<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Proyek Rp6,8 Triliun, Kini LRT Jakarta Cuma Angkut 102 Penumpang/Hari</title><description>Angkutan umum Light Rail Transit (LRT) Jakarta rute Gading-Velodrome menjadi sorotan karena sepi peminat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/01/21/320/2348655/proyek-rp6-8-triliun-kini-lrt-jakarta-cuma-angkut-102-penumpang-hari</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/01/21/320/2348655/proyek-rp6-8-triliun-kini-lrt-jakarta-cuma-angkut-102-penumpang-hari"/><item><title>Proyek Rp6,8 Triliun, Kini LRT Jakarta Cuma Angkut 102 Penumpang/Hari</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/01/21/320/2348655/proyek-rp6-8-triliun-kini-lrt-jakarta-cuma-angkut-102-penumpang-hari</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/01/21/320/2348655/proyek-rp6-8-triliun-kini-lrt-jakarta-cuma-angkut-102-penumpang-hari</guid><pubDate>Kamis 21 Januari 2021 20:05 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/01/21/320/2348655/proyek-rp6-8-triliun-kini-lrt-jakarta-cuma-angkut-102-penumpang-hari-Ypd6uIIcW7.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">LRT Jakarta (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/01/21/320/2348655/proyek-rp6-8-triliun-kini-lrt-jakarta-cuma-angkut-102-penumpang-hari-Ypd6uIIcW7.jpeg</image><title>LRT Jakarta (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Angkutan umum Light Rail Transit (LRT) Jakarta rute Gading-Velodrome menjadi sorotan karena sepi peminat. Hal ini membuat tingkat okupansi penumpang tidak sesuai target.
Moda transportasi Ibu Kota dengan nilai investasi sebesar Rp6,8 triliun itu hanya mengangkut 102 orang per harinya.
Angka itu jauh dari rencana awal Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat sebelum moda transportasi integrasi itu dibangun sejak 2015 silam. Rencana awal, okupansi diproyeksikan mampu membawa 14.000 penumpang per hari.
Baca Juga: LRT Jakarta 'Ditinggal' Penumpang, Ini Penampakannya
 
Manajemen PT LRT Jakarta menilai, tingkat keterisian yang tercatat minim itu akibat Pemerintah Pusat memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat pandemi Covid-19 berlangsung. Sebelumnya, kereta mengangkut 900 penumpang dalam sehari.
&quot;Penumpang di masa relaksasi tertinggi 900 penumpang. Jadi, kondisi pada saat kita buka komersial kira-kira 4.500 jadi 22-25 persen kembali menuju ke normalnya inline dengan kondisi masyarakat di sekitarnya,&quot; ujar Direktur LRT Jakarta Wijanarko dikutip pada Kamis (21/1/2021).
Reporter MNC News Portal menguji pernyataan manajemen LRT Jakarta. Dari pantauan di lapangan pada pekan ketiga Januari 2021, koridor yang menghubungkan Kelapa Gading-Velodrome sepanjang 5,8 kilometer (km) tersebut hanya didatangi sejumlah penumpang saja. Artinya, okupansi penumpang justru tidak mencapai 102 orang per hari.
Baca Juga: LRT Jakarta 'Ditinggal' Penumpang, Ini Penampakannya
 
Saat menjajaki tiga stasiun seperti Velodrome, Equestrian, dan Pulomas, suasana menggambarkan hal yang jauh dari keramaian layaknya stasiun kereta lain di kota besar seperti Jakarta. Kondisi di tiga stasiun itu hampir serupa, bahkan, di sisi kiri dan kanan stasiun Equestrian dan Pulomas tidak terlihat satu penumpang pun berjaga-jaga menunggu kereta tiba. Suasana hanya memperlihatkan sejumlah petugas keamanan sigap siap melayani penumpang.

