<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>20.000 Warteg di Jabodetabek Bakal Tutup</title><description>Pengusaha warteg menjadi salah satu jenis usaha yang terkena dampak dari adanya pandemi Covid-19 di Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/01/13/455/2343555/20-000-warteg-di-jabodetabek-bakal-tutup</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/01/13/455/2343555/20-000-warteg-di-jabodetabek-bakal-tutup"/><item><title>20.000 Warteg di Jabodetabek Bakal Tutup</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/01/13/455/2343555/20-000-warteg-di-jabodetabek-bakal-tutup</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/01/13/455/2343555/20-000-warteg-di-jabodetabek-bakal-tutup</guid><pubDate>Rabu 13 Januari 2021 10:45 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/01/13/455/2343555/20-000-warteg-di-jabodebek-bakal-tutup-k3dOE6jZDq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Warteg (Foto: IndonesiaWarteg)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/01/13/455/2343555/20-000-warteg-di-jabodebek-bakal-tutup-k3dOE6jZDq.jpg</image><title>Warteg (Foto: IndonesiaWarteg)</title></images><description>JAKARTA - Pengusaha warteg menjadi salah satu jenis usaha yang terkena dampak dari adanya pandemi Covid-19 di Indonesia. Terhitung ada 20.000 kios warteg yang tersebar di Jabodetabek terpaksa gulung tikar karena tak sanggup membayar sewanya.
&quot;Kondisi kayak gini, sementara tutup dulu. Saya perkirakan hampir 20 ribuan di jabodetabek yang tutup, kalau jumlahnya 40ribuan,&quot; kata Ketua Koordinator Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) Mukroni kepada Okezone, Rabu (13/1/2021).
Baca Juga: Biaya Sewa Rp100 Juta, 10.000 Warteg Pindah dari Jakarta
 
Dia menjelaskan, harga sewa kontrakan untuk mereka berjualan di Jakarta itu tarifnya cukup mencekik para pedagang. Kata dia, rata-rata kontrakan di Ibu Kota untuk berdagang itu harganya kisaran Rp100 juta per tahun.
&quot;Rata-rata sekarang harga kontrakan di Jakarta Rp100 juta, makanya kini mereka pindah cari lokasi yang lebih murah,&quot; ujarnya.
Baca Juga: 10.000 Pengusaha Warteg Minggat dari Jakarta
 
Menurut dia, bila mereka memilih bertahan untuk berjualan, maka beban yang dibiayai semakin besar, sementara pemasukan sedikit.
&quot;Dengan kondisi kayak gini, mereka ambil sikap untuk sementara tutup, mengambil risiko yang lebih kecil, daripada ambil sewa lagi. Akhirnya dia pulang ke kampung karena kan enggak ada (bayar) sewa,&quot; ujarnya.
Dia menambahkan, dengan mereka pulang ke kampung halamannya, nasibnya  biasanya akan lebih baik. Sebab, banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan  dan menghasilkan uang demi membiayai keluarganya.
&quot;Kalau punya sawah balik ke petani, ada yang jadi supir angkot. Ada yang jadi pembantu warteg lagi,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pengusaha warteg menjadi salah satu jenis usaha yang terkena dampak dari adanya pandemi Covid-19 di Indonesia. Terhitung ada 20.000 kios warteg yang tersebar di Jabodetabek terpaksa gulung tikar karena tak sanggup membayar sewanya.
&quot;Kondisi kayak gini, sementara tutup dulu. Saya perkirakan hampir 20 ribuan di jabodetabek yang tutup, kalau jumlahnya 40ribuan,&quot; kata Ketua Koordinator Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) Mukroni kepada Okezone, Rabu (13/1/2021).
Baca Juga: Biaya Sewa Rp100 Juta, 10.000 Warteg Pindah dari Jakarta
 
Dia menjelaskan, harga sewa kontrakan untuk mereka berjualan di Jakarta itu tarifnya cukup mencekik para pedagang. Kata dia, rata-rata kontrakan di Ibu Kota untuk berdagang itu harganya kisaran Rp100 juta per tahun.
&quot;Rata-rata sekarang harga kontrakan di Jakarta Rp100 juta, makanya kini mereka pindah cari lokasi yang lebih murah,&quot; ujarnya.
Baca Juga: 10.000 Pengusaha Warteg Minggat dari Jakarta
 
Menurut dia, bila mereka memilih bertahan untuk berjualan, maka beban yang dibiayai semakin besar, sementara pemasukan sedikit.
&quot;Dengan kondisi kayak gini, mereka ambil sikap untuk sementara tutup, mengambil risiko yang lebih kecil, daripada ambil sewa lagi. Akhirnya dia pulang ke kampung karena kan enggak ada (bayar) sewa,&quot; ujarnya.
Dia menambahkan, dengan mereka pulang ke kampung halamannya, nasibnya  biasanya akan lebih baik. Sebab, banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan  dan menghasilkan uang demi membiayai keluarganya.
&quot;Kalau punya sawah balik ke petani, ada yang jadi supir angkot. Ada yang jadi pembantu warteg lagi,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
