<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Antisipasi Kepadatan KRL, BPTJ Sediakan Angkutan Alternatif</title><description>Pemerintah kembali menyediakan angkutan bus alternatif yang hanya dioperasikan pada hari dan jam tertentu.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/01/31/320/2353996/antisipasi-kepadatan-krl-bptj-sediakan-angkutan-alternatif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/01/31/320/2353996/antisipasi-kepadatan-krl-bptj-sediakan-angkutan-alternatif"/><item><title>Antisipasi Kepadatan KRL, BPTJ Sediakan Angkutan Alternatif</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/01/31/320/2353996/antisipasi-kepadatan-krl-bptj-sediakan-angkutan-alternatif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/01/31/320/2353996/antisipasi-kepadatan-krl-bptj-sediakan-angkutan-alternatif</guid><pubDate>Minggu 31 Januari 2021 17:06 WIB</pubDate><dc:creator>Oktiani Endarwati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/01/31/320/2353996/antisipasi-kepadatan-krl-bptj-sediakan-angkutan-alternatif-oWQuyR7Wff.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Transsjakarta (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/01/31/320/2353996/antisipasi-kepadatan-krl-bptj-sediakan-angkutan-alternatif-oWQuyR7Wff.jpg</image><title>Transsjakarta (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah kembali menyediakan angkutan bus alternatif yang hanya dioperasikan pada hari dan jam tertentu. Di mana sering terjadi lonjakan penumpang KRL.

Hal ini sebagai upaya menegakkan protokol kesehatan di angkutan umum pada masa pandemi Covid-19 khususnya pada KRL Komuter Jabodetabek.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Anggaran 2021 Dipangkas, Kemenhub Pastikan Subsidi Angkutan hingga Infrastruktur Tetap Dilakukan
Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Polana B. Pramesti mengatakan, angkutan bus alternatif ini benar-benar hanya dioperasikan apabila terjadi lonjakan penumpang pada waktu tertentu. Jika tidak terjadi lonjakan maka angkutan bus tersebut tidak akan dioperasikan.

Menurut Polana, hal ini untuk menegaskan agar keberadaan angkutan bus alternatif ini meski gratis tidak kemudian justru memberikan kelonggaran terhadap masyarakat yang tetap harus mematuhi pembatasan kegiatan selama masa pandemi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Rugikan Negara Rp43 Triliun, Masalah Truk 'Obesitas' Harus Diselesaikan
&quot;Sesuai aturan yang berlaku baik PPKM maupun PSBB, selama masa pandemi kegiatan masyarakat pada dasarnya dibatasi,&quot; ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (31/1/2021).Dia melanjutkan, penyelenggaraan transportasi publik tetap berjalan  hanya untuk memberikan layanan kepada masyarakat yang masih harus  beraktivitas dengan tetap konsisten menjalankan protokol kesehatan.

Operasional bus alternatif tersebut telah dimulai sejak awal bulan  Januari 2021 dan diharapkan berlangsung hingga Juni 2021, setiap Senin  pagi dari beberapa titik di sekitar stasiun di wilayah Bogor dan Stasiun  Cikarang, Bekasi menuju Jakarta.

Pelayanan serupa sebenarnya sudah dilakukan sejak bulan Mei 2020  menyusul terjadinya pandemi Covid-19. Kebijakan ini ditempuh dengan  tujuan agar pelayanan KRL Komuter Jabodetabek yang menjadi andalan utama  masyarakat pelaju dapat menerapkan physical distancing sebagai salah  satu aspek penting protokol kesehatan untuk mengurangi semaksimal  mungkin potensi penularan covid-19 di dalam KRL. Sejak berkembangnya  pandemi covid-19 hingga saat ini jumlah penumpang KRL dibatasi hingga  hanya 35 - 40%.

Meski kegiatan masyarakat sebenarnya juga dilakukan pembatasan  melalui Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ataupun  Pembatasan Sosial Berskala Besar  (PSBB), ternyata pada waktu tertentu  terutama pada Senin Pagi masih sering terjadi lonjakan penumpang KRL di  titik titik tertentu yang berpotensi menyebabkan physical distancing  tidak maksimal. Oleh karena itu pemerintah memutuskan pada tahun 2021  penyediaan bus alternatif untuk antisipasi lonjakan penumpang di KRL ini  kembali dilakukan.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah kembali menyediakan angkutan bus alternatif yang hanya dioperasikan pada hari dan jam tertentu. Di mana sering terjadi lonjakan penumpang KRL.

Hal ini sebagai upaya menegakkan protokol kesehatan di angkutan umum pada masa pandemi Covid-19 khususnya pada KRL Komuter Jabodetabek.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Anggaran 2021 Dipangkas, Kemenhub Pastikan Subsidi Angkutan hingga Infrastruktur Tetap Dilakukan
Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Polana B. Pramesti mengatakan, angkutan bus alternatif ini benar-benar hanya dioperasikan apabila terjadi lonjakan penumpang pada waktu tertentu. Jika tidak terjadi lonjakan maka angkutan bus tersebut tidak akan dioperasikan.

Menurut Polana, hal ini untuk menegaskan agar keberadaan angkutan bus alternatif ini meski gratis tidak kemudian justru memberikan kelonggaran terhadap masyarakat yang tetap harus mematuhi pembatasan kegiatan selama masa pandemi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Rugikan Negara Rp43 Triliun, Masalah Truk 'Obesitas' Harus Diselesaikan
&quot;Sesuai aturan yang berlaku baik PPKM maupun PSBB, selama masa pandemi kegiatan masyarakat pada dasarnya dibatasi,&quot; ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (31/1/2021).Dia melanjutkan, penyelenggaraan transportasi publik tetap berjalan  hanya untuk memberikan layanan kepada masyarakat yang masih harus  beraktivitas dengan tetap konsisten menjalankan protokol kesehatan.

Operasional bus alternatif tersebut telah dimulai sejak awal bulan  Januari 2021 dan diharapkan berlangsung hingga Juni 2021, setiap Senin  pagi dari beberapa titik di sekitar stasiun di wilayah Bogor dan Stasiun  Cikarang, Bekasi menuju Jakarta.

Pelayanan serupa sebenarnya sudah dilakukan sejak bulan Mei 2020  menyusul terjadinya pandemi Covid-19. Kebijakan ini ditempuh dengan  tujuan agar pelayanan KRL Komuter Jabodetabek yang menjadi andalan utama  masyarakat pelaju dapat menerapkan physical distancing sebagai salah  satu aspek penting protokol kesehatan untuk mengurangi semaksimal  mungkin potensi penularan covid-19 di dalam KRL. Sejak berkembangnya  pandemi covid-19 hingga saat ini jumlah penumpang KRL dibatasi hingga  hanya 35 - 40%.

Meski kegiatan masyarakat sebenarnya juga dilakukan pembatasan  melalui Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ataupun  Pembatasan Sosial Berskala Besar  (PSBB), ternyata pada waktu tertentu  terutama pada Senin Pagi masih sering terjadi lonjakan penumpang KRL di  titik titik tertentu yang berpotensi menyebabkan physical distancing  tidak maksimal. Oleh karena itu pemerintah memutuskan pada tahun 2021  penyediaan bus alternatif untuk antisipasi lonjakan penumpang di KRL ini  kembali dilakukan.</content:encoded></item></channel></rss>
