<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengamat Ungkap Resep Jitu Demi Kerek Permintaan Kredit</title><description>Tingkat permintaan dan penyaluran kredit perbankan yang masih rendah  dinilai terjadi bukan karena faktor tingginya suku bunga kredit.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/04/320/2356638/pengamat-ungkap-resep-jitu-demi-kerek-permintaan-kredit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/02/04/320/2356638/pengamat-ungkap-resep-jitu-demi-kerek-permintaan-kredit"/><item><title>Pengamat Ungkap Resep Jitu Demi Kerek Permintaan Kredit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/04/320/2356638/pengamat-ungkap-resep-jitu-demi-kerek-permintaan-kredit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/02/04/320/2356638/pengamat-ungkap-resep-jitu-demi-kerek-permintaan-kredit</guid><pubDate>Kamis 04 Februari 2021 19:02 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/04/320/2356638/pengamat-ungkap-resep-jitu-demi-kerek-permintaan-kredit-yJccLRqZfj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/04/320/2356638/pengamat-ungkap-resep-jitu-demi-kerek-permintaan-kredit-yJccLRqZfj.jpg</image><title>Rupiah (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Tingkat permintaan dan penyaluran kredit perbankan yang masih rendah dinilai terjadi bukan karena faktor tingginya suku bunga kredit yang berlaku, melainkan akibat masih adanya keraguan masyarakat dan pelaku usaha untuk mengambil pembiayaan di lembaga keuangan.

Analis pasar uang dari Bank Woori Bersaudara Rully Nova mengatakan, upaya meningkatkan penyaluran kredit perbankan tidak bisa dilakukan semata melalui formula penurunan suku bunga, dan penyediaan likuiditas bagi bank. Apalagi, saat ini terbukti likuiditas sejumlah bank masih dalam taraf aman, dan suku bunga kredit telah secara beruntun turun sejak pandemi Covid-19 melanda.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kontribusi Besar ke PEN, Penyaluran Kredit BRI Capai Rp938,37 Triliun
&amp;ldquo;Terkait pasar kredit yang belum membaik, masalahnya bukan di ekonomi. Jadi salah besar kalau dikasih obat suku bunga dan likuiditas. Masalahnya ada ketakutan di masyarakat karena pandemi belum bisa dikendalikan dengan baik oleh pemerintah. Ada pembatasan kegiatan masyarakat dan bisnis yang tidak growth, jadi pengusaha takut ngambil kredit, takut nggak bisa bayar,&amp;rdquo; ujar Rully.

Dia berpendapat, krisis yang terjadi saat ini berbeda dengan kesulitan-kesulitan terdahulu. Pada krisis di tahun-tahun yang lalu, kesulitan terjadi akibat masalah ekonomi. Karena itu, formula untuk menjaga dan menaikkan permintaan kredit bisa melalui suntikan likuiditas serta penerapan disiplin fiskal.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Catatan OJK, Bunga Kredit Bank Sudah Turun
Saat ini, kesulitan ekonomi terjadi akibat pandemi. Kondisi ini membuat pendekatan yang diambil untuk mengatasi krisis harus berbeda dibanding sebelumnya.

&amp;ldquo;Saya lihat pemerintah sudah habis-habisan mengeluarkan kebijakan untuk mendorong kredit, tapi memang masih ada ketakutan di masyarakat. Jadi resepnya ya memulihkan ketakutan di masyarakat, membuat masyarakat confident bahwa kita bisa melewati tantangan pandemi ini,&amp;rdquo; ujarnya.

Dihubungi terpisah, Ekonom Bank Permata Josua Pardede berkata, tren penurunan suku bunga kredit perbankan yang cenderung lambat dipengaruhi meningkatnya risiko kredit karena adanya penurunan aktivitas ekonomi dari sisi permintaan dan penawaran. Josua menilai tren penurunan suku bunga kredit perbankan akan terus berlanjut sepanjang 2021.&amp;ldquo;Penurunan suku bunga kredit konsumsi cenderung lebih rendah  dibandingkan dengan kredit investasi dan modal kerja mempertimbangkan  risk premium kredit konsumsi yang cenderung lebih tinggi daripada kredit  modal kerja dan investasi, mempertimbangkan bahwa restrukturisasi  kredit yang diimplementasikan oleh OJK lebih fokus pada restrukturisasi  kredit produktif. Ke depannya, suku bunga kredit modal kerja berpotensi  turun lebih mempertimbangkan bahwa permintaan kredit modal kerja yang  akan cenderung pulih lebih awal, dengan catatan pemulihan ekonomi  domestik berimplikasi pada meningkatnya permintaan kredit untuk modal  kerja,&amp;rdquo; ujar Josua.

