<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bos OJK: Bank Syariah Indonesia, Bayi Baru Lahir dan Siap Jadi Raksasa Besar</title><description>Wimboh Santoso mengungkapkan empat strategi yang harus dipenuhi lembaga keuangan syariah khususnya perbankan syariah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/10/320/2359916/bos-ojk-bank-syariah-indonesia-bayi-baru-lahir-dan-siap-jadi-raksasa-besar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/02/10/320/2359916/bos-ojk-bank-syariah-indonesia-bayi-baru-lahir-dan-siap-jadi-raksasa-besar"/><item><title>Bos OJK: Bank Syariah Indonesia, Bayi Baru Lahir dan Siap Jadi Raksasa Besar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/10/320/2359916/bos-ojk-bank-syariah-indonesia-bayi-baru-lahir-dan-siap-jadi-raksasa-besar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/02/10/320/2359916/bos-ojk-bank-syariah-indonesia-bayi-baru-lahir-dan-siap-jadi-raksasa-besar</guid><pubDate>Rabu 10 Februari 2021 16:33 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/10/320/2359916/bos-ojk-bank-syariah-indonesia-bayi-baru-lahir-dan-siap-jadi-raksasa-besar-HQ3KV82v6T.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua OJK Wimboh Santoso (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/10/320/2359916/bos-ojk-bank-syariah-indonesia-bayi-baru-lahir-dan-siap-jadi-raksasa-besar-HQ3KV82v6T.jpg</image><title>Ketua OJK Wimboh Santoso (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan empat strategi yang harus dipenuhi lembaga keuangan syariah khususnya perbankan syariah agar menjadi raksasa di sektor keuangan.
&amp;ldquo;Kalau itu bisa dilakukan otomatis market share perbankan syariah akan mendominasi,&amp;rdquo; kata Wimboh Santoso dalam webinar perbankan syariah dilansir dari Antara, Rabu (10/2/2021).
Menurut dia, empat strategi itu adalah produk yang bervariasi, harga yang murah, kualitas produk yang bagus dan layanan bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat.
Baca Juga: Bos OJK Sebut BSI Akan Jadi Raja Perbankan Indonesia, Cek 5 Faktanya
Wimboh melanjutkan Indonesia memiliki skala lembaga keuangan syariah yang kompetitif dan memiliki empat strategi tersebut yakni lahirnya Bank Syariah Indonesia (BSI) hasil merger tiga anak usaha bank BUMN yakni Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan BNI Syariah.
Dia mengibaratkan BSI sebagai bayi yang baru lahir namun bersiap menjadi raksasa besar.
&amp;ldquo;Ini baru satu step, kelahiran sebuah bayi baru. Kita harapkan ini menjadi raksasa besar yang diidamkan masyarakat sudah cukup lama,&amp;rdquo; katanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8xMS82Ny8xMjU4NjkvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Untuk mendukung kinerja, ia mendorong agar BSI menggarap UMKM sebagai salah satu bisnis utama yang menunjang empat strategi tersebut.
Wimboh menyebut sejak tahun 2000, ada cita-cita mendorong perbankan syariah memiliki pangsa pasar 20% yang hingga kini masih sulit diwujudkan.
Adapun tantangannya, kata dia, belum terbentuknya ekosistem syariah yang terbangun solid, tidak hanya dari lembaga keuangan tetapi juga ekonomi dan keuangan syariah hingga gaya hidup syariah.&amp;ldquo;Ibaratnya lembaga keuangan (syariah) seperti bus, tapi orang yang  diangkut belum cukup, sehingga tidak penuh, otomatis tidak ekonomis,&amp;rdquo;  katanya.
OJK mencatat proporsi total aset keuangan syariah baru mencapai 9,9%,  sedangkan sisanya dimiliki keuangan konvensional, padahal Indonesia  memiliki potensi besar yakni 87% atau sekitar 230 juta jiwa adalah  Muslim.
Sementara itu, literasi dan inklusi terkait syariah juga tergolong  rendah yakni masing-masing 8,93% dan 9,1%. Sedangkan literasi dan  inklusi nasional masing-masing mencapai 38,03% dan 76,19%.
Selain itu, tantangan lain dalam mendorong pengembangan ekonomi dan  keuangan syariah adalah mendorong permodalan karena enam bank syariah  memiliki modal inti kurang dari Rp2 triliun dari total 14 bank umum  syariah per Desember 2020.
