<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penyebab Kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 Mulai Terungkap, Kini Dukun Diminta Turun Tangan</title><description>Investigasi dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih terus berlanjut.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/05/320/2356849/penyebab-kecelakaan-sriwijaya-air-sj-182-mulai-terungkap-kini-dukun-diminta-turun-tangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/02/05/320/2356849/penyebab-kecelakaan-sriwijaya-air-sj-182-mulai-terungkap-kini-dukun-diminta-turun-tangan"/><item><title>Penyebab Kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 Mulai Terungkap, Kini Dukun Diminta Turun Tangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/05/320/2356849/penyebab-kecelakaan-sriwijaya-air-sj-182-mulai-terungkap-kini-dukun-diminta-turun-tangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/02/05/320/2356849/penyebab-kecelakaan-sriwijaya-air-sj-182-mulai-terungkap-kini-dukun-diminta-turun-tangan</guid><pubDate>Jum'at 05 Februari 2021 08:41 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/05/320/2356849/penyebab-kecelakaan-sriwijaya-air-sj-182-mulai-terungkap-kini-dukun-diminta-turun-tangan-X4zVLFoiGC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sriwijaya Air (Foto: Planetspotters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/05/320/2356849/penyebab-kecelakaan-sriwijaya-air-sj-182-mulai-terungkap-kini-dukun-diminta-turun-tangan-X4zVLFoiGC.jpg</image><title>Sriwijaya Air (Foto: Planetspotters)</title></images><description>JAKARTA - Investigasi dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih terus berlanjut. Investigasi yang dilakukan untuk mengetahui penyebab dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.
Terkait investigasi pesawat Sriwijaya Air, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pun memanggil beberapa pihak terkait dalam proses investigasi tersebut. Pemanggilan ini untuk mendengarkan langsung penjelasan terkait jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 beberapa waktu lalu.
Adapun beberapa pihak yang dipanggil nantinya meliputi  Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Badan SAR Nasional (Basarnas), Badan Meteorologi, Klimatologi,  Geofisika (BMKG), Sriwijaya Air serta AirNav Indonesia.
Baca Juga: Besok, DPR Panggil Menhub hingga Sriwijaya Air Bahas Kecelakaan SJ 182
 
&quot;Sebagaimana kita ketahui pada tanggal 9 Januari 2021. Dunia penerbangan kembali berduka dengan musibah SJ-182 Jakarta-Pontianak mengangkut 62 orang terdiri 50 penumpang dan 12 kru. Upaya penanganan dilakukan secara maksimal. Oleh karena itu, kami mengungkapkan duka cita mendalam,&quot; ujar Ketua Komisi V DPR Lasarus dalam rapat dengar pendapat, Kemarin.
Sementara itu, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, saat kejadian ada dua pesawat yang berada di depan dan di belakang Sriwijaya Air SJ-182. Kedua pesawat tersebut milik merupakan milik Air Asia dengan rute yang menuju Pontianak.
Baca Juga: Keluarga Kapten Afwan Dapat Santunan Rp50 Juta dari Jasa Raharja 
 
Namun menurut Soerjanto, kedua pesawat milik AirAsia tersebut sama sekali tidak mengalami masalah. Sedangkan, Sriwijaya Air, setelah lepas landas pilot sempat meminta ke pemandu lalu lintas udara untuk mengganti arah untuk menghindari cuaca buruk
Oleh karena itu, Soerjanto menyebut akan kembali meneliti, sistem pengontrol pengaturan daya dari mesin pesawat atau autothrottle agar bisa mengetahui lebih lanjut atas jatuhnya pesawat tersebut. Namun dirinya belum bisa mengambil kesimpulan mengenai penyebab pesawat karena masih harus menunggu proses pencarian kotak hitam berisi CVR.
&quot;Saat ini kami belum memberikan kesimpulan atau hasil analisa, tapi kami akan menunggu hasil dari CVR dan beberapa komponen yang kami kirim ke AS dan UK. Karena dari komponen itu kenapa dan yang rusak yang mana dari 13 parameter ini membikin perubahan di auto sistem,&quot; jelasnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wMS8zMC8xLzEyODE1Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Namun, Soerjanto memastikan jika pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih  utuh sampai akhirnya membentur air. Kepastian tersebut menyusul dengan  berbagai bukti dan analisa yang dilakukan.
Salah satu indikator yang mendorong pernyataan tersebut adalah  mengenai sebaran puing pesawat yang ditemukan oleh Tim SAR Gabungan. Tim  SAR Gabungan sendiri pada hari pertama menemukan puing pesawat berlogo  Ri-Yu itu tersebar di wilayah dengan luas 80 meter dan panjang 110  meter.
Selain itu lanjut Soerjanto, pihaknya juga memastikan jika mesin  pesawat masih dalam keadaan hidup sebelum membentur air. Hal ini  diindikasikan dari turbin pesawat yang rontok, sekaligus menandai jika  pesawat mengalami impact dengan air.