Pada awal Januari lalu, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)  mengungkap tren penurunan suku bunga pinjaman telah berlangsung sejak  2015 bersamaan dengan turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia. Akan  tetapi, selama penurunan suku bunga kredit terjadi, permintaan kredit  tidak mengalami kenaikan signifikan.

Berdasarkan hasil analisa Himbara, faktor yang paling elastis atau  memengaruhi pertumbuhan kredit adalah tingkat konsumsi rumah tangga dan  daya beli masyarakat. Selain dua variabel ini, faktor lain yang turut  berkontribusi membuat naik/turunnya permintaan kredit adalah suku bunga,  NPL, dan penjualan ritel.

Himbara juga mengungkapkan bahwa sudah tepat pemerintah mengeluarkan  berbagai stimulus yang diterima masyarakat bawah, yang diberikan kepada  pengusaha mikro dan kecil. Karena dengan stimulus tersebut dapat  menggerakkan perekonomian, khususnya mengungkit daya beli masyarakat dan  konsumsi rumah tangga.

Penurunan bunga acuan sebenarnya juga telah diikuti dengan penurunan  suku bunga perbankan, salah satunya adalah BRI yang sepanjang tahun  2020, telah menurunkan suku bunganya sebesar 75 bps &amp;ndash; 150 bps. Penurunan  suku bunga tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan dan  penyelamatan yang dilakukan oleh BRI terhadap UMKM yang sedang bergelut  dengan kondisi pandemi. Penurunan suku bunga tersebut juga merupakan  dampak dari efisiensi yang dilakukan bank baik dari sisi mobilisasi dana  pihak ketiga dan digitalisasi proses bisnis yang dilakukan BRI.

Salah satu bank yang dianggap berhasil mendorong pertumbuhan  kreditnya adalah BRI, di mana penyaluran total kredit BRI telah mencapai  Rp 938,37 triliun atau tumbuh 3,89 persen yoy sepanjang tahun 2020,  bahkan kredit mikro BRI mampu tumbuh double digit sebesar 14,18 persen.  Angka tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan  kredit nasional tahun 2020 yang diperkirakan OJK berada dikisaran minus 1  hingga 2 persen.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Desember 2020  tingkat rata-rata suku bunga kredit (SBK) perbankan telah turun hingga  single digit. SBK Kredit Modal Kerja turun 88 bps menjadi 8,88 persen,  lalu SBK Kredit Investasi turun 102 bps menjadi 9,21 persen, dan SBK  Kredit Konsumsi turun 65 bps menjadi 10,97 persen.

Kemudian, Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) seluruh segmen kredit telah  berada pada level single digit, yaitu SBDK ritel 8,88 persen, SBDK  korporasi 8,75 persen, SBDK KPR 8,36 persen, SBDK non KPR 8,69 persen,  dan SBDK Mikro 7,33 persen.</description><content:encoded>JAKARTA - Tingkat permintaan dan penyaluran kredit perbankan yang masih rendah dinilai terjadi bukan karena faktor tingginya suku bunga kredit yang berlaku, melainkan akibat masih adanya keraguan masyarakat dan pelaku usaha untuk mengambil pembiayaan di lembaga keuangan.

Analis pasar uang dari Bank Woori Bersaudara Rully Nova mengatakan, upaya meningkatkan penyaluran kredit perbankan tidak bisa dilakukan semata melalui formula penurunan suku bunga, dan penyediaan likuiditas bagi bank. Apalagi, saat ini terbukti likuiditas sejumlah bank masih dalam taraf aman, dan suku bunga kredit telah secara beruntun turun sejak pandemi Covid-19 melanda.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kontribusi Besar ke PEN, Penyaluran Kredit BRI Capai Rp938,37 Triliun
&amp;ldquo;Terkait pasar kredit yang belum membaik, masalahnya bukan di ekonomi. Jadi salah besar kalau dikasih obat suku bunga dan likuiditas. Masalahnya ada ketakutan di masyarakat karena pandemi belum bisa dikendalikan dengan baik oleh pemerintah. Ada pembatasan kegiatan masyarakat dan bisnis yang tidak growth, jadi pengusaha takut ngambil kredit, takut nggak bisa bayar,&amp;rdquo; ujar Rully.

Dia berpendapat, krisis yang terjadi saat ini berbeda dengan kesulitan-kesulitan terdahulu. Pada krisis di tahun-tahun yang lalu, kesulitan terjadi akibat masalah ekonomi. Karena itu, formula untuk menjaga dan menaikkan permintaan kredit bisa melalui suntikan likuiditas serta penerapan disiplin fiskal.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Catatan OJK, Bunga Kredit Bank Sudah Turun
Saat ini, kesulitan ekonomi terjadi akibat pandemi. Kondisi ini membuat pendekatan yang diambil untuk mengatasi krisis harus berbeda dibanding sebelumnya.