Kemudian, terbatasnya SDM industri keuangan syariah, daya saing  produk dan layanan keuangan syariah serta rendahnya riset dan  pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.
OJK menaruh harapan besar kepada BSI dalam menjawab tantangan  tersebut setelah resmi dibentuk dan mulai beroperasi dengan nama baru  pada 1 Februari 2021.
Per Desember 2020, BSI memiliki aset Rp239,73 triliun, dengan total  kelolaan dana pihak ketiga mencapai Rp209,9 triliun, pembiayaan Rp156,52  triliun dan laba bersih mencapai Rp2,19 triliun.
Saat ini, BSI menduduki peringkat ke-7 sebagai bank nasional dengan  aset terbesar di Tanah Air dan menargetkan menjadi salah satu besar  pemain keuangan syariah regional dan global.</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan empat strategi yang harus dipenuhi lembaga keuangan syariah khususnya perbankan syariah agar menjadi raksasa di sektor keuangan.
&amp;ldquo;Kalau itu bisa dilakukan otomatis market share perbankan syariah akan mendominasi,&amp;rdquo; kata Wimboh Santoso dalam webinar perbankan syariah dilansir dari Antara, Rabu (10/2/2021).
Menurut dia, empat strategi itu adalah produk yang bervariasi, harga yang murah, kualitas produk yang bagus dan layanan bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat.
Baca Juga: Bos OJK Sebut BSI Akan Jadi Raja Perbankan Indonesia, Cek 5 Faktanya
Wimboh melanjutkan Indonesia memiliki skala lembaga keuangan syariah yang kompetitif dan memiliki empat strategi tersebut yakni lahirnya Bank Syariah Indonesia (BSI) hasil merger tiga anak usaha bank BUMN yakni Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan BNI Syariah.
Dia mengibaratkan BSI sebagai bayi yang baru lahir namun bersiap menjadi raksasa besar.
&amp;ldquo;Ini baru satu step, kelahiran sebuah bayi baru. Kita harapkan ini menjadi raksasa besar yang diidamkan masyarakat sudah cukup lama,&amp;rdquo; katanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8xMS82Ny8xMjU4NjkvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Untuk mendukung kinerja, ia mendorong agar BSI menggarap UMKM sebagai salah satu bisnis utama yang menunjang empat strategi tersebut.
Wimboh menyebut sejak tahun 2000, ada cita-cita mendorong perbankan syariah memiliki pangsa pasar 20% yang hingga kini masih sulit diwujudkan.
Adapun tantangannya, kata dia, belum terbentuknya ekosistem syariah yang terbangun solid, tidak hanya dari lembaga keuangan tetapi juga ekonomi dan keuangan syariah hingga gaya hidup syariah.&amp;ldquo;Ibaratnya lembaga keuangan (syariah) seperti bus, tapi orang yang  diangkut belum cukup, sehingga tidak penuh, otomatis tidak ekonomis,&amp;rdquo;  katanya.
OJK mencatat proporsi total aset keuangan syariah baru mencapai 9,9%,  sedangkan sisanya dimiliki keuangan konvensional, padahal Indonesia  memiliki potensi besar yakni 87% atau sekitar 230 juta jiwa adalah  Muslim.
Sementara itu, literasi dan inklusi terkait syariah juga tergolong  rendah yakni masing-masing 8,93% dan 9,1%. Sedangkan literasi dan  inklusi nasional masing-masing mencapai 38,03% dan 76,19%.
Selain itu, tantangan lain dalam mendorong pengembangan ekonomi dan  keuangan syariah adalah mendorong permodalan karena enam bank syariah  memiliki modal inti kurang dari Rp2 triliun dari total 14 bank umum  syariah per Desember 2020.
Kemudian, terbatasnya SDM industri keuangan syariah, daya saing  produk dan layanan keuangan syariah serta rendahnya riset dan  pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.
OJK menaruh harapan besar kepada BSI dalam menjawab tantangan  tersebut setelah resmi dibentuk dan mulai beroperasi dengan nama baru  pada 1 Februari 2021.
Per Desember 2020, BSI memiliki aset Rp239,73 triliun, dengan total  kelolaan dana pihak ketiga mencapai Rp209,9 triliun, pembiayaan Rp156,52  triliun dan laba bersih mencapai Rp2,19 triliun.
Saat ini, BSI menduduki peringkat ke-7 sebagai bank nasional dengan  aset terbesar di Tanah Air dan menargetkan menjadi salah satu besar  pemain keuangan syariah regional dan global.</content:encoded></item></channel></rss>
