<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BLT hingga DP 0% Pacu Konsumsi Masyarakat Menengah Bawah</title><description>Bank Indonesia (BI) optimistis stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah akan mendongkrak konsumsi masyarakat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/24/320/2367552/blt-hingga-dp-0-pacu-konsumsi-masyarakat-menengah-bawah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/02/24/320/2367552/blt-hingga-dp-0-pacu-konsumsi-masyarakat-menengah-bawah"/><item><title>BLT hingga DP 0% Pacu Konsumsi Masyarakat Menengah Bawah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/24/320/2367552/blt-hingga-dp-0-pacu-konsumsi-masyarakat-menengah-bawah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/02/24/320/2367552/blt-hingga-dp-0-pacu-konsumsi-masyarakat-menengah-bawah</guid><pubDate>Rabu 24 Februari 2021 14:47 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/24/320/2367552/blt-hingga-dp-0-pacu-konsumsi-masyarakat-menengah-bawah-wte1xmnhGi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/24/320/2367552/blt-hingga-dp-0-pacu-konsumsi-masyarakat-menengah-bawah-wte1xmnhGi.jpg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) optimistis stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah akan mendongkrak konsumsi masyarakat ekonomi menengah ke bawah pada 2021.
&quot;Perbaikan konsumsi ini menjadi kunci untuk 2021 mengingat kekuatannya diperkirakan masih tertahan,&quot; kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi BI Yoga Affandi dalam webinar Harmonisasi Kebijakan Moneter dan Fiskal dilansir dari Antara, Rabu (24/2/2021).
Baca Juga: BI Ingin Bank Tidak Cuma Cari Laba
Menurut dia, berdasarkan survei Bank Indonesia terhadap ekspektasi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja pada triwulan I 2021, masih lemah. Namun, dengan gelontoran stimulus fiskal yang disiapkan dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 akan menahan kontraksi lebih dalam.
Baca Juga: Relaksasi DP Rumah dan Mobil 0%, BI: Kredit Konsumsi Naik 0,5%
 
Adapun salah satu titik cerah yang ikut mendorong konsumsi lebih baik adalah penjualan secara daring yang diperkirakan akan terus membaik. &quot;Ini harapannya akan menghelat perekonomian menuju level yang kita inginkan,&quot; imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Hidayat Amir dalam kesempatan yang sama mengatakan konsumsi rumah tangga menyumbang 57,7% terhadap total produk domestik bruto (PDB) pada 2020.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8yOS80LzEyNjYyMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dia memperkirakan konsumsi rumah tangga akan menunjukkan perbaikan  seiring pemerintah menggelontorkan program perlindungan sosial dalam  PEN. Program PEN 2021 mencapai Rp699,43 triliun atau naik 21% dari  realisasi sementara 2020 mencapai Rp579,78 triliun.
Adapun alokasinya yakni untuk perlindungan sosial sebesar Rp157,41  triliun, kesehatan Rp176,30 triliun, dukungan UMKM dan korporasi  Rp186,81 triliun, insentif usaha Rp53,86 triliun, program prioritas  Rp125,06 triliun.
Baca Juga: BI: Defisit Transaksi Berjalan 2020 Turun Jadi USD4,7 Miliar

 
Yoga melanjutkan, kebijakan moneter dan fiskal merupakan kebijakan  ekonomi yang tujuannya sama-sama untuk menjaga stabilitas ekonomi negara  sehingga tercipta pembangunan yang merata. Harmonisasi kebijakan  moneter dan fiskal diharapkan dapat terus terjaga sehingga dapat  mendukung pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19.  Menurutnya, kedua kebijakan tersebut bisa saling melengkapi untuk  menopang perekonomian tanah air.
&amp;ldquo;Akibat sinergi moneter dan fiskal kita telah melakukan quantitative  easing dan kita lihat terjadi penurunan suku bunga perbankan. Dan  longgarnya likuiditas ini mendorong PUAB turun sekitar 3,04%,&amp;rdquo; ujar Yoga  Affandi.Bank Indonesia sendiri belum lama ini baru menurunkan suku bunga   acuan BI 7-days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 3,50%.   Kebijakan ini diharapkan dapat direspon oleh industri keuangan khususnya   perbankan untuk dapat segera menurunkan suku bunga kreditnya. Dengan   demikian, permintaan kredit akan meningkat dan mendorong konsumsi   masyarakat.