&amp;ldquo;Saya lihat pemerintah sudah habis-habisan mengeluarkan kebijakan untuk mendorong kredit, tapi memang masih ada ketakutan di masyarakat. Jadi resepnya ya memulihkan ketakutan di masyarakat, membuat masyarakat confident bahwa kita bisa melewati tantangan pandemi ini,&amp;rdquo; ujarnya.

Dihubungi terpisah, Ekonom Bank Permata Josua Pardede berkata, tren penurunan suku bunga kredit perbankan yang cenderung lambat dipengaruhi meningkatnya risiko kredit karena adanya penurunan aktivitas ekonomi dari sisi permintaan dan penawaran. Josua menilai tren penurunan suku bunga kredit perbankan akan terus berlanjut sepanjang 2021.&amp;ldquo;Penurunan suku bunga kredit konsumsi cenderung lebih rendah  dibandingkan dengan kredit investasi dan modal kerja mempertimbangkan  risk premium kredit konsumsi yang cenderung lebih tinggi daripada kredit  modal kerja dan investasi, mempertimbangkan bahwa restrukturisasi  kredit yang diimplementasikan oleh OJK lebih fokus pada restrukturisasi  kredit produktif. Ke depannya, suku bunga kredit modal kerja berpotensi  turun lebih mempertimbangkan bahwa permintaan kredit modal kerja yang  akan cenderung pulih lebih awal, dengan catatan pemulihan ekonomi  domestik berimplikasi pada meningkatnya permintaan kredit untuk modal  kerja,&amp;rdquo; ujar Josua.

Pada awal Januari lalu, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)  mengungkap tren penurunan suku bunga pinjaman telah berlangsung sejak  2015 bersamaan dengan turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia. Akan  tetapi, selama penurunan suku bunga kredit terjadi, permintaan kredit  tidak mengalami kenaikan signifikan.

Berdasarkan hasil analisa Himbara, faktor yang paling elastis atau  memengaruhi pertumbuhan kredit adalah tingkat konsumsi rumah tangga dan  daya beli masyarakat. Selain dua variabel ini, faktor lain yang turut  berkontribusi membuat naik/turunnya permintaan kredit adalah suku bunga,  NPL, dan penjualan ritel.

Himbara juga mengungkapkan bahwa sudah tepat pemerintah mengeluarkan  berbagai stimulus yang diterima masyarakat bawah, yang diberikan kepada  pengusaha mikro dan kecil. Karena dengan stimulus tersebut dapat  menggerakkan perekonomian, khususnya mengungkit daya beli masyarakat dan  konsumsi rumah tangga.

Penurunan bunga acuan sebenarnya juga telah diikuti dengan penurunan  suku bunga perbankan, salah satunya adalah BRI yang sepanjang tahun  2020, telah menurunkan suku bunganya sebesar 75 bps &amp;ndash; 150 bps. Penurunan  suku bunga tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan dan  penyelamatan yang dilakukan oleh BRI terhadap UMKM yang sedang bergelut  dengan kondisi pandemi. Penurunan suku bunga tersebut juga merupakan  dampak dari efisiensi yang dilakukan bank baik dari sisi mobilisasi dana  pihak ketiga dan digitalisasi proses bisnis yang dilakukan BRI.

Salah satu bank yang dianggap berhasil mendorong pertumbuhan  kreditnya adalah BRI, di mana penyaluran total kredit BRI telah mencapai  Rp 938,37 triliun atau tumbuh 3,89 persen yoy sepanjang tahun 2020,  bahkan kredit mikro BRI mampu tumbuh double digit sebesar 14,18 persen.  Angka tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan  kredit nasional tahun 2020 yang diperkirakan OJK berada dikisaran minus 1  hingga 2 persen.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Desember 2020  tingkat rata-rata suku bunga kredit (SBK) perbankan telah turun hingga  single digit. SBK Kredit Modal Kerja turun 88 bps menjadi 8,88 persen,  lalu SBK Kredit Investasi turun 102 bps menjadi 9,21 persen, dan SBK  Kredit Konsumsi turun 65 bps menjadi 10,97 persen.

Kemudian, Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) seluruh segmen kredit telah  berada pada level single digit, yaitu SBDK ritel 8,88 persen, SBDK  korporasi 8,75 persen, SBDK KPR 8,36 persen, SBDK non KPR 8,69 persen,  dan SBDK Mikro 7,33 persen.</content:encoded></item></channel></rss>
