<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fintech Turun Tangan Salurkan Bansos Nontunai?</title><description>IFSoc mendukung upaya penuh pemerintah dalam melakukan digitalisasi bantuan sosial (Bansos).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/09/320/2374957/fintech-turun-tangan-salurkan-bansos-nontunai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/09/320/2374957/fintech-turun-tangan-salurkan-bansos-nontunai"/><item><title>Fintech Turun Tangan Salurkan Bansos Nontunai?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/09/320/2374957/fintech-turun-tangan-salurkan-bansos-nontunai</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/09/320/2374957/fintech-turun-tangan-salurkan-bansos-nontunai</guid><pubDate>Selasa 09 Maret 2021 15:34 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/09/320/2374957/fintech-turun-tangan-salurkan-bansos-nontunai-EX6dyHFanB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Fintech (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/09/320/2374957/fintech-turun-tangan-salurkan-bansos-nontunai-EX6dyHFanB.jpg</image><title>Fintech (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia Fintech Society (IFSoc) mendukung upaya penuh pemerintah dalam melakukan digitalisasi bantuan sosial (Bansos). Hal ini agar penyaluran lebih transparan, menghapus masalah perantara (middleman issue), mencegah kerumunan, dan tepat sasaran.

Ketua IFSoc Mirza Adityaswara mengatakan bahwa untuk mempercepat langkah pemerintah dalam melakukan digitalisasi bansos, maka ada tiga aspek yang harus menjadi perhatian pemerintah yaitu perbaikan regulasi, perbaikan tata kelola penyaluran melalui digitalisasi (platform), dan tantangan pengelolaan data dalam penyaluran bansos.
Baca juga: Alasan BLT Subsidi Gaji Dihapus, Ini Penjelasannya
&quot;Terkait Peraturan Presiden No. 63/2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Secara Non Tunai sudah saatnya dikaji ulang dan  direvisi dengan mempertimbangkan terdapat alternatif penyaluran bansos sebagai antisipasi perkembangan teknologi serta kebutuhan masyarakat penerima manfaat,&quot; ujar Mirza dalam press briefing IFSoc virtual di Jakarta, Selasa (9/3/2021).

Menurutnya, untuk memulai proses digitalisasi bansos harus ada evaluasi dan perumusan kebijakan yang mendukung, dengan perlunya mengedepankan prinsip shared infrastructure dan omnichannel.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ditanya Pencairan BLT Subsidi Gaji, Begini Jawaban Kemenkeu
&amp;ldquo;Kondisi dunia saat ini sedang terpacu untuk menerapkan teknologi digital di berbagai bidang. Di Indonesia sendiri platform digital untuk bansos sudah siap, tergantung kemauan dan payung hukum yang sayangnya saat ini masih mempersempit ruang digital yang bisa dijalankan,&amp;rdquo; kata Mirza.Ekonom CORE sekaligus anggota Steering Committee IFSoc, Hendri  Saparini, menjelaskan digitalisasi bansos tidak untuk menggantikan  penyaluran bansos melalui Bank namun sebagai alternatif tambahan untuk  saling melengkapi.

&amp;ldquo;Digitalisasi bansos dapat menghilangkan middlemen issue,  inefisiensi, dan berbagai distorsi yang selama ini terjadi, melalui  pemanfaatan teknologi. Pemerintah perlu memiliki sebuah platform  tersentral dan terintegrasi yang dibangun secara gotong-royong oleh  pemerintah dan perusahaan-perusahaan fintech,&amp;rdquo; katanya.


Menurut Hendri, bansos dengan menggunakan kartu saat ini ada batasan  karena harus menyiapkan kartu dan mesin EDC (electronic data capture)  yang mahal. Opsi distribusi bansos tanpa kartu, atau cardless dengan  menggunakan telepon seluler menjadi salah satu alternatif, misal  menggunakan sms; lebih jauh data transaksi para penerima bansos pun  dapat digunakan sebagai credit scoring dalam pengajuan kredit produktif.

