<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Daya Beli Masyarakat RI Loyo, Minus 2,63%</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Daya beli masyarakat Indonesia masih sangat rendah di tahun 2020.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/05/320/2357060/daya-beli-masyarakat-ri-loyo-minus-2-63</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/02/05/320/2357060/daya-beli-masyarakat-ri-loyo-minus-2-63"/><item><title>Daya Beli Masyarakat RI Loyo, Minus 2,63%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/05/320/2357060/daya-beli-masyarakat-ri-loyo-minus-2-63</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/02/05/320/2357060/daya-beli-masyarakat-ri-loyo-minus-2-63</guid><pubDate>Jum'at 05 Februari 2021 14:22 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/05/320/2357060/daya-beli-masyarakat-ri-loyo-minus-2-63-3lLiakieou.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Daya Beli Masyarakat (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/05/320/2357060/daya-beli-masyarakat-ri-loyo-minus-2-63-3lLiakieou.jpg</image><title>Daya Beli Masyarakat (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Daya beli masyarakat Indonesia masih sangat rendah di tahun 2020 yang tercermin dari tingkat konsumsi rumah tangga. Realisasi konsumsi rumah tangga nasional berada di level minus 2,63% selama tahun 2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan rendahnya tingkat konsumsi rumah tangga Indonesia disebabkan oleh pandemi COVID-19 yang terjadi sejak Maret tahun lalu.
 
&amp;nbsp;Baca juga:  Ambyar, Daya Beli Masyarakat Hilang Rp374 Triliun akibat Covid-19 
&quot;Pertumbuhan ekonomi terkontraksi 2,07%. Kontraksi konsumsi rumah tangga di sana selama tahun 2020 alami kontraksi minus 2,36%,&quot; kata Suhariyanto dalam video virtual, Jumat (5/2/2021).

Selanjutnya,  konsumsi pemerintah pada tahun 2020 lalu tumbuh 1,94 persen secara year-on-year dibandingkan tahun 2019.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Harbolnas 12.12 Bisa Dongkrak Daya Beli Masyarakat
Adapun,  alasan kenapa pertumbuhan konsumsi pemerintah di 2020 hanya 1,94 persen, meskipun dana yang telah digelontorkan cukup banyak guna mendongkraknya.

&quot;Bahwa selama tahun 2020 ini, terjadi penurunan belanja pegawai, tidak ada insentif di 2020, dan adanya penurunan belanja perjalanan dinas,&quot; bebernya.Walaupun tantangan yang cukup besar masih berasal dari dinamika  penanganan pandemi Covid-9, namun sejumlah indikator diakui Suhariyanto  telah menunjukkan adanya arah perbaikan di dalam perekonomian nasional  saat ini.


&quot;Harapan kita semuanya sudah bisa mulai recovery di kuartal I-2021  ini, dan sudah bisa mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kuartal  II-2020 dan seterusnya. Tapi optimisme itu pun harus dibarengi dengan  (penerapan) prokes,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Daya beli masyarakat Indonesia masih sangat rendah di tahun 2020 yang tercermin dari tingkat konsumsi rumah tangga. Realisasi konsumsi rumah tangga nasional berada di level minus 2,63% selama tahun 2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan rendahnya tingkat konsumsi rumah tangga Indonesia disebabkan oleh pandemi COVID-19 yang terjadi sejak Maret tahun lalu.
 
&amp;nbsp;Baca juga:  Ambyar, Daya Beli Masyarakat Hilang Rp374 Triliun akibat Covid-19 
&quot;Pertumbuhan ekonomi terkontraksi 2,07%. Kontraksi konsumsi rumah tangga di sana selama tahun 2020 alami kontraksi minus 2,36%,&quot; kata Suhariyanto dalam video virtual, Jumat (5/2/2021).

Selanjutnya,  konsumsi pemerintah pada tahun 2020 lalu tumbuh 1,94 persen secara year-on-year dibandingkan tahun 2019.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Harbolnas 12.12 Bisa Dongkrak Daya Beli Masyarakat
Adapun,  alasan kenapa pertumbuhan konsumsi pemerintah di 2020 hanya 1,94 persen, meskipun dana yang telah digelontorkan cukup banyak guna mendongkraknya.

&quot;Bahwa selama tahun 2020 ini, terjadi penurunan belanja pegawai, tidak ada insentif di 2020, dan adanya penurunan belanja perjalanan dinas,&quot; bebernya.Walaupun tantangan yang cukup besar masih berasal dari dinamika  penanganan pandemi Covid-9, namun sejumlah indikator diakui Suhariyanto  telah menunjukkan adanya arah perbaikan di dalam perekonomian nasional  saat ini.


&quot;Harapan kita semuanya sudah bisa mulai recovery di kuartal I-2021  ini, dan sudah bisa mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kuartal  II-2020 dan seterusnya. Tapi optimisme itu pun harus dibarengi dengan  (penerapan) prokes,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