Soerjanto juga menyebut jika pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tidak  mengalami kerusakan yang signifikan dalam periode tiga hari sebelum  kecelakaan terjadi. Kepastian tersebut didapatkan dari buku catatan  perawatan pesawat yang dihimpun sejak 6 hingga 9 Januari 2021.
&quot;Dari buku catatan perawatan pesawat tidak ditemukan adanya hal yang  signifikan catatan kerusakan pesawat sejak 6-9 januari 2021,&quot; jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama AirNav Indonesia M Pramintohadi Sukarno  mengatakan, setelah lepas landas dan melewati ketinggian 1.700 kaki,  pesawat diinstruksikan untuk naik ke ketinggian 29.000 kaki. Langkah ini  adalah untuk mengikuti standar alur keberangkatan yang berlaku.
Kemudian lanjut Pramintohadi, pada pukul 14.38 WIB pesawat tersebut  melewati ketinggian 7.900 kaki. Kemudian pesawat SJ-182 meminta  arah  075 derajat karena alasan cuaca dan diizinkan oleh pemandu penerbangan  di Bandara Soekarno Hatta (Menara ATC).
Kemudian pemandu penerbangan meminta kepada pilot untuk menaikkan  posisi pesawat ke ketinggian 11.000 kaki. Karena menurutnya, pada  ketinggian tersebut ada pesawat lain yang juga akan menuju Pontianak  yakni milik maskapai AirAsia.Lalu selanjutnya pada pukul 14.39 WIB pada ketinggian 10.600 Kaki,   pesawat diminta oleh ATC untuk naik ke 13.000 kaki. Dan perintah itu pun   direspon baik oleh pesawat SJ-182.
Kemudian pada 14.39 WIB SJ 182 terpantau di layar radar ATC berbelok   ke kiri barat laut yang seharusnya ke arah kanan 075 derajat.  Kemudian   pada pukul 14.40 controller melakukan konfirmasi arah SJ 182 namun  tidak  ada respons dan diikuti target hilang dari layar radar.
&quot;ATC berusaha memanggil berulang kali sampai 11 kali kemudian dibantu   beberapa penerbangan lain antara lain Garuda Indonesia mencoba   komunikasi SJ-182 namun tidak ada respons. Itu yang terjadi dari 14.36   sampai 14.40 WIB,&quot; jelasnya.
Mengenai pencarian blackbox berisi cockpit voice recorder (CVR)   SJ-182, masih terus dilakukan. Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat   Republik Indonesia (DPR-RI) Tamanuri memberikan usulan untuk  mempercepat  pencarian kotak hitam atau black box berisi CVR dengan  menggunakan  dukun.
Menurut Tamanuri, pencarian menggunakan sistem manual akan sulit   dilakukan. Bahkan, dengan peralatan canggih pun, memory dari CVR Pesawat   Sriwijaya Air SJ-182 tak kunjung ketemu.
&amp;ldquo;Pencarian memori CVR  secara manual sekarang, hilang ke bawah cari   di dasar laut itu di  dalam lumpur pakai manual. Sedangkan kita sudah   menggunakan peralatan canggih belum ketemu. Kita tambah sajalah tambah   dukun. Gampang itu. Kita menggunakan jasa perdukunan. Mudah-mudahan bisa   ketemu,&amp;rdquo; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Investigasi dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih terus berlanjut. Investigasi yang dilakukan untuk mengetahui penyebab dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.
Terkait investigasi pesawat Sriwijaya Air, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pun memanggil beberapa pihak terkait dalam proses investigasi tersebut. Pemanggilan ini untuk mendengarkan langsung penjelasan terkait jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 beberapa waktu lalu.
Adapun beberapa pihak yang dipanggil nantinya meliputi  Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Badan SAR Nasional (Basarnas), Badan Meteorologi, Klimatologi,  Geofisika (BMKG), Sriwijaya Air serta AirNav Indonesia.
Baca Juga: Besok, DPR Panggil Menhub hingga Sriwijaya Air Bahas Kecelakaan SJ 182
 
&quot;Sebagaimana kita ketahui pada tanggal 9 Januari 2021. Dunia penerbangan kembali berduka dengan musibah SJ-182 Jakarta-Pontianak mengangkut 62 orang terdiri 50 penumpang dan 12 kru. Upaya penanganan dilakukan secara maksimal. Oleh karena itu, kami mengungkapkan duka cita mendalam,&quot; ujar Ketua Komisi V DPR Lasarus dalam rapat dengar pendapat, Kemarin.
Sementara itu, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, saat kejadian ada dua pesawat yang berada di depan dan di belakang Sriwijaya Air SJ-182. Kedua pesawat tersebut milik merupakan milik Air Asia dengan rute yang menuju Pontianak.