Reporter MNC News Portal juga mencoba menjajaki kereta LRT secara bergantian dari dua arah yang berbeda, arah Velodrome-Pegangsaan dan sebaliknya. Sepanjang perjalanan tidak ada penambahan penumpang, meski kereta tetap berhenti disetiap stasiun. Sementara, kereta yang ditumpangi hanya mengangkut lima-enam orang saja.
LRT Jakarta memang didesain Pemerintah DKI Jakarta menggunakan sistem integrasi antar moda. Di mana, integrasi penumpang LRT dihubungkan dengan TransJakarta melalui skybridge di Jalan Pemuda. Manajemen perseroan plat merah milik Pemda DKI itu meyakini inovasi itu mampu mencapai target okupansi kereta. Namun, upaya itu masih menjadi harapan.Sebab Utama Minimnya Penumpang LRT Jakarta menilai pendeknya jalur atau koridor LRT Jakarta
Manajemen PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mencatat pendeknya jalur  konstruksi LRT Jakarta menjadi penyebab utama minimnya minat masyarakat  untuk menggunakan moda transportasi tersebut. Di mana, pada tahap satu  pembangunan rute LRT belum menjamah pusat-pusat strategis di Jakarta.  Sehingga upaya untuk memaksimalkan tingkat penggunaan belum bisa  direalisasikan.
Saat ini koridor LRT hanya mencakup enam stasiun saja yang  menghubungkan stasiun Kelapa Gading hingga Velodrome. Direktur Proyek  Jakarta International Stadium PT Jakarta Propertindo Iwan Takwin  menilai, semakin luas tingkat pelayanan transportasi, maka semakin  banyak penggunanya.
&quot;Secara logika karena angkutan transportasi itukan semakin jauh luas  pelayanannya, penumpangnya semakin banyak. Jadi semakin luas area  pelayanannya maka berbanding lurus dengan jumlah penumpangnya. Pada  tahap satu pelayanan koridornya masih minim. Nanti kalau diperpanjang  bisa mencakup beberapa area. Tentunya semakin luas area pelayanan, maka  okupansi semakin naik,&quot; ujar Iwan saat dikonfirmasi.
Dalam kajian pemda DKI, potensi pengguna LRT Jakarta menjadi salah  satu poin pertimbangan untuk memperluas rute moda lintas rel terpadu  itu. Artinya Pihak Anies Baswedan akan memperluas jangkauan LRT untuk  menjamah masyarakat Jakarta.
&quot;Itu yang menjadi salah satu pertimbangan dari konsultan yang  melakukan studi saat ini. Jadi perlu untuk menambahkan jalur LRY agar  target penumpangnya bisa tercapai. Itu semuanya dilakukan dalam studi  konsultan,&quot; kata dia.
Saat ini pihak Iwan tengah mengkaji keberlanjutan rencana konstruksi  pembangunan rute LRT Velodrome Rawamangun-Dukuh Atas. Kajian itu berupa  skema anggaran proyek, kelayakan, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan  (Amdal) dan hal lainnya.
&quot;Skema pembiayaan belum final, kita bersama-sama dengan konsultan,  melakukan studi kira-kira dari aspek proyek, keuangan seperti apa itu  bisa fleksibel. Nanti Jakpro diminta untuk mencari alternatif pendanaan,  apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini,&quot; ujar dia.
Sebelumnya, rencana pembangunan rute LRT Velodrome Rawamangun-Dukuh  Atas disebut akan dibatalkan karena dinilai terlalu terburu-buru.  Penghentian rencana pembangunan tersebut didasari atas ketidakpastian  pembangunan jalur MRT East-West yang belum tahu waktu dimulainya.
Iwan menepis hal itu, meskipun pihaknya belum bisa memastikan kapan  dimulainya konstruksi lanjutan. Dia bilang, usai kajian dilakukan,  Jakpro bersama dengan Dinas Pehubungan (Dishub) DKI Jakarta akan  melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ihwal  pemberian rekomendasi untuk keperluan penerbitan izin konstruksi LRT  Jakarta tahap dua.
&quot;Setelah itu terbit baru kita pikirkan konstruksinya karena durasi  pembangunan baru bisa kelihatan kalau sudah dipastikan jalur dan panjang  transitnya, besar stasiun, dll, ini masuk dalam studi kita,&quot; tutur dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Angkutan umum Light Rail Transit (LRT) Jakarta rute Gading-Velodrome menjadi sorotan karena sepi peminat. Hal ini membuat tingkat okupansi penumpang tidak sesuai target.
Moda transportasi Ibu Kota dengan nilai investasi sebesar Rp6,8 triliun itu hanya mengangkut 102 orang per harinya.
Angka itu jauh dari rencana awal Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat sebelum moda transportasi integrasi itu dibangun sejak 2015 silam. Rencana awal, okupansi diproyeksikan mampu membawa 14.000 penumpang per hari.
Baca Juga: LRT Jakarta 'Ditinggal' Penumpang, Ini Penampakannya
 
Manajemen PT LRT Jakarta menilai, tingkat keterisian yang tercatat minim itu akibat Pemerintah Pusat memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat pandemi Covid-19 berlangsung. Sebelumnya, kereta mengangkut 900 penumpang dalam sehari.
&quot;Penumpang di masa relaksasi tertinggi 900 penumpang. Jadi, kondisi pada saat kita buka komersial kira-kira 4.500 jadi 22-25 persen kembali menuju ke normalnya inline dengan kondisi masyarakat di sekitarnya,&quot; ujar Direktur LRT Jakarta Wijanarko dikutip pada Kamis (21/1/2021).
Reporter MNC News Portal menguji pernyataan manajemen LRT Jakarta. Dari pantauan di lapangan pada pekan ketiga Januari 2021, koridor yang menghubungkan Kelapa Gading-Velodrome sepanjang 5,8 kilometer (km) tersebut hanya didatangi sejumlah penumpang saja. Artinya, okupansi penumpang justru tidak mencapai 102 orang per hari.
Baca Juga: LRT Jakarta 'Ditinggal' Penumpang, Ini Penampakannya
 
Saat menjajaki tiga stasiun seperti Velodrome, Equestrian, dan Pulomas, suasana menggambarkan hal yang jauh dari keramaian layaknya stasiun kereta lain di kota besar seperti Jakarta. Kondisi di tiga stasiun itu hampir serupa, bahkan, di sisi kiri dan kanan stasiun Equestrian dan Pulomas tidak terlihat satu penumpang pun berjaga-jaga menunggu kereta tiba. Suasana hanya memperlihatkan sejumlah petugas keamanan sigap siap melayani penumpang.

