<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ayam Pedaging Disuntik Hormon, Mitos atau Fakta?</title><description>Asosiasi peternak menjawab mitos yang beredar di masyarakat bahwa ayam pedaging disuntik.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/02/320/2371016/ayam-pedaging-disuntik-hormon-mitos-atau-fakta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/02/320/2371016/ayam-pedaging-disuntik-hormon-mitos-atau-fakta"/><item><title>Ayam Pedaging Disuntik Hormon, Mitos atau Fakta?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/02/320/2371016/ayam-pedaging-disuntik-hormon-mitos-atau-fakta</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/02/320/2371016/ayam-pedaging-disuntik-hormon-mitos-atau-fakta</guid><pubDate>Selasa 02 Maret 2021 17:32 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/02/320/2371016/ayam-pedaging-disuntik-hormon-mitos-atau-fakta-nRWcQjRiMt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ayam (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/02/320/2371016/ayam-pedaging-disuntik-hormon-mitos-atau-fakta-nRWcQjRiMt.jpg</image><title>Ayam (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Asosiasi peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) menjawab mitos yang beredar di masyarakat bahwa ayam pedaging disuntik hormon untuk menambah bobot hewan ternak, namun buruk untuk kesehatan, adalah tidak benar.

&quot;Faktornya banyak, sehingga bisa dihasilkan ayam-ayam yang sekarang ini besar-besar. Jadi, sama sekali tidak menggunakan hormon,&quot; kata Ketua Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner Pinsar Rakhmat Nuriyanto dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Selasa.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Komisi IV DPR Soroti Anggaran Ayam Lokal dan Bengkel Alsintan
Rakhmat menjabarkan ayam ras untuk diternakkan sebagai pedaging maupun petelur telah dikembangkan sejak 1900 melalui berbagai penelitian.

Pada 1930, lahirlah ayam ras petelur dan beberapa tahun kemudian berhasil ditemukan ras broiler untuk diternakkan sebagai ayam pedaging.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Eksistensi Logo Ayam di Dunia Bisnis, dari Restoran hingga Jamu
Di Indonesia, kata Rakhmat, ras ayam petelur dan pedaging mulai masuk ke Indonesia dan dikembangbiakkan pada 1960-an.

Menurut dia, selama ini para peneliti terus melakukan penelitian hingga akhirnya bisa menghasilkan bibit ayam pedaging yang memiliki bobot berat untuk dikonsumsi.&quot;Pertama dari bibitnya. Induk ayam itu sudah disilangkan, diseleksi,  disilangkan, diseleksi berkali-kali sampai mendapatkan ras yang bisa  cepat tumbuh besar. Dulu mungkin untuk mencapai berat 1 kg perlu 90 hari  atau 60 hari, tapi dengan teknologi tadi disilangkan dan diambil yang  berkualitas, yang bagus, akhirnya mendapatkan bibit yang bagus sehingga  cepat besar,&quot; kata dia.

Faktor lainnya adalah jenis pakan berkualitas yang bisa mempercepat  pertumbuhan dan obat-obatan yang digunakan untuk menghasilkan ayam  pedaging berkualitas baik.

Rakhmat mengibaratkan teknologi obat-obatan yang diberikan pada ternak seperti halnya tanaman yang diberikan pupuk.

Selain itu, kata Rakhmat, faktor teknologi pemeliharaan ayam pedaging  yang presisi dan modern juga memengaruhi bobot ayam broiler sehingga  bisa tumbuh besar.

Rakhmat juga menyampaikan bahwa tidak ada telur palsu seperti yang  pernah beredar di sosial media dan dikatakan berasal dari China.

Dia menjelaskan info tersebut adalah hoaks dan menyebut produksi  telur dengan pabrik seperti yang ada pada video adalah pembuatan telur  mainan.

Bila di masyarakat terdapat telur dengan tekstur kulit yang agak tebal serta kenyal, katanya, telur itu bukanlah telur palsu.

Rakhmat mengungkapkan bahwa telur itu adalah telur yang rencananya  akan ditetaskan namun batal dan lolos di pasaran. Kendati demikian,  telur tersebut tetap layak konsumsi dan hanya terjadi satu kali  kejadian.</description><content:encoded>JAKARTA - Asosiasi peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) menjawab mitos yang beredar di masyarakat bahwa ayam pedaging disuntik hormon untuk menambah bobot hewan ternak, namun buruk untuk kesehatan, adalah tidak benar.

&quot;Faktornya banyak, sehingga bisa dihasilkan ayam-ayam yang sekarang ini besar-besar. Jadi, sama sekali tidak menggunakan hormon,&quot; kata Ketua Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner Pinsar Rakhmat Nuriyanto dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Selasa.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Komisi IV DPR Soroti Anggaran Ayam Lokal dan Bengkel Alsintan
Rakhmat menjabarkan ayam ras untuk diternakkan sebagai pedaging maupun petelur telah dikembangkan sejak 1900 melalui berbagai penelitian.

Pada 1930, lahirlah ayam ras petelur dan beberapa tahun kemudian berhasil ditemukan ras broiler untuk diternakkan sebagai ayam pedaging.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Eksistensi Logo Ayam di Dunia Bisnis, dari Restoran hingga Jamu
Di Indonesia, kata Rakhmat, ras ayam petelur dan pedaging mulai masuk ke Indonesia dan dikembangbiakkan pada 1960-an.

Menurut dia, selama ini para peneliti terus melakukan penelitian hingga akhirnya bisa menghasilkan bibit ayam pedaging yang memiliki bobot berat untuk dikonsumsi.&quot;Pertama dari bibitnya. Induk ayam itu sudah disilangkan, diseleksi,  disilangkan, diseleksi berkali-kali sampai mendapatkan ras yang bisa  cepat tumbuh besar. Dulu mungkin untuk mencapai berat 1 kg perlu 90 hari  atau 60 hari, tapi dengan teknologi tadi disilangkan dan diambil yang  berkualitas, yang bagus, akhirnya mendapatkan bibit yang bagus sehingga  cepat besar,&quot; kata dia.

Faktor lainnya adalah jenis pakan berkualitas yang bisa mempercepat  pertumbuhan dan obat-obatan yang digunakan untuk menghasilkan ayam  pedaging berkualitas baik.

Rakhmat mengibaratkan teknologi obat-obatan yang diberikan pada ternak seperti halnya tanaman yang diberikan pupuk.

Selain itu, kata Rakhmat, faktor teknologi pemeliharaan ayam pedaging  yang presisi dan modern juga memengaruhi bobot ayam broiler sehingga  bisa tumbuh besar.

Rakhmat juga menyampaikan bahwa tidak ada telur palsu seperti yang  pernah beredar di sosial media dan dikatakan berasal dari China.

Dia menjelaskan info tersebut adalah hoaks dan menyebut produksi  telur dengan pabrik seperti yang ada pada video adalah pembuatan telur  mainan.

Bila di masyarakat terdapat telur dengan tekstur kulit yang agak tebal serta kenyal, katanya, telur itu bukanlah telur palsu.

Rakhmat mengungkapkan bahwa telur itu adalah telur yang rencananya  akan ditetaskan namun batal dan lolos di pasaran. Kendati demikian,  telur tersebut tetap layak konsumsi dan hanya terjadi satu kali  kejadian.</content:encoded></item></channel></rss>