Baca Juga: Keluarga Kapten Afwan Dapat Santunan Rp50 Juta dari Jasa Raharja 
 
Namun menurut Soerjanto, kedua pesawat milik AirAsia tersebut sama sekali tidak mengalami masalah. Sedangkan, Sriwijaya Air, setelah lepas landas pilot sempat meminta ke pemandu lalu lintas udara untuk mengganti arah untuk menghindari cuaca buruk
Oleh karena itu, Soerjanto menyebut akan kembali meneliti, sistem pengontrol pengaturan daya dari mesin pesawat atau autothrottle agar bisa mengetahui lebih lanjut atas jatuhnya pesawat tersebut. Namun dirinya belum bisa mengambil kesimpulan mengenai penyebab pesawat karena masih harus menunggu proses pencarian kotak hitam berisi CVR.
&quot;Saat ini kami belum memberikan kesimpulan atau hasil analisa, tapi kami akan menunggu hasil dari CVR dan beberapa komponen yang kami kirim ke AS dan UK. Karena dari komponen itu kenapa dan yang rusak yang mana dari 13 parameter ini membikin perubahan di auto sistem,&quot; jelasnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wMS8zMC8xLzEyODE1Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Namun, Soerjanto memastikan jika pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih  utuh sampai akhirnya membentur air. Kepastian tersebut menyusul dengan  berbagai bukti dan analisa yang dilakukan.
Salah satu indikator yang mendorong pernyataan tersebut adalah  mengenai sebaran puing pesawat yang ditemukan oleh Tim SAR Gabungan. Tim  SAR Gabungan sendiri pada hari pertama menemukan puing pesawat berlogo  Ri-Yu itu tersebar di wilayah dengan luas 80 meter dan panjang 110  meter.
Selain itu lanjut Soerjanto, pihaknya juga memastikan jika mesin  pesawat masih dalam keadaan hidup sebelum membentur air. Hal ini  diindikasikan dari turbin pesawat yang rontok, sekaligus menandai jika  pesawat mengalami impact dengan air.
Soerjanto juga menyebut jika pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tidak  mengalami kerusakan yang signifikan dalam periode tiga hari sebelum  kecelakaan terjadi. Kepastian tersebut didapatkan dari buku catatan  perawatan pesawat yang dihimpun sejak 6 hingga 9 Januari 2021.
&quot;Dari buku catatan perawatan pesawat tidak ditemukan adanya hal yang  signifikan catatan kerusakan pesawat sejak 6-9 januari 2021,&quot; jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama AirNav Indonesia M Pramintohadi Sukarno  mengatakan, setelah lepas landas dan melewati ketinggian 1.700 kaki,  pesawat diinstruksikan untuk naik ke ketinggian 29.000 kaki. Langkah ini  adalah untuk mengikuti standar alur keberangkatan yang berlaku.
Kemudian lanjut Pramintohadi, pada pukul 14.38 WIB pesawat tersebut  melewati ketinggian 7.900 kaki. Kemudian pesawat SJ-182 meminta  arah  075 derajat karena alasan cuaca dan diizinkan oleh pemandu penerbangan  di Bandara Soekarno Hatta (Menara ATC).
Kemudian pemandu penerbangan meminta kepada pilot untuk menaikkan  posisi pesawat ke ketinggian 11.000 kaki. Karena menurutnya, pada  ketinggian tersebut ada pesawat lain yang juga akan menuju Pontianak  yakni milik maskapai AirAsia.Lalu selanjutnya pada pukul 14.39 WIB pada ketinggian 10.600 Kaki,   pesawat diminta oleh ATC untuk naik ke 13.000 kaki. Dan perintah itu pun   direspon baik oleh pesawat SJ-182.
Kemudian pada 14.39 WIB SJ 182 terpantau di layar radar ATC berbelok   ke kiri barat laut yang seharusnya ke arah kanan 075 derajat.  Kemudian   pada pukul 14.40 controller melakukan konfirmasi arah SJ 182 namun  tidak  ada respons dan diikuti target hilang dari layar radar.
&quot;ATC berusaha memanggil berulang kali sampai 11 kali kemudian dibantu   beberapa penerbangan lain antara lain Garuda Indonesia mencoba   komunikasi SJ-182 namun tidak ada respons. Itu yang terjadi dari 14.36   sampai 14.40 WIB,&quot; jelasnya.
Mengenai pencarian blackbox berisi cockpit voice recorder (CVR)   SJ-182, masih terus dilakukan. Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat   Republik Indonesia (DPR-RI) Tamanuri memberikan usulan untuk  mempercepat  pencarian kotak hitam atau black box berisi CVR dengan  menggunakan  dukun.
Menurut Tamanuri, pencarian menggunakan sistem manual akan sulit   dilakukan. Bahkan, dengan peralatan canggih pun, memory dari CVR Pesawat   Sriwijaya Air SJ-182 tak kunjung ketemu.
&amp;ldquo;Pencarian memori CVR  secara manual sekarang, hilang ke bawah cari   di dasar laut itu di  dalam lumpur pakai manual. Sedangkan kita sudah   menggunakan peralatan canggih belum ketemu. Kita tambah sajalah tambah   dukun. Gampang itu. Kita menggunakan jasa perdukunan. Mudah-mudahan bisa   ketemu,&amp;rdquo; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
