<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Investor Milenial di Pasar Modal Bertumbuh Pesat</title><description>Pandemi COVID-19 memberikan tekanan bagi perekonomian dan pertumbuhan bisnis di dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/28/278/2369612/investor-milenial-di-pasar-modal-bertumbuh-pesat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/02/28/278/2369612/investor-milenial-di-pasar-modal-bertumbuh-pesat"/><item><title>Investor Milenial di Pasar Modal Bertumbuh Pesat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/02/28/278/2369612/investor-milenial-di-pasar-modal-bertumbuh-pesat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/02/28/278/2369612/investor-milenial-di-pasar-modal-bertumbuh-pesat</guid><pubDate>Minggu 28 Februari 2021 18:05 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhri Rezy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/02/28/278/2369612/investor-milenial-di-pasar-modal-bertumbuh-pesat-sckWxOzCv2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Saham (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/02/28/278/2369612/investor-milenial-di-pasar-modal-bertumbuh-pesat-sckWxOzCv2.jpg</image><title>Saham (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pandemi COVID-19 memberikan tekanan bagi perekonomian dan pertumbuhan bisnis di dunia. Namun di sisi lain, Pandemi COVID-19 menciptakan peluang khususnya bagi para investor milenial untuk berivestasi di Pasar Modal domestik.

Hal ini lantaran bisnis atau sektor riil tengah lesu akibat pandemi. Terlebih, tren suku bunga rendah saat ini semakin mendorong masyarakat untuk menempatkan dananya dalam bentuk portfolio investasi di pasar modal.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Aksi Korporasi Hari ini, Ada 5 Emiten dan Pencatatan Obligasi Pemerintah
Peluang berinvestasi bagi para milenial di pasar modal ini, salah satunya yakni didorong oleh aktivitas daring atau online yang meningkat selama pandemi. Transaksi pasar modal yang telah dilakukan secara online melalui fasilitas online trading, memberi keleluasaan bagi para investor baru terutama milienal. Dengan berbekal gadget dan internet, para milenial dapat mengakses layanan investasi saham secara online di mana saja dan kapan saja.

Berinvestasi di pasar modal melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) layaknya bermain game online. Apalagi, saat ini marak bermunculan para influencer yang turut meramaikan aktivitas berinvestasi mereka di media sosial sehingga mendorong milenial untuk ikut melakukan aktivitas yang sama.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Medikaloka Hermina Terbitkan Obligasi Rp600 Miliar
Dari total 4,2 juta investor di pasar modal per Januari 2021, sebesar 54,90% investor didominasi oleh usia dibawah 30 tahun atau dikategorikan sebagai milenial. Sementara itu, 1,3 juta investor adalah berusia  di bawah 40 tahun. Sepanjang tahun 2021, investor baru dengan usia 18&amp;ndash;25 tahun telah bertambah sebanyak 108.813 investor sehingga jumlah totalnya menjadi 623.069 investor. Persentasi investor baru milenial ini menempati porsi 50,7% dibanding total investor baru.
Hasil riset BEI menemukan bahwa kelompok milenial cocok berinvestasi  di pasar modal karena alasan kesesuaian antara karakter pasar modal dan  karakter para milenial. Karakter pasar modal yang cenderung dipengaruhi  oleh perkembangan atau  update berita terkini, sejalan dengan karakter  milienal yang selalu mencari informasi dan mengikuti perkembangan  teraktual.

Pasar modal yang transaksinya dilakukan secara online sangat sesuai  dengan karakter milenial yang technologically savvy. Sementara karakter  milenial seperti goal and achievement oriented sesuai dengan karakter  pasar modal yang melatih perencanaan keuangan dan berorientasi  keuntungan.

Milenial juga memiliki karakter fast decision maker, hal ini sesuai  dengan karakter pasar modal yang membutuhkan pengambilan keputusan  secara mandiri dan terjangkau. Selain itu, karakter investasi di pasar  modal membentuk komunitas untuk berbagi informasi dan tips, hal ini  sesuai dengan karakter milenial yang bersifat highly connected.  Sementara karakter pasar modal yang serba digital, sesuai dengan  karakter milenial yang digital native.

Namun perlu diingat, para investor milenial jangan sampai terjebak  fenomena &amp;ldquo;mology&amp;rdquo; atau pompom saham. Pompom saham adalah aksi investasi  di pasar modal sekadar ikut-ikutan, mengikuti apa yang dilakukan para  influencer. Rekomendasi dan analisis dari influencer harus diwaspadai,  terutama bagi investor pemula yang masih minim literasi. Jangan sampai,  para investor milenial akhirnya membeli atau menjual saham tanpa  memperhitungkan potensi untung atau pun rugi di masa depan.

