<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Waspada! Impor Turun Bakal Pengaruhi Konsumsi</title><description>Pemerintah perlu waspada terhadap penurunan impor Indonesia sepanjang 2020.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/01/27/320/2351655/waspada-impor-turun-bakal-pengaruhi-konsumsi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/01/27/320/2351655/waspada-impor-turun-bakal-pengaruhi-konsumsi"/><item><title>Waspada! Impor Turun Bakal Pengaruhi Konsumsi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/01/27/320/2351655/waspada-impor-turun-bakal-pengaruhi-konsumsi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/01/27/320/2351655/waspada-impor-turun-bakal-pengaruhi-konsumsi</guid><pubDate>Rabu 27 Januari 2021 12:50 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/01/27/320/2351655/waspada-impor-turun-bakal-pengaruhi-konsumsi-NZ4xmkucO8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kontainer (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/01/27/320/2351655/waspada-impor-turun-bakal-pengaruhi-konsumsi-NZ4xmkucO8.jpg</image><title>Kontainer (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah perlu waspada terhadap penurunan impor Indonesia sepanjang 2020. Sebab, penurunan impor berpengaruh pada kinerja sektor bisnis dalam negeri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.


Ketua Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) Sunarso mengatakan, penurunan impor dinilai berpengaruh besar pada tingkat konsumsi atau permintaan. Artinya, semakin impor Indonesia menurun, maka dipastikan tingkat permintaan dan konsumsi terhadap industri dalam negeri juga menurun. Penurunan itu selanjutnya memberi berpengaruh besar pada tingkat permintaan kredit di perbankan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Mendag Segera Perbaiki Tata Kelola Barang Impor
&quot;Industri yang banyak menyerap tenaga kerja itu industri tekstil. Itu yang diimpor itu mulai dari mesin, bahan baku, rayon, kemikal, itu impor. Kalau itu yang menurun otomatis kapasitas yang terpakai di dalam negeri menurun, itu artinya harus waspada kita. Itu sangat signifikan pengaruhnya terhadap penurunan konsumsi atau penurunan permintaan,&quot; ujarnya dalam gelaran Summit Indonesia 2021, Rabu (27/1/2021).


Badan Pusat Statistik (BPS) merilis total impor Indonesia di sepanjang 2020 atau dalam periode Januari-Desember tahun lalu sebesar USD141,57 miliar. Nilai tersebut mengalami penurunan yang cukup dalam, yaitu 17,34 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama 2019 yang tercatat USD171,28 miliar.

 
&amp;nbsp;Baca juga: Banjir Impor, Pengusaha Minta Tata Niaga Bahan Baku Tekstil Diperbaiki
Lelaki yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank BRI (Persero) meminta, Kementerian Perdagangan (Kemendag) segera mencermati persoalan tersebut. Dia bilang, industri besar Tanah Air seperti Tekstil sangat bergantung pada bahan-bahan impor. Di sisi lain, industri tekstil menjadi sektor bisnis yang paling banyak menampung jumlah tenaga kerja.Dalam hitungannya, persoalan itu mempengaruhi kemampuan perbankan  mengelola kesempatan employment permintaan kredit.  Secara siklus,  persoalan itu akan menghambat pertumbuhan ekonomi secara nasional,  khususnya kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).


&quot;Kemudian, konsumsi yang ternyata dikonsumsi melalui e-commerce  ternyata barang-barang yang diimpor ternyata, yang menurun itu justru  impor bahan baku yang akan dikerjakan di sini, sementara yang impor  bahan jadi katakanlah tidak ikut menurun itu berbahaya, karena terhadap  kemampuan kita melakukan employment. Jadi ini ini yang harus dicermati  dan  emploitment yang mempengaruhi terhadap permintaan, dan permintaan  ini berpengaruh terhadap pertumbuhan kredit, dan pertumbuhan kredit  berpengaruh pada GDP.


Dari total impor, BPS melaporkan, pangsa yang paling besar adalah  berupa mesin dan peralatan mekanis sebesar 17,13 persen dari total  ekspor dan mesin serta perlengkapan elektrik dengan pangsa 14,95 persen.


Bila menilik impor Indonesia berdasarkan penggunaan barang, semua  impor yang dilakukan oleh Indonesia mengalami penurunan impor. Contohnya  impor barang konsumsi. BPS mencatat impor barang konsumsi sebesar  USD14,66 miliar atau turun 10,93 persen dari capaian pada tahun 2019  yang sebesar USD16,45 miliar.


