<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>LPS Pantau Penurunan Suku Bunga Kredit</title><description>Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mendorong penurunan Suku Bunga Kredit.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/03/320/2371455/lps-pantau-penurunan-suku-bunga-kredit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/03/320/2371455/lps-pantau-penurunan-suku-bunga-kredit"/><item><title>LPS Pantau Penurunan Suku Bunga Kredit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/03/320/2371455/lps-pantau-penurunan-suku-bunga-kredit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/03/320/2371455/lps-pantau-penurunan-suku-bunga-kredit</guid><pubDate>Rabu 03 Maret 2021 12:00 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/03/320/2371455/lps-pantau-penurunan-suku-bunga-kredit-LMfBAyHR59.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/03/320/2371455/lps-pantau-penurunan-suku-bunga-kredit-LMfBAyHR59.jpg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mendorong penurunan Suku Bunga Kredit. Kepala Eksekutif LPS Lana Soelistianingsih mengatakan pihaknya berkoordinasi, membahas kondisi makro dan mikro di sektor keuangan. Serta  juga melihat kemungkinan apakah ada ruang untuk turun, sebagai kelanjutan dari suku bunga yang lain. Menurutnya sinergitas kebijakan antar lembaga harus menjadi perhatian.
&amp;ldquo;Tentunya kami juga memonitor suku bunga kredit ini bagaimana cara mendorong untuk turun. Tentunya upaya untuk mendorong suku bunga kredit adalah bagaimana cara menurunkan suku bunga pinjaman atau suku bunga penjaminan, tentunya kami akan sinergikan terlebih dulu,&amp;rdquo; kata dia, Rabu (3/3/2021).
Baca Juga: Tak Terjual, Ketua OJK Ungkap Mobil dan Motor Menumpuk di Dealer
 
Dia menambahkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi suku bunga kredit, belum stabilnya kredit atas permintaan karena kegiatan usaha yang belum menunjukkan konsistensi. Namun, dengan adanya program vaksinasi yang efektivitasnya sudah mulai dirasakan, dengan turunnya angka penyebaran covid-19, diharapkan kepercayaan masyarakat akan pulih dan kegiatan usaha kembali normal seiring dengan meningkatnya permintaan atas kredit pada bank.
&amp;ldquo;Jika dilihat dari simpanan yang berbasis giro memang ada penurunan karena tiga bulan lagi kita akan menghadapi bulan puasa dan Lebaran, ini nampaknya beberapa kegiatan usaha mulai menggunakan giro. Artinya masih menggunakan uang sendiri bukan kredit yang dikeluarkan oleh bank. Hal inilah yang belum bisa mentransmisikan ke suku bunga kredit karena para pelaku usaha masih menggunakan lebih banyak giro yang dimilikinya untuk kegiatan usaha yang mulai membaik seperti saat ini. Saya kira, vaksin memang menjadi harapan bagi kegiatan usaha,&amp;rdquo; jelasnya.
Baca Juga: OJK Ungkap Restrukturisasi Kredit Perbankan Rp987 Triliun
 
Menurutnya, ke depan efektivitas vaksin ini bisa menjadi faktor positif yang dapat membuat kegiatan usaha semakin pulih.
&amp;ldquo;Tentunya para pelaku usaha tidak bisa terus menerus menggunakan uangnya sendiri atau giro, pasti mereka akan meminta kredit pada bank, di saat kredit mulai membaik, disitu mungkin perbankan juga akan mulai memberikan relaksasi terhadap suku bunga kreditnya,&amp;rdquo;  tambahnya.Lana Soelistianigsih memaparkan, berdasarkan penelitian yang pernah  dilakukan oleh LPS efektivitas penurunan suku bunga simpanan ke suku  bunga kredit, dalam keadaan akan normal, ada selang waktu antara 1  triwulan sampai dengan 2 triwulan. Tetapi dengan kondisi pandemi seperti  sekarang, mungkin perlu waktu lebih lama lagi atau sekitar 3 triwulan.
&amp;ldquo;Namun cepat atau lambat, saya kira suku bunga kredit akan turun  seiring dengan kegiatan usaha yang semakin membaik, terlebih program  vaksinasi berjalan dengan masif, seperti terlihat di sentra perekonomian  semisal di Pasar Tanah Abang. Saya kira juga akan dilaksanakan di  berbagai tempat sejenis, sehingga akan membangun kepercayaan masyarakat  bahwa pandemi ini sudah mulai terkendali dan membangun keyakinan akan  konsumsi, dan jika konsumsi mulai membaik, di sinilah kegiatan usaha  akan pulih dan bahkan meningkat,&amp;rdquo; ujarnya.
Jika melihat kondisi simpanan yang masih tumbuh sekitar 10% di bulan  Januari dan pada Desember 2020 tumbuh sekitar 11% year on year, hal ini  menunjukkan simpanan itu masih terus meningkat.
&amp;ldquo;Kalau likuiditas ini masih cukup banyak di perbankan, maka mau tidak  mau  tren penurunan suku bunga pasar itu masih berlanjut. Di sini LPS  akan melihat bagaimana penurunan suku bunga pada bulan Februari akan  direspons oleh pasar. Kalau memang dimungkinkan turun, nanti akan ada  ruang untuk turun,&amp;rdquo; katanya.
Kata dia, jika  permintaan kredit mulai membaik, ini dapat mendorong  bank untuk menurunkan suku bunga kredit. Secara historis jika melihat  PDB, konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 55%. Dulu sebelum  pandemi, masyarakat kita itu konsumtif, dan itu benar adanya jika  melihat kontribusi dari konsumsi rumah tangga itu, jadi kekuatan ekonomi  kita itu sebetulnya di konsumsi rumah tangga.
&quot;Oleh karenanya ke depan sinergi kebijakan itu ialah bagaimana  mendongkrak konsumsi rumah tangga tersebut,&amp;rdquo; pungkas Lana  Soelistianingsih.</description><content:encoded>JAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mendorong penurunan Suku Bunga Kredit. Kepala Eksekutif LPS Lana Soelistianingsih mengatakan pihaknya berkoordinasi, membahas kondisi makro dan mikro di sektor keuangan. Serta  juga melihat kemungkinan apakah ada ruang untuk turun, sebagai kelanjutan dari suku bunga yang lain. Menurutnya sinergitas kebijakan antar lembaga harus menjadi perhatian.
&amp;ldquo;Tentunya kami juga memonitor suku bunga kredit ini bagaimana cara mendorong untuk turun. Tentunya upaya untuk mendorong suku bunga kredit adalah bagaimana cara menurunkan suku bunga pinjaman atau suku bunga penjaminan, tentunya kami akan sinergikan terlebih dulu,&amp;rdquo; kata dia, Rabu (3/3/2021).
Baca Juga: Tak Terjual, Ketua OJK Ungkap Mobil dan Motor Menumpuk di Dealer
 