Melihat maraknya fenomena ini, BEI melakukan upaya  edukasi secara  berkelompok kepada para investor melalui  berbagai kanal yang tersedia  di pasar modal. Direktur BEI Pengembangan Hasan Fawzi mengatakan, para  influencer dan juga investor harus memahami berinvestasi saham bukanlah  sesuatu yang instan. Perlu waktu untuk memahami, mempelajari, serta  meningkatkan kapasitas diri dalam berinvestasi. &amp;ldquo;Mereka harus  betul-betul memahami investasi, harus menyediakan waktu dan memberi  waktu, untuk belajar, meningkatkan kapasitas agar apa yang diharapkan  bisa dipetik di kemudian hari,&amp;rdquo; paparnya.

Hal penting yang harus diingat investor, yakni &amp;lsquo;Teman adalah Waktu&amp;rsquo;.  BEI membagi tema edukasi &amp;lsquo;Teman adalah Waktu&amp;rsquo; itu ke dalam tiga bagian.  Pertama, waktu untuk merencanakan dan mengelola keuangan degan baik.  Kedua, setiap produk memiliki keuntungan, risiko dan horizon waktu yang  berbeda, sehingga strategi investasi perlu disesuaikan. Ketiga, waktu  untuk berproses dan belajar dilakukan terus menerus, tidak bisa instan  langsung profit atau langsung mendapat cuan.

Adapun, BEI menyelenggarakan kegiatan edukasi dan investasi secara  reguler. Sepanjang tiga tahun terakhir misalnya, 2018 &amp;ndash; 2020 telah  diadakan 7.306 kegiatan edukasi online yang diikuti sebanyak 1.262.323  peserta online. Di antaranya, kegiatan Sekolah Pasar Modal (SPM) online  yang diadakan mulai dari level 1 untuk calon investor, level 2 untuk  investor, dan level lanjutan untuk investor. SPM diadakan secara rutin  oleh BEI dan TICMI (The Institute of Capital Market Indonesia) di 30  Kantor Perwakilan di seluruh Indonesia.

Sejak tahun 2019, BEI juga menggelar program edukasi dalam bentuk  incubator influencer. Tujuannya, Agar public figure, social media  influencers dan  komunitas dapat melakukan edukasi di media sosial  secara tepat dengan pesan yang sama. Selain itu, agar semua memiliki  visi yang sama, yakni meningkatkan literasi dan menjaga pasar modal agar  teratur, wajar, dan efisien. (TIM BEI)
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pandemi COVID-19 memberikan tekanan bagi perekonomian dan pertumbuhan bisnis di dunia. Namun di sisi lain, Pandemi COVID-19 menciptakan peluang khususnya bagi para investor milenial untuk berivestasi di Pasar Modal domestik.

Hal ini lantaran bisnis atau sektor riil tengah lesu akibat pandemi. Terlebih, tren suku bunga rendah saat ini semakin mendorong masyarakat untuk menempatkan dananya dalam bentuk portfolio investasi di pasar modal.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Aksi Korporasi Hari ini, Ada 5 Emiten dan Pencatatan Obligasi Pemerintah
Peluang berinvestasi bagi para milenial di pasar modal ini, salah satunya yakni didorong oleh aktivitas daring atau online yang meningkat selama pandemi. Transaksi pasar modal yang telah dilakukan secara online melalui fasilitas online trading, memberi keleluasaan bagi para investor baru terutama milienal. Dengan berbekal gadget dan internet, para milenial dapat mengakses layanan investasi saham secara online di mana saja dan kapan saja.

Berinvestasi di pasar modal melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) layaknya bermain game online. Apalagi, saat ini marak bermunculan para influencer yang turut meramaikan aktivitas berinvestasi mereka di media sosial sehingga mendorong milenial untuk ikut melakukan aktivitas yang sama.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Medikaloka Hermina Terbitkan Obligasi Rp600 Miliar
Dari total 4,2 juta investor di pasar modal per Januari 2021, sebesar 54,90% investor didominasi oleh usia dibawah 30 tahun atau dikategorikan sebagai milenial. Sementara itu, 1,3 juta investor adalah berusia  di bawah 40 tahun. Sepanjang tahun 2021, investor baru dengan usia 18&amp;ndash;25 tahun telah bertambah sebanyak 108.813 investor sehingga jumlah totalnya menjadi 623.069 investor. Persentasi investor baru milenial ini menempati porsi 50,7% dibanding total investor baru.
Hasil riset BEI menemukan bahwa kelompok milenial cocok berinvestasi  di pasar modal karena alasan kesesuaian antara karakter pasar modal dan  karakter para milenial. Karakter pasar modal yang cenderung dipengaruhi  oleh perkembangan atau  update berita terkini, sejalan dengan karakter  milienal yang selalu mencari informasi dan mengikuti perkembangan  teraktual.