Harmonisasi stimulus kebijakan antara regulator fiskal dan moneter   sudah terjadi melalui pelonggaran DP 0% Kredit Kendaraan Bermotor (KKB)   dari Bank Indonesia serta stimulus Pajak Penjualan Atas Barang Mewah   (PPnBM) 0% dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Kebijakan-kebijakan ini   tentu diharapkan dapat berdampak signifikan terhadap konsumsi   masyarakat. Dengan begitu, perekonomian akan mulai terangkat.
Dalam melakukan harmonisasi kebijakan dengan lembaga lain, tentu   terlebih dahulu dilakukan pembahasan dan merumuskan kebijakan-kebijakan   yang akan dikeluarkan. Setiap kebijakan yang akan dikeluarkan BI, peran   lembaga pengawas sangatlah penting. Dalam hal ini, ada Badan Supervisi   Bank Indonesia (BSBI) yang memiliki peran dalam pengawasan setiap   kebijakan BI. Hal ini tak lain untuk meningkatkan akuntabilitas,   independensi, transparansi dan kredibilitas.
Wakil Ketua Komisi XI DPR-RI Fathan Subchi memandang, sejauh ini   peran BSBI sudah cukup positif dalam memberikan kontribusi pemikiran   untuk kebijakan moneter BI guna mendukung pemulihan ekonomi nasional.   Adapun peran utama dari BSBI sendiri adalah membantu DPR dalam mengawasi   serta memberikan masukan kebijakan bagi BI untuk meningkatkan   akuntabilitas, independensi, transparansi serta kredibilitas.
&amp;ldquo;BSBI memang menjadi tools bagi Komisi XI DPR untuk memberikan   beberapa masukan kepada dewan gubernur dan beberapa (kebijakan) juga   sudah tersampaikan,&amp;rdquo; kata Fathan.
Lebih lanjut dirinya menambahkan, komunikasi publik juga telah   terjalin dan tersampaikan melalui beberapa anggota BSBI yang juga   merupakan ekonom dari beberapa perguruan tinggi seperti Universitas   Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lainnya. &amp;ldquo;Selama   ini (BSBI) telah memberikan kontribusi pemikiran yang cukup baik,&amp;rdquo; tukas   Fathan.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) optimistis stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah akan mendongkrak konsumsi masyarakat ekonomi menengah ke bawah pada 2021.
&quot;Perbaikan konsumsi ini menjadi kunci untuk 2021 mengingat kekuatannya diperkirakan masih tertahan,&quot; kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi BI Yoga Affandi dalam webinar Harmonisasi Kebijakan Moneter dan Fiskal dilansir dari Antara, Rabu (24/2/2021).
Baca Juga: BI Ingin Bank Tidak Cuma Cari Laba
Menurut dia, berdasarkan survei Bank Indonesia terhadap ekspektasi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja pada triwulan I 2021, masih lemah. Namun, dengan gelontoran stimulus fiskal yang disiapkan dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 akan menahan kontraksi lebih dalam.
Baca Juga: Relaksasi DP Rumah dan Mobil 0%, BI: Kredit Konsumsi Naik 0,5%
 
Adapun salah satu titik cerah yang ikut mendorong konsumsi lebih baik adalah penjualan secara daring yang diperkirakan akan terus membaik. &quot;Ini harapannya akan menghelat perekonomian menuju level yang kita inginkan,&quot; imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Hidayat Amir dalam kesempatan yang sama mengatakan konsumsi rumah tangga menyumbang 57,7% terhadap total produk domestik bruto (PDB) pada 2020.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMi8yOS80LzEyNjYyMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dia memperkirakan konsumsi rumah tangga akan menunjukkan perbaikan  seiring pemerintah menggelontorkan program perlindungan sosial dalam  PEN. Program PEN 2021 mencapai Rp699,43 triliun atau naik 21% dari  realisasi sementara 2020 mencapai Rp579,78 triliun.
