<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hati-Hati! Fenomena Pom-Pom dan FOMO Menghantui Investor Saham Pemula</title><description>Kenaikan saham Gamestop, perusahan video game, secara signifikan menjadi perbincangan hangat dan menjadi sorotan beberapa waktu lalu.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/26/278/2368884/hati-hati-fenomena-pom-pom-dan-fomo-menghantui-investor-saham-pemula</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/02/26/278/2368884/hati-hati-fenomena-pom-pom-dan-fomo-menghantui-investor-saham-pemula"/><item><title>Hati-Hati! Fenomena Pom-Pom dan FOMO Menghantui Investor Saham Pemula</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/26/278/2368884/hati-hati-fenomena-pom-pom-dan-fomo-menghantui-investor-saham-pemula</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/02/26/278/2368884/hati-hati-fenomena-pom-pom-dan-fomo-menghantui-investor-saham-pemula</guid><pubDate>Jum'at 26 Februari 2021 15:25 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhri Rezy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/26/278/2368884/hati-hati-fenomena-pom-pom-dan-fomo-menghantui-investor-saham-pemula-wTBVpVO5nY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">saham (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/26/278/2368884/hati-hati-fenomena-pom-pom-dan-fomo-menghantui-investor-saham-pemula-wTBVpVO5nY.jpg</image><title>saham (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kenaikan saham Gamestop, perusahan video game, secara signifikan menjadi perbincangan hangat dan menjadi sorotan khusus secara global beberapa waktu lalu. Meroketnya harga saham Gamestop bermula dari pembicaraan para investor retail melalui forum Reddit, &amp;lsquo;WallStreetBets&amp;rsquo;. Para investor kecil ini bergabung dan saling mengajak satu sama lain untuk melakukan pembeli saham Gamestop secara massal.

Mengutip keterangan pers Grant Thornton, Jakarta, Jumat (26/2/2021), meskipun aksi masif pembelian saham itu membuat harga saham Gamestop melesat, namun kenaikan tersebut memaksa para hedge fundbesar yang memakai saham Gamestop untuk transaksi short selling(jual kosong) merugi.Dalam short selling, investor meminjam saham yang belum dimilikinya dari broker saham, kemudian menjualnya dengan harga tinggi, dan kemudian membelinya kembali dengan harga lebih rendah, dengan tetap mempertahankan selisihnya.
&amp;nbsp;Baca juga: Jumlah Investor Pasar Modal Naik, Generasi Milenial dan Z Mendominasi
Akan tetapi jika suatu saham tiba-tiba melonjak, maka investor tersebut terpaksa harus membelinya kembali dalam keadaan rugi.Kenaikan harga saham Gamestop disinyalir sebagai fenomena pom-pom saham yang memang sedang ramai terjadi, termasuk di Indonesia baru &amp;ndash;baru ini. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi, menilai, bukan tidak mungkin hal itu juga akan terjadi di juga di BEI. Namun, dia menegaskan, jika hal tersebut terjadi seharusnyadilandasi dengan pemahaman yang benar terhadap prospek saham tersebut.

 
Maraknya Investor Saham Pemula di Indonesia

Pasar  modal  Indonesiamenunjukkan  geliat  positif  dengan  terus  bertambahnya investor  ditengah  pandemi Covid-19.Bursa  Efek  Indonesia  (BEI)mencatat  jumlah  investor  sebanyak  3,9 juta  Single  Investor  Identification  (SID)  atau  melonjak  56%  jika  dibandingkan  dengan  posisi  di akhir tahun 2019.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pahami Risiko Investasi, Sebelum Membeli Saham
Investasi  di  pasar  modal  banyak  digemari  publik  saat  ini  khususnya  kaum  milenial. Data PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)juga menunjukkan bahwa demografi investor untuk usia di bawah  30 tahun berjumlah 54,8% dan  usia 31-40 tahun  berjumlah 22,6%dari total investor pasar  modal di  Indonesia, dapat  dikatakan lebih  dari  75%  investor  pasar  modal  Indonesia berada pada usia mudaatau produktif.