Dia menambahkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi suku bunga kredit, belum stabilnya kredit atas permintaan karena kegiatan usaha yang belum menunjukkan konsistensi. Namun, dengan adanya program vaksinasi yang efektivitasnya sudah mulai dirasakan, dengan turunnya angka penyebaran covid-19, diharapkan kepercayaan masyarakat akan pulih dan kegiatan usaha kembali normal seiring dengan meningkatnya permintaan atas kredit pada bank.
&amp;ldquo;Jika dilihat dari simpanan yang berbasis giro memang ada penurunan karena tiga bulan lagi kita akan menghadapi bulan puasa dan Lebaran, ini nampaknya beberapa kegiatan usaha mulai menggunakan giro. Artinya masih menggunakan uang sendiri bukan kredit yang dikeluarkan oleh bank. Hal inilah yang belum bisa mentransmisikan ke suku bunga kredit karena para pelaku usaha masih menggunakan lebih banyak giro yang dimilikinya untuk kegiatan usaha yang mulai membaik seperti saat ini. Saya kira, vaksin memang menjadi harapan bagi kegiatan usaha,&amp;rdquo; jelasnya.
Baca Juga: OJK Ungkap Restrukturisasi Kredit Perbankan Rp987 Triliun
 
Menurutnya, ke depan efektivitas vaksin ini bisa menjadi faktor positif yang dapat membuat kegiatan usaha semakin pulih.
&amp;ldquo;Tentunya para pelaku usaha tidak bisa terus menerus menggunakan uangnya sendiri atau giro, pasti mereka akan meminta kredit pada bank, di saat kredit mulai membaik, disitu mungkin perbankan juga akan mulai memberikan relaksasi terhadap suku bunga kreditnya,&amp;rdquo;  tambahnya.Lana Soelistianigsih memaparkan, berdasarkan penelitian yang pernah  dilakukan oleh LPS efektivitas penurunan suku bunga simpanan ke suku  bunga kredit, dalam keadaan akan normal, ada selang waktu antara 1  triwulan sampai dengan 2 triwulan. Tetapi dengan kondisi pandemi seperti  sekarang, mungkin perlu waktu lebih lama lagi atau sekitar 3 triwulan.
&amp;ldquo;Namun cepat atau lambat, saya kira suku bunga kredit akan turun  seiring dengan kegiatan usaha yang semakin membaik, terlebih program  vaksinasi berjalan dengan masif, seperti terlihat di sentra perekonomian  semisal di Pasar Tanah Abang. Saya kira juga akan dilaksanakan di  berbagai tempat sejenis, sehingga akan membangun kepercayaan masyarakat  bahwa pandemi ini sudah mulai terkendali dan membangun keyakinan akan  konsumsi, dan jika konsumsi mulai membaik, di sinilah kegiatan usaha  akan pulih dan bahkan meningkat,&amp;rdquo; ujarnya.
Jika melihat kondisi simpanan yang masih tumbuh sekitar 10% di bulan  Januari dan pada Desember 2020 tumbuh sekitar 11% year on year, hal ini  menunjukkan simpanan itu masih terus meningkat.
&amp;ldquo;Kalau likuiditas ini masih cukup banyak di perbankan, maka mau tidak  mau  tren penurunan suku bunga pasar itu masih berlanjut. Di sini LPS  akan melihat bagaimana penurunan suku bunga pada bulan Februari akan  direspons oleh pasar. Kalau memang dimungkinkan turun, nanti akan ada  ruang untuk turun,&amp;rdquo; katanya.
Kata dia, jika  permintaan kredit mulai membaik, ini dapat mendorong  bank untuk menurunkan suku bunga kredit. Secara historis jika melihat  PDB, konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 55%. Dulu sebelum  pandemi, masyarakat kita itu konsumtif, dan itu benar adanya jika  melihat kontribusi dari konsumsi rumah tangga itu, jadi kekuatan ekonomi  kita itu sebetulnya di konsumsi rumah tangga.
&quot;Oleh karenanya ke depan sinergi kebijakan itu ialah bagaimana  mendongkrak konsumsi rumah tangga tersebut,&amp;rdquo; pungkas Lana  Soelistianingsih.</content:encoded></item></channel></rss>