Adapun alokasinya yakni untuk perlindungan sosial sebesar Rp157,41  triliun, kesehatan Rp176,30 triliun, dukungan UMKM dan korporasi  Rp186,81 triliun, insentif usaha Rp53,86 triliun, program prioritas  Rp125,06 triliun.
Baca Juga: BI: Defisit Transaksi Berjalan 2020 Turun Jadi USD4,7 Miliar

 
Yoga melanjutkan, kebijakan moneter dan fiskal merupakan kebijakan  ekonomi yang tujuannya sama-sama untuk menjaga stabilitas ekonomi negara  sehingga tercipta pembangunan yang merata. Harmonisasi kebijakan  moneter dan fiskal diharapkan dapat terus terjaga sehingga dapat  mendukung pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19.  Menurutnya, kedua kebijakan tersebut bisa saling melengkapi untuk  menopang perekonomian tanah air.
&amp;ldquo;Akibat sinergi moneter dan fiskal kita telah melakukan quantitative  easing dan kita lihat terjadi penurunan suku bunga perbankan. Dan  longgarnya likuiditas ini mendorong PUAB turun sekitar 3,04%,&amp;rdquo; ujar Yoga  Affandi.Bank Indonesia sendiri belum lama ini baru menurunkan suku bunga   acuan BI 7-days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 3,50%.   Kebijakan ini diharapkan dapat direspon oleh industri keuangan khususnya   perbankan untuk dapat segera menurunkan suku bunga kreditnya. Dengan   demikian, permintaan kredit akan meningkat dan mendorong konsumsi   masyarakat.
Harmonisasi stimulus kebijakan antara regulator fiskal dan moneter   sudah terjadi melalui pelonggaran DP 0% Kredit Kendaraan Bermotor (KKB)   dari Bank Indonesia serta stimulus Pajak Penjualan Atas Barang Mewah   (PPnBM) 0% dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Kebijakan-kebijakan ini   tentu diharapkan dapat berdampak signifikan terhadap konsumsi   masyarakat. Dengan begitu, perekonomian akan mulai terangkat.
Dalam melakukan harmonisasi kebijakan dengan lembaga lain, tentu   terlebih dahulu dilakukan pembahasan dan merumuskan kebijakan-kebijakan   yang akan dikeluarkan. Setiap kebijakan yang akan dikeluarkan BI, peran   lembaga pengawas sangatlah penting. Dalam hal ini, ada Badan Supervisi   Bank Indonesia (BSBI) yang memiliki peran dalam pengawasan setiap   kebijakan BI. Hal ini tak lain untuk meningkatkan akuntabilitas,   independensi, transparansi dan kredibilitas.
Wakil Ketua Komisi XI DPR-RI Fathan Subchi memandang, sejauh ini   peran BSBI sudah cukup positif dalam memberikan kontribusi pemikiran   untuk kebijakan moneter BI guna mendukung pemulihan ekonomi nasional.   Adapun peran utama dari BSBI sendiri adalah membantu DPR dalam mengawasi   serta memberikan masukan kebijakan bagi BI untuk meningkatkan   akuntabilitas, independensi, transparansi serta kredibilitas.
&amp;ldquo;BSBI memang menjadi tools bagi Komisi XI DPR untuk memberikan   beberapa masukan kepada dewan gubernur dan beberapa (kebijakan) juga   sudah tersampaikan,&amp;rdquo; kata Fathan.
Lebih lanjut dirinya menambahkan, komunikasi publik juga telah   terjalin dan tersampaikan melalui beberapa anggota BSBI yang juga   merupakan ekonom dari beberapa perguruan tinggi seperti Universitas   Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lainnya. &amp;ldquo;Selama   ini (BSBI) telah memberikan kontribusi pemikiran yang cukup baik,&amp;rdquo; tukas   Fathan.</content:encoded></item></channel></rss>