Reporter MNC News Portal juga mencoba menjajaki kereta LRT secara bergantian dari dua arah yang berbeda, arah Velodrome-Pegangsaan dan sebaliknya. Sepanjang perjalanan tidak ada penambahan penumpang, meski kereta tetap berhenti disetiap stasiun. Sementara, kereta yang ditumpangi hanya mengangkut lima-enam orang saja.
LRT Jakarta memang didesain Pemerintah DKI Jakarta menggunakan sistem integrasi antar moda. Di mana, integrasi penumpang LRT dihubungkan dengan TransJakarta melalui skybridge di Jalan Pemuda. Manajemen perseroan plat merah milik Pemda DKI itu meyakini inovasi itu mampu mencapai target okupansi kereta. Namun, upaya itu masih menjadi harapan.Sebab Utama Minimnya Penumpang LRT Jakarta menilai pendeknya jalur atau koridor LRT Jakarta
Manajemen PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mencatat pendeknya jalur  konstruksi LRT Jakarta menjadi penyebab utama minimnya minat masyarakat  untuk menggunakan moda transportasi tersebut. Di mana, pada tahap satu  pembangunan rute LRT belum menjamah pusat-pusat strategis di Jakarta.  Sehingga upaya untuk memaksimalkan tingkat penggunaan belum bisa  direalisasikan.
Saat ini koridor LRT hanya mencakup enam stasiun saja yang  menghubungkan stasiun Kelapa Gading hingga Velodrome. Direktur Proyek  Jakarta International Stadium PT Jakarta Propertindo Iwan Takwin  menilai, semakin luas tingkat pelayanan transportasi, maka semakin  banyak penggunanya.
&quot;Secara logika karena angkutan transportasi itukan semakin jauh luas  pelayanannya, penumpangnya semakin banyak. Jadi semakin luas area  pelayanannya maka berbanding lurus dengan jumlah penumpangnya. Pada  tahap satu pelayanan koridornya masih minim. Nanti kalau diperpanjang  bisa mencakup beberapa area. Tentunya semakin luas area pelayanan, maka  okupansi semakin naik,&quot; ujar Iwan saat dikonfirmasi.
Dalam kajian pemda DKI, potensi pengguna LRT Jakarta menjadi salah  satu poin pertimbangan untuk memperluas rute moda lintas rel terpadu  itu. Artinya Pihak Anies Baswedan akan memperluas jangkauan LRT untuk  menjamah masyarakat Jakarta.
&quot;Itu yang menjadi salah satu pertimbangan dari konsultan yang  melakukan studi saat ini. Jadi perlu untuk menambahkan jalur LRY agar  target penumpangnya bisa tercapai. Itu semuanya dilakukan dalam studi  konsultan,&quot; kata dia.
Saat ini pihak Iwan tengah mengkaji keberlanjutan rencana konstruksi  pembangunan rute LRT Velodrome Rawamangun-Dukuh Atas. Kajian itu berupa  skema anggaran proyek, kelayakan, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan  (Amdal) dan hal lainnya.
&quot;Skema pembiayaan belum final, kita bersama-sama dengan konsultan,  melakukan studi kira-kira dari aspek proyek, keuangan seperti apa itu  bisa fleksibel. Nanti Jakpro diminta untuk mencari alternatif pendanaan,  apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini,&quot; ujar dia.
Sebelumnya, rencana pembangunan rute LRT Velodrome Rawamangun-Dukuh  Atas disebut akan dibatalkan karena dinilai terlalu terburu-buru.  Penghentian rencana pembangunan tersebut didasari atas ketidakpastian  pembangunan jalur MRT East-West yang belum tahu waktu dimulainya.
Iwan menepis hal itu, meskipun pihaknya belum bisa memastikan kapan  dimulainya konstruksi lanjutan. Dia bilang, usai kajian dilakukan,  Jakpro bersama dengan Dinas Pehubungan (Dishub) DKI Jakarta akan  melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ihwal  pemberian rekomendasi untuk keperluan penerbitan izin konstruksi LRT  Jakarta tahap dua.
&quot;Setelah itu terbit baru kita pikirkan konstruksinya karena durasi  pembangunan baru bisa kelihatan kalau sudah dipastikan jalur dan panjang  transitnya, besar stasiun, dll, ini masuk dalam studi kita,&quot; tutur dia.</content:encoded></item></channel></rss>