Sementara impor bahan baku atau penolong tercatat sebesar USD103,21  miliar atau tergerus minus 18,32 persen dari impor bahan baku pada tahun  2019 yang sebesar USD126,36 miliar. Kemudian, impor barang modal  tercatat sebesar USD23,70 miliar atau turun 16,73 persen yoy dari tahun  2019 yang sebesar USD28,47 miliar.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah perlu waspada terhadap penurunan impor Indonesia sepanjang 2020. Sebab, penurunan impor berpengaruh pada kinerja sektor bisnis dalam negeri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.


Ketua Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) Sunarso mengatakan, penurunan impor dinilai berpengaruh besar pada tingkat konsumsi atau permintaan. Artinya, semakin impor Indonesia menurun, maka dipastikan tingkat permintaan dan konsumsi terhadap industri dalam negeri juga menurun. Penurunan itu selanjutnya memberi berpengaruh besar pada tingkat permintaan kredit di perbankan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Mendag Segera Perbaiki Tata Kelola Barang Impor
&quot;Industri yang banyak menyerap tenaga kerja itu industri tekstil. Itu yang diimpor itu mulai dari mesin, bahan baku, rayon, kemikal, itu impor. Kalau itu yang menurun otomatis kapasitas yang terpakai di dalam negeri menurun, itu artinya harus waspada kita. Itu sangat signifikan pengaruhnya terhadap penurunan konsumsi atau penurunan permintaan,&quot; ujarnya dalam gelaran Summit Indonesia 2021, Rabu (27/1/2021).


Badan Pusat Statistik (BPS) merilis total impor Indonesia di sepanjang 2020 atau dalam periode Januari-Desember tahun lalu sebesar USD141,57 miliar. Nilai tersebut mengalami penurunan yang cukup dalam, yaitu 17,34 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama 2019 yang tercatat USD171,28 miliar.

 
&amp;nbsp;Baca juga: Banjir Impor, Pengusaha Minta Tata Niaga Bahan Baku Tekstil Diperbaiki
Lelaki yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank BRI (Persero) meminta, Kementerian Perdagangan (Kemendag) segera mencermati persoalan tersebut. Dia bilang, industri besar Tanah Air seperti Tekstil sangat bergantung pada bahan-bahan impor. Di sisi lain, industri tekstil menjadi sektor bisnis yang paling banyak menampung jumlah tenaga kerja.Dalam hitungannya, persoalan itu mempengaruhi kemampuan perbankan  mengelola kesempatan employment permintaan kredit.  Secara siklus,  persoalan itu akan menghambat pertumbuhan ekonomi secara nasional,  khususnya kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).


&quot;Kemudian, konsumsi yang ternyata dikonsumsi melalui e-commerce  ternyata barang-barang yang diimpor ternyata, yang menurun itu justru  impor bahan baku yang akan dikerjakan di sini, sementara yang impor  bahan jadi katakanlah tidak ikut menurun itu berbahaya, karena terhadap  kemampuan kita melakukan employment. Jadi ini ini yang harus dicermati  dan  emploitment yang mempengaruhi terhadap permintaan, dan permintaan  ini berpengaruh terhadap pertumbuhan kredit, dan pertumbuhan kredit  berpengaruh pada GDP.


Dari total impor, BPS melaporkan, pangsa yang paling besar adalah  berupa mesin dan peralatan mekanis sebesar 17,13 persen dari total  ekspor dan mesin serta perlengkapan elektrik dengan pangsa 14,95 persen.


Bila menilik impor Indonesia berdasarkan penggunaan barang, semua  impor yang dilakukan oleh Indonesia mengalami penurunan impor. Contohnya  impor barang konsumsi. BPS mencatat impor barang konsumsi sebesar  USD14,66 miliar atau turun 10,93 persen dari capaian pada tahun 2019  yang sebesar USD16,45 miliar.


Sementara impor bahan baku atau penolong tercatat sebesar USD103,21  miliar atau tergerus minus 18,32 persen dari impor bahan baku pada tahun  2019 yang sebesar USD126,36 miliar. Kemudian, impor barang modal  tercatat sebesar USD23,70 miliar atau turun 16,73 persen yoy dari tahun  2019 yang sebesar USD28,47 miliar.</content:encoded></item></channel></rss>
