprediksi ekonomi dunia tumbuh 4,2%.
&quot;Untuk tahun 2021 lembaga-lembaga ini melakukan juga revisi terhadap  proses pemulihan. OECD memproyeksikan tahun depan tumbuh 4,2% untuk  global growth, IMF 5,2%, dan World Bank 4,2%,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