Grant  Thornton  Indonesia  melihat  banyaknya  investor  baru  ini  patut  menjadi  perhatian, terlebih  lagi  dengan  munculnya  fenomena  pom-pom  dimana  saham  dipompa  (pump)  agar harganya  melejit  oleh  individu  atau  kelompoksehingga  tampak  menggiurkan.Fenomena  ini juga  bersamaan  dengan  maraknya influencer yang  ikut  membicarakan  soal  investasi  saham dengan merekomendasikan saham tertentusehingga semakin meningkatkan antusiasme publikuntuk berinvestasi saham.Marvin  Camangeg, Advisory  DirectorGrant  Thornton  Indonesia  mengatakan &amp;ldquo;Saham tidak jarang  dianggap  sebagai  instrumen  investasi   yang mampumenghasilkan  keuntungan  yang relatif  tinggi.  Namun,  sama   seperti  investasi  pada  umumnya,  potensi  keuntungan  yang  tinggi  dari investasi saham juga tentu diikutidengan risiko yang tinggi, fakta  ini yang seringkali kurang diperhatikan oleh investor pemula.&amp;rdquo;

Performa beberapa perusahaan yang sempat mengalami kenaikan harga  saham hingga ratusan persen  juga  mendorong  banyaknya  investor newbie  menjadi  merasa FOMO  (Fear  of  Missing Out)  dimana  mereka  akhirnya   bertindak  impulsifhanya  karena  takut  ketinggalan  momentum untuk  mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.

Banyak  akhirnya  investor  pemula  yang  salah  kaprah  dengan   menginvestasikan  uang  untuk kebutuhan  sehari-hari  bahkan  berutang   dengan  bunga  besar,  mereka  yang  tadinya  berharap mendapat  keuntungan cepat justru banyak yang berakhir dengan rugi besar.


Akan lebih baik apabila investor pemula belajar dan meningkatkan  pemahaman terlebih dahulu sebelum berinvestasi saham. Hal ini dapat  dilakukan dengan mengikuti webinar dan workshop tentang  pasar  modal   yang  sering  diselenggarakan  oleh  instansi  berkaitan  ataupun   bergabung dengan komunitas pemain saham sehingga para investor pemula  bisa langsung mendengarkan dan belajar dari orang &amp;ndash;orang yang sudah  berpengalaman dalam bermain saham.

&amp;ldquo;Pelajaran  yang  dapat  dipetikdi  siniadalahbahwa pasar  sahamdapat   di  ibaratkan  seperti rimba. Kita akan menemukanberbagai jenis hewan.  Adahewanyang kuat secara alami karena ukurantubuhnya yang  besar,   namun  ada  juga  ada  hewan yang kuatsemata-mata karena mereka  selalu   bergerombol  dalam  jumlah  besar.  Selain  itu  sekarang  teknologi  juga  telah mengubah aturanpermainan.  Jadi  sebelum berinvestasisaham,  perlumemahami profil resikoperseorangan,  tetap  rasionaldan  tidak  bergantung  pada  intuisi saja  waktupemilihan  saham. Selalu  mencari   bantuan  dari  para penasihat  investasiyang  dapat  membantu  dan   memberikan bimbingandalam keputusan berinvestasi.&amp;rdquo; tutup Marvin.</description><content:encoded>JAKARTA - Kenaikan saham Gamestop, perusahan video game, secara signifikan menjadi perbincangan hangat dan menjadi sorotan khusus secara global beberapa waktu lalu. Meroketnya harga saham Gamestop bermula dari pembicaraan para investor retail melalui forum Reddit, &amp;lsquo;WallStreetBets&amp;rsquo;. Para investor kecil ini bergabung dan saling mengajak satu sama lain untuk melakukan pembeli saham Gamestop secara massal.

Mengutip keterangan pers Grant Thornton, Jakarta, Jumat (26/2/2021), meskipun aksi masif pembelian saham itu membuat harga saham Gamestop melesat, namun kenaikan tersebut memaksa para hedge fundbesar yang memakai saham Gamestop untuk transaksi short selling(jual kosong) merugi.Dalam short selling, investor meminjam saham yang belum dimilikinya dari broker saham, kemudian menjualnya dengan harga tinggi, dan kemudian membelinya kembali dengan harga lebih rendah, dengan tetap mempertahankan selisihnya.
&amp;nbsp;Baca juga: Jumlah Investor Pasar Modal Naik, Generasi Milenial dan Z Mendominasi
Akan tetapi jika suatu saham tiba-tiba melonjak, maka investor tersebut terpaksa harus membelinya kembali dalam keadaan rugi.Kenaikan harga saham Gamestop disinyalir sebagai fenomena pom-pom saham yang memang sedang ramai terjadi, termasuk di Indonesia baru &amp;ndash;baru ini. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi, menilai, bukan tidak mungkin hal itu juga akan terjadi di juga di BEI. Namun, dia menegaskan, jika hal tersebut terjadi seharusnyadilandasi dengan pemahaman yang benar terhadap prospek saham tersebut.

