<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gaungkan Benci Produk Asing Bisa Picu Pembalasan dari Negara Lain</title><description>Presiden Jokowi menggaungkan benci produk luar negeri atau asing.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/09/320/2374876/gaungkan-benci-produk-asing-bisa-picu-pembalasan-dari-negara-lain</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/09/320/2374876/gaungkan-benci-produk-asing-bisa-picu-pembalasan-dari-negara-lain"/><item><title>Gaungkan Benci Produk Asing Bisa Picu Pembalasan dari Negara Lain</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/09/320/2374876/gaungkan-benci-produk-asing-bisa-picu-pembalasan-dari-negara-lain</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/09/320/2374876/gaungkan-benci-produk-asing-bisa-picu-pembalasan-dari-negara-lain</guid><pubDate>Selasa 09 Maret 2021 13:42 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/09/320/2374876/gaungkan-benci-produk-asing-bisa-picu-pembalasan-dari-negara-lain-V37NUnc6ru.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Minimarket (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/09/320/2374876/gaungkan-benci-produk-asing-bisa-picu-pembalasan-dari-negara-lain-V37NUnc6ru.jpg</image><title>Minimarket (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Jokowi menggaungkan benci produk asing. Jokowi ingin produk dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan masyarakat bangga memakai produk dalam negeri.
Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus menilai, diksi yang digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait benci produk asing kurang tepat. Menurutnya, hal ini bisa memicu retaliasi atau pembalasan oleh dunia internasional.
Baca Juga: Benci Produk Asing Jangan Cuma Jargon, Buktinya RI 'Kebanjiran' Barang Impor dari China
 
&amp;ldquo;Memang maksudnya baik, jadi maksud Pak Presiden itu kan bagaimana caranya kita bisa meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Namun, penggunaan diksinya itu saya rasa kurang tepat karena ini bisa memicu retaliasi karena kalau dunia internasional mengetahui tagline tersebut apalagi kalau sudah menjadi tagline gitu ya, tentu ini tidak disukai oleh para mitra dagang kita,&amp;rdquo; ujarnya dalam acara Market Review IDX Channel, Rabu (9/3/2021).
Ahmad menjelaskan, hal ini pada akhirnya bisa memicu protes dari mitra dagang Indonesia. Sehingga nantinya akan mempersulit produk ekspor Indonesia sendiri apabila ingin melakukan penetrasi pasar. Di sisi lain, tentu harus ada strategi yang dibangun di tengah maraknya liberalisasi perdagangan.
Baca Juga: Pengusaha Masifkan Kampanye Cinta Produk Lokal 
 
&amp;ldquo;Justru yang kita butuhkan sekarang bagaimana kita bisa meningkatkan ekspor semaksimal mungkin ya, kita bisa melakukan penetrasi pasar. Di sisi lain kita juga bisa melakukan subtitusi impor,&amp;rdquo; jelas dia.&amp;ldquo;Dan kalau dilihat dan dibandingkan tagline yang dibangun atau yang  dibuat oleh negara lain itu tidak ada yang sifatnya diskriminatif  seperti itu. Jadi kalau kita lihat contohnya di China itu &amp;ldquo;Made in China  2025&amp;rdquo;, di India menggunakan kalimat &amp;ldquo;Make in India&amp;rdquo;, kita juga  semestinya perlu ada tagline yang bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap  produk dalam negeri dan rasa bangga apabila kita menggunakan produk  dalam negeri,&amp;rdquo; tambah Ahmad.
Sementara itu, menurutnya, produk impor barang konsumsi yang masuk  melalui e-commerce perlu ditinjau ulang. Hal ini terkait apakah  produk-produk ini sudah mengikuti standar ketentuan dan aturan yang  berlaku di Indonesia.
&amp;ldquo;Jadi memang di tengah liberasisasi ya kita terbuka gitu ya. Tapi  kita berkompetisi mengutamakan fair trade perdagangan yang mengedepankan  seimbang, adil, ya fair lah pokoknya. Jadi, konteksnya itu tentu  menurut saya fair yang dimaksud adalah pengendalian impor khusus untuk  barang konsumsi. Kalau untuk impor bahan baku justru ini sangat  dibutuhkan ya industrialisasi kita,&amp;rdquo; ujar Ahmad.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Jokowi menggaungkan benci produk asing. Jokowi ingin produk dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan masyarakat bangga memakai produk dalam negeri.
Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus menilai, diksi yang digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait benci produk asing kurang tepat. Menurutnya, hal ini bisa memicu retaliasi atau pembalasan oleh dunia internasional.
Baca Juga: Benci Produk Asing Jangan Cuma Jargon, Buktinya RI 'Kebanjiran' Barang Impor dari China
 
&amp;ldquo;Memang maksudnya baik, jadi maksud Pak Presiden itu kan bagaimana caranya kita bisa meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Namun, penggunaan diksinya itu saya rasa kurang tepat karena ini bisa memicu retaliasi karena kalau dunia internasional mengetahui tagline tersebut apalagi kalau sudah menjadi tagline gitu ya, tentu ini tidak disukai oleh para mitra dagang kita,&amp;rdquo; ujarnya dalam acara Market Review IDX Channel, Rabu (9/3/2021).
Ahmad menjelaskan, hal ini pada akhirnya bisa memicu protes dari mitra dagang Indonesia. Sehingga nantinya akan mempersulit produk ekspor Indonesia sendiri apabila ingin melakukan penetrasi pasar. Di sisi lain, tentu harus ada strategi yang dibangun di tengah maraknya liberalisasi perdagangan.
Baca Juga: Pengusaha Masifkan Kampanye Cinta Produk Lokal 
 
&amp;ldquo;Justru yang kita butuhkan sekarang bagaimana kita bisa meningkatkan ekspor semaksimal mungkin ya, kita bisa melakukan penetrasi pasar. Di sisi lain kita juga bisa melakukan subtitusi impor,&amp;rdquo; jelas dia.&amp;ldquo;Dan kalau dilihat dan dibandingkan tagline yang dibangun atau yang  dibuat oleh negara lain itu tidak ada yang sifatnya diskriminatif  seperti itu. Jadi kalau kita lihat contohnya di China itu &amp;ldquo;Made in China  2025&amp;rdquo;, di India menggunakan kalimat &amp;ldquo;Make in India&amp;rdquo;, kita juga  semestinya perlu ada tagline yang bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap  produk dalam negeri dan rasa bangga apabila kita menggunakan produk  dalam negeri,&amp;rdquo; tambah Ahmad.
Sementara itu, menurutnya, produk impor barang konsumsi yang masuk  melalui e-commerce perlu ditinjau ulang. Hal ini terkait apakah  produk-produk ini sudah mengikuti standar ketentuan dan aturan yang  berlaku di Indonesia.
&amp;ldquo;Jadi memang di tengah liberasisasi ya kita terbuka gitu ya. Tapi  kita berkompetisi mengutamakan fair trade perdagangan yang mengedepankan  seimbang, adil, ya fair lah pokoknya. Jadi, konteksnya itu tentu  menurut saya fair yang dimaksud adalah pengendalian impor khusus untuk  barang konsumsi. Kalau untuk impor bahan baku justru ini sangat  dibutuhkan ya industrialisasi kita,&amp;rdquo; ujar Ahmad.
</content:encoded></item></channel></rss>
