<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Mau Cepet Pulih? Percepat Dana PEN</title><description>Lambatnya penyerapan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) diduga menjadi salah satu penyebab ekonomi Indonesia minus.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/11/320/2360427/ekonomi-mau-cepet-pulih-percepat-dana-pen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/02/11/320/2360427/ekonomi-mau-cepet-pulih-percepat-dana-pen"/><item><title>Ekonomi Mau Cepet Pulih? Percepat Dana PEN</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/11/320/2360427/ekonomi-mau-cepet-pulih-percepat-dana-pen</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/02/11/320/2360427/ekonomi-mau-cepet-pulih-percepat-dana-pen</guid><pubDate>Kamis 11 Februari 2021 13:18 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/11/320/2360427/ekonomi-mau-cepet-pulih-percepat-dana-pen-ECWyauUvMr.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/11/320/2360427/ekonomi-mau-cepet-pulih-percepat-dana-pen-ECWyauUvMr.jpeg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA  - Lambatnya penyerapan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) diduga menjadi salah satu penyebab ekonomi Indonesia minus.  Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani pemulihan ekonomi lambat karena proses pencairan dana PEN butuh waktu yang cukup lama.
Baca juga: Ekonomi Minus, Kepala Bappenas Sebut Indonesia Bisa Gagal Jadi Negara Maju
&amp;ldquo;Proses untuk memasukkan dalam departemen sampai dibelanjakan itu butuh sekitar 2 &amp;ndash; 3 bulan. Maka memang terjadi perlambatan pada Triwulan II pada saat itu. Di mana Indonesia minus sampai 5 persen karena memang tidak cepat anggaran disetujui,&amp;rdquo; ungkap Aviliani dalam Market Review IDX Channel, Kamis (11/2/2021).
Aviliani mengatakan, seharusnya proses pencairan dana PEN tidak harus seperti biasanya (normal) jika pemerintah mau penyerapan anggaran tepat waktu dan perekonomian bisa tumbuh lebih baik.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8yOS80LzEyNjYyMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Maksudnya bisa saja tidak melalui departemen tapi ada badan yang bisa mengeluarkan dana PEN itu. Sehingga akan ada percepatan dibandingkan tahun lalu. Makanya kan sampai Desember tahun lalu pengeluarannya tidak sampai 100%,&amp;rdquo; katanya.Menurutnya, pola yang sama dalam pencairan dana PEN akan terjadi di  tahun 2021. Oleh karena itu, dikhawatirkan pertumbuhan perekonomian  Indonesia masih negatif pada Triwulan I dan baru membaik di Twriwulan II  atau III. Dalam kondisi pandemi saat ini, diharapkan anggaran  pemerintah atau APBN menjadi penggerak ekonomi dan bukan berharap pada  swasta.
&amp;ldquo;Tidak ada pola yang berubah di 2021 dalam pengeluaran PEN. Jadi akan  tetap sama, bahkan anggarannya pun hampir mirip dengan 2020. Tetapi  dengan metodenya harus melalui departemen itu masih terjadi. Jadi yang  saya khawatirkan kalau itu masuk dulu di DIPA kemudian baru belanja  Triwulan I, bisa-bisa masih negatif pertumbuhannya,&amp;rdquo; sambung dia.</description><content:encoded>JAKARTA  - Lambatnya penyerapan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) diduga menjadi salah satu penyebab ekonomi Indonesia minus.  Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani pemulihan ekonomi lambat karena proses pencairan dana PEN butuh waktu yang cukup lama.
Baca juga: Ekonomi Minus, Kepala Bappenas Sebut Indonesia Bisa Gagal Jadi Negara Maju
&amp;ldquo;Proses untuk memasukkan dalam departemen sampai dibelanjakan itu butuh sekitar 2 &amp;ndash; 3 bulan. Maka memang terjadi perlambatan pada Triwulan II pada saat itu. Di mana Indonesia minus sampai 5 persen karena memang tidak cepat anggaran disetujui,&amp;rdquo; ungkap Aviliani dalam Market Review IDX Channel, Kamis (11/2/2021).
Aviliani mengatakan, seharusnya proses pencairan dana PEN tidak harus seperti biasanya (normal) jika pemerintah mau penyerapan anggaran tepat waktu dan perekonomian bisa tumbuh lebih baik.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8yOS80LzEyNjYyMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Maksudnya bisa saja tidak melalui departemen tapi ada badan yang bisa mengeluarkan dana PEN itu. Sehingga akan ada percepatan dibandingkan tahun lalu. Makanya kan sampai Desember tahun lalu pengeluarannya tidak sampai 100%,&amp;rdquo; katanya.Menurutnya, pola yang sama dalam pencairan dana PEN akan terjadi di  tahun 2021. Oleh karena itu, dikhawatirkan pertumbuhan perekonomian  Indonesia masih negatif pada Triwulan I dan baru membaik di Twriwulan II  atau III. Dalam kondisi pandemi saat ini, diharapkan anggaran  pemerintah atau APBN menjadi penggerak ekonomi dan bukan berharap pada  swasta.
&amp;ldquo;Tidak ada pola yang berubah di 2021 dalam pengeluaran PEN. Jadi akan  tetap sama, bahkan anggarannya pun hampir mirip dengan 2020. Tetapi  dengan metodenya harus melalui departemen itu masih terjadi. Jadi yang  saya khawatirkan kalau itu masuk dulu di DIPA kemudian baru belanja  Triwulan I, bisa-bisa masih negatif pertumbuhannya,&amp;rdquo; sambung dia.</content:encoded></item></channel></rss>
