<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Industri Baterai Mobil Listrik, Investor Butuh Jaminan Bahan Baku</title><description>Pemerintah memiliki ambisi besar untuk mengembangkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik pada tahun 2025.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/03/320/2356038/industri-baterai-mobil-listrik-investor-butuh-jaminan-bahan-baku</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/02/03/320/2356038/industri-baterai-mobil-listrik-investor-butuh-jaminan-bahan-baku"/><item><title>Industri Baterai Mobil Listrik, Investor Butuh Jaminan Bahan Baku</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/03/320/2356038/industri-baterai-mobil-listrik-investor-butuh-jaminan-bahan-baku</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/02/03/320/2356038/industri-baterai-mobil-listrik-investor-butuh-jaminan-bahan-baku</guid><pubDate>Rabu 03 Februari 2021 20:36 WIB</pubDate><dc:creator>Oktiani Endarwati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/03/320/2356038/industri-baterai-mobil-listrik-investor-butuh-jaminan-bahan-baku-VV5EnmEWnc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Baterai Mobil Listrik (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/03/320/2356038/industri-baterai-mobil-listrik-investor-butuh-jaminan-bahan-baku-VV5EnmEWnc.jpg</image><title>Baterai Mobil Listrik (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah memiliki ambisi besar untuk mengembangkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik pada tahun 2025. Dalam mewujudkan cita-cita tersebut, saat ini pemerintah sedang dilakukan penjajakan calon mitra atau investor.

Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik (Electric Vehicle/ EV Battery) Agus Tjahajana mengatakan, pihaknya masih melakukan sejumlah negosiasi dengan beberapa calon mitra untuk menggarap industri baterai kendaraan listrik. Dari proses penjajakan calon mitra untuk gelombang satu terdapat 7 grup perusahaan yang memenuhi kriteria, diantaranya CATL, LG Chem, Samsung, Tesla, Panasonic.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Tesla dan BASF Masuk ke Industri Baterai RI, Bos BKPM: Kolaborasi Tepat
Menurut Agus, Tesla merupakan salah satu calon mitra yang aktif melakukan komunikasi dengan tim. Saat ini pihaknya masih mempelajari ketertarikan Tesla dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.

&quot;Mengenai Tesla, kita sudah mencari tahu dan sedang mempelajari mereka mau masuknya ke mana karena baru masuk belakangan. Dari pembicaraan kemarin yang kami tangkap, Tesla ingin masuk ke ESS (Energy Storage System),&quot; ujarnya dalam diskusi, Kamis (3/2/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga:  Holding BUMN Baterai Listrik Ditargetkan Lahir di Semester I-2021
Sementara calon mitra lain, yakni CATL dan LG masih dilakukan negosiasi terkait kepastian bahan baku komponen baterai. Menurut Agus, mereka butuh jaminan bahwa bahan baku tersedia hingga puluhan tahun untuk keberlangsungan bisnis mereka ke depannya.

&quot;Mereka ingin terjamin bahan bakunya ada selama berproduksi. Saya kira itu sesuatu yang wajar karena takutnya 10 tahun bahkan 20 tahun akan habis sehingga mereka ingin memastikan bahan baku cukup supaya investasinya tidak sia-sia,&quot; jelas Agus.Agus menambahkan, pada tahun ini Indonesia Battery Holding (IBH) akan  fokus menyelesaikan pengembangan penggunaan ESS melalui PT PLN  (Persero). Selanjutnya, di tahun 2022 akan mulai memproduksi baterai  dengan kapasitas kecil untuk motor listrik.

&quot;Untuk yang besar kita harapkan selesai tahun 2024,&quot; ungkapnya.

CEO Subholding Power &amp;amp; New Renewable Energy (PNRE) Pertamina Heru  Setiawan mengatakan, pihaknya akan terlibat dari proses pembuatan  prekursor, katoda, sel baterai, hingga battery pack. Pertamina juga akan  membangun pabrik baterai dengan kapasitas sebesar 140 GW.

&quot;Ekspektasi kita bisa sampai 140 GW dan kita harapkan akan menjadi  global supply chain dan akan menyuplai produsen-produsen mobil listrik  di seluruh dunia baik itu Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik,&quot; tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah memiliki ambisi besar untuk mengembangkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik pada tahun 2025. Dalam mewujudkan cita-cita tersebut, saat ini pemerintah sedang dilakukan penjajakan calon mitra atau investor.

Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik (Electric Vehicle/ EV Battery) Agus Tjahajana mengatakan, pihaknya masih melakukan sejumlah negosiasi dengan beberapa calon mitra untuk menggarap industri baterai kendaraan listrik. Dari proses penjajakan calon mitra untuk gelombang satu terdapat 7 grup perusahaan yang memenuhi kriteria, diantaranya CATL, LG Chem, Samsung, Tesla, Panasonic.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Tesla dan BASF Masuk ke Industri Baterai RI, Bos BKPM: Kolaborasi Tepat
Menurut Agus, Tesla merupakan salah satu calon mitra yang aktif melakukan komunikasi dengan tim. Saat ini pihaknya masih mempelajari ketertarikan Tesla dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.

&quot;Mengenai Tesla, kita sudah mencari tahu dan sedang mempelajari mereka mau masuknya ke mana karena baru masuk belakangan. Dari pembicaraan kemarin yang kami tangkap, Tesla ingin masuk ke ESS (Energy Storage System),&quot; ujarnya dalam diskusi, Kamis (3/2/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga:  Holding BUMN Baterai Listrik Ditargetkan Lahir di Semester I-2021
Sementara calon mitra lain, yakni CATL dan LG masih dilakukan negosiasi terkait kepastian bahan baku komponen baterai. Menurut Agus, mereka butuh jaminan bahwa bahan baku tersedia hingga puluhan tahun untuk keberlangsungan bisnis mereka ke depannya.

&quot;Mereka ingin terjamin bahan bakunya ada selama berproduksi. Saya kira itu sesuatu yang wajar karena takutnya 10 tahun bahkan 20 tahun akan habis sehingga mereka ingin memastikan bahan baku cukup supaya investasinya tidak sia-sia,&quot; jelas Agus.Agus menambahkan, pada tahun ini Indonesia Battery Holding (IBH) akan  fokus menyelesaikan pengembangan penggunaan ESS melalui PT PLN  (Persero). Selanjutnya, di tahun 2022 akan mulai memproduksi baterai  dengan kapasitas kecil untuk motor listrik.

&quot;Untuk yang besar kita harapkan selesai tahun 2024,&quot; ungkapnya.

CEO Subholding Power &amp;amp; New Renewable Energy (PNRE) Pertamina Heru  Setiawan mengatakan, pihaknya akan terlibat dari proses pembuatan  prekursor, katoda, sel baterai, hingga battery pack. Pertamina juga akan  membangun pabrik baterai dengan kapasitas sebesar 140 GW.

&quot;Ekspektasi kita bisa sampai 140 GW dan kita harapkan akan menjadi  global supply chain dan akan menyuplai produsen-produsen mobil listrik  di seluruh dunia baik itu Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik,&quot; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