Pasar modal yang transaksinya dilakukan secara online sangat sesuai  dengan karakter milenial yang technologically savvy. Sementara karakter  milenial seperti goal and achievement oriented sesuai dengan karakter  pasar modal yang melatih perencanaan keuangan dan berorientasi  keuntungan.

Milenial juga memiliki karakter fast decision maker, hal ini sesuai  dengan karakter pasar modal yang membutuhkan pengambilan keputusan  secara mandiri dan terjangkau. Selain itu, karakter investasi di pasar  modal membentuk komunitas untuk berbagi informasi dan tips, hal ini  sesuai dengan karakter milenial yang bersifat highly connected.  Sementara karakter pasar modal yang serba digital, sesuai dengan  karakter milenial yang digital native.

Namun perlu diingat, para investor milenial jangan sampai terjebak  fenomena &amp;ldquo;mology&amp;rdquo; atau pompom saham. Pompom saham adalah aksi investasi  di pasar modal sekadar ikut-ikutan, mengikuti apa yang dilakukan para  influencer. Rekomendasi dan analisis dari influencer harus diwaspadai,  terutama bagi investor pemula yang masih minim literasi. Jangan sampai,  para investor milenial akhirnya membeli atau menjual saham tanpa  memperhitungkan potensi untung atau pun rugi di masa depan.

Melihat maraknya fenomena ini, BEI melakukan upaya  edukasi secara  berkelompok kepada para investor melalui  berbagai kanal yang tersedia  di pasar modal. Direktur BEI Pengembangan Hasan Fawzi mengatakan, para  influencer dan juga investor harus memahami berinvestasi saham bukanlah  sesuatu yang instan. Perlu waktu untuk memahami, mempelajari, serta  meningkatkan kapasitas diri dalam berinvestasi. &amp;ldquo;Mereka harus  betul-betul memahami investasi, harus menyediakan waktu dan memberi  waktu, untuk belajar, meningkatkan kapasitas agar apa yang diharapkan  bisa dipetik di kemudian hari,&amp;rdquo; paparnya.

Hal penting yang harus diingat investor, yakni &amp;lsquo;Teman adalah Waktu&amp;rsquo;.  BEI membagi tema edukasi &amp;lsquo;Teman adalah Waktu&amp;rsquo; itu ke dalam tiga bagian.  Pertama, waktu untuk merencanakan dan mengelola keuangan degan baik.  Kedua, setiap produk memiliki keuntungan, risiko dan horizon waktu yang  berbeda, sehingga strategi investasi perlu disesuaikan. Ketiga, waktu  untuk berproses dan belajar dilakukan terus menerus, tidak bisa instan  langsung profit atau langsung mendapat cuan.

Adapun, BEI menyelenggarakan kegiatan edukasi dan investasi secara  reguler. Sepanjang tiga tahun terakhir misalnya, 2018 &amp;ndash; 2020 telah  diadakan 7.306 kegiatan edukasi online yang diikuti sebanyak 1.262.323  peserta online. Di antaranya, kegiatan Sekolah Pasar Modal (SPM) online  yang diadakan mulai dari level 1 untuk calon investor, level 2 untuk  investor, dan level lanjutan untuk investor. SPM diadakan secara rutin  oleh BEI dan TICMI (The Institute of Capital Market Indonesia) di 30  Kantor Perwakilan di seluruh Indonesia.

Sejak tahun 2019, BEI juga menggelar program edukasi dalam bentuk  incubator influencer. Tujuannya, Agar public figure, social media  influencers dan  komunitas dapat melakukan edukasi di media sosial  secara tepat dengan pesan yang sama. Selain itu, agar semua memiliki  visi yang sama, yakni meningkatkan literasi dan menjaga pasar modal agar  teratur, wajar, dan efisien. (TIM BEI)
</content:encoded></item></channel></rss>