 
Maraknya Investor Saham Pemula di Indonesia

Pasar  modal  Indonesiamenunjukkan  geliat  positif  dengan  terus  bertambahnya investor  ditengah  pandemi Covid-19.Bursa  Efek  Indonesia  (BEI)mencatat  jumlah  investor  sebanyak  3,9 juta  Single  Investor  Identification  (SID)  atau  melonjak  56%  jika  dibandingkan  dengan  posisi  di akhir tahun 2019.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pahami Risiko Investasi, Sebelum Membeli Saham
Investasi  di  pasar  modal  banyak  digemari  publik  saat  ini  khususnya  kaum  milenial. Data PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)juga menunjukkan bahwa demografi investor untuk usia di bawah  30 tahun berjumlah 54,8% dan  usia 31-40 tahun  berjumlah 22,6%dari total investor pasar  modal di  Indonesia, dapat  dikatakan lebih  dari  75%  investor  pasar  modal  Indonesia berada pada usia mudaatau produktif.

Grant  Thornton  Indonesia  melihat  banyaknya  investor  baru  ini  patut  menjadi  perhatian, terlebih  lagi  dengan  munculnya  fenomena  pom-pom  dimana  saham  dipompa  (pump)  agar harganya  melejit  oleh  individu  atau  kelompoksehingga  tampak  menggiurkan.Fenomena  ini juga  bersamaan  dengan  maraknya influencer yang  ikut  membicarakan  soal  investasi  saham dengan merekomendasikan saham tertentusehingga semakin meningkatkan antusiasme publikuntuk berinvestasi saham.Marvin  Camangeg, Advisory  DirectorGrant  Thornton  Indonesia  mengatakan &amp;ldquo;Saham tidak jarang  dianggap  sebagai  instrumen  investasi   yang mampumenghasilkan  keuntungan  yang relatif  tinggi.  Namun,  sama   seperti  investasi  pada  umumnya,  potensi  keuntungan  yang  tinggi  dari investasi saham juga tentu diikutidengan risiko yang tinggi, fakta  ini yang seringkali kurang diperhatikan oleh investor pemula.&amp;rdquo;

Performa beberapa perusahaan yang sempat mengalami kenaikan harga  saham hingga ratusan persen  juga  mendorong  banyaknya  investor newbie  menjadi  merasa FOMO  (Fear  of  Missing Out)  dimana  mereka  akhirnya   bertindak  impulsifhanya  karena  takut  ketinggalan  momentum untuk  mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.

Banyak  akhirnya  investor  pemula  yang  salah  kaprah  dengan   menginvestasikan  uang  untuk kebutuhan  sehari-hari  bahkan  berutang   dengan  bunga  besar,  mereka  yang  tadinya  berharap mendapat  keuntungan cepat justru banyak yang berakhir dengan rugi besar.


Akan lebih baik apabila investor pemula belajar dan meningkatkan  pemahaman terlebih dahulu sebelum berinvestasi saham. Hal ini dapat  dilakukan dengan mengikuti webinar dan workshop tentang  pasar  modal   yang  sering  diselenggarakan  oleh  instansi  berkaitan  ataupun   bergabung dengan komunitas pemain saham sehingga para investor pemula  bisa langsung mendengarkan dan belajar dari orang &amp;ndash;orang yang sudah  berpengalaman dalam bermain saham.

&amp;ldquo;Pelajaran  yang  dapat  dipetikdi  siniadalahbahwa pasar  sahamdapat   di  ibaratkan  seperti rimba. Kita akan menemukanberbagai jenis hewan.  Adahewanyang kuat secara alami karena ukurantubuhnya yang  besar,   namun  ada  juga  ada  hewan yang kuatsemata-mata karena mereka  selalu   bergerombol  dalam  jumlah  besar.  Selain  itu  sekarang  teknologi  juga  telah mengubah aturanpermainan.  Jadi  sebelum berinvestasisaham,  perlumemahami profil resikoperseorangan,  tetap  rasionaldan  tidak  bergantung  pada  intuisi saja  waktupemilihan  saham. Selalu  mencari   bantuan  dari  para penasihat  investasiyang  dapat  membantu  dan   memberikan bimbingandalam keputusan berinvestasi.&amp;rdquo; tutup Marvin.</content:encoded></item></channel></rss>