&quot;Dengan begitu maka digitalisasi bansos akan menjamin aspek  governance, meningkatkan transparansi, efisiensi waktu, serta biaya,&amp;rdquo;  tambahnya.


IFSoc berpandangan pemerintah tidak perlu membangun sistem baru untuk  digitalisasi bansos, namun dapat bersinergi dengan mengoptimalkan  infrastruktur setiap Kementerian dan Lembaga sehingga lebih efisien dan  menghapus gap yang ada saat ini.

&quot;Pemerintah dapat mereplikasi platform kartu Prakerja yang telah  berhasil menghilangkan middlemen issue (perantara), inefisiensi, dan  distorsi lainnya. Program Prakerja juga telah membawa dampak positif  seperti mendorong masyarakat untuk memiliki rekening bank ataupun dompet  digital, kecepatan dan ketepatan distribusi insentif di hari yang sama,  dan dapat menghindari kerumunan saat distribusi bantuan,&quot; tegasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia Fintech Society (IFSoc) mendukung upaya penuh pemerintah dalam melakukan digitalisasi bantuan sosial (Bansos). Hal ini agar penyaluran lebih transparan, menghapus masalah perantara (middleman issue), mencegah kerumunan, dan tepat sasaran.

Ketua IFSoc Mirza Adityaswara mengatakan bahwa untuk mempercepat langkah pemerintah dalam melakukan digitalisasi bansos, maka ada tiga aspek yang harus menjadi perhatian pemerintah yaitu perbaikan regulasi, perbaikan tata kelola penyaluran melalui digitalisasi (platform), dan tantangan pengelolaan data dalam penyaluran bansos.
Baca juga: Alasan BLT Subsidi Gaji Dihapus, Ini Penjelasannya
&quot;Terkait Peraturan Presiden No. 63/2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Secara Non Tunai sudah saatnya dikaji ulang dan  direvisi dengan mempertimbangkan terdapat alternatif penyaluran bansos sebagai antisipasi perkembangan teknologi serta kebutuhan masyarakat penerima manfaat,&quot; ujar Mirza dalam press briefing IFSoc virtual di Jakarta, Selasa (9/3/2021).

Menurutnya, untuk memulai proses digitalisasi bansos harus ada evaluasi dan perumusan kebijakan yang mendukung, dengan perlunya mengedepankan prinsip shared infrastructure dan omnichannel.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ditanya Pencairan BLT Subsidi Gaji, Begini Jawaban Kemenkeu
&amp;ldquo;Kondisi dunia saat ini sedang terpacu untuk menerapkan teknologi digital di berbagai bidang. Di Indonesia sendiri platform digital untuk bansos sudah siap, tergantung kemauan dan payung hukum yang sayangnya saat ini masih mempersempit ruang digital yang bisa dijalankan,&amp;rdquo; kata Mirza.Ekonom CORE sekaligus anggota Steering Committee IFSoc, Hendri  Saparini, menjelaskan digitalisasi bansos tidak untuk menggantikan  penyaluran bansos melalui Bank namun sebagai alternatif tambahan untuk  saling melengkapi.

&amp;ldquo;Digitalisasi bansos dapat menghilangkan middlemen issue,  inefisiensi, dan berbagai distorsi yang selama ini terjadi, melalui  pemanfaatan teknologi. Pemerintah perlu memiliki sebuah platform  tersentral dan terintegrasi yang dibangun secara gotong-royong oleh  pemerintah dan perusahaan-perusahaan fintech,&amp;rdquo; katanya.


Menurut Hendri, bansos dengan menggunakan kartu saat ini ada batasan  karena harus menyiapkan kartu dan mesin EDC (electronic data capture)  yang mahal. Opsi distribusi bansos tanpa kartu, atau cardless dengan  menggunakan telepon seluler menjadi salah satu alternatif, misal  menggunakan sms; lebih jauh data transaksi para penerima bansos pun  dapat digunakan sebagai credit scoring dalam pengajuan kredit produktif.

&quot;Dengan begitu maka digitalisasi bansos akan menjamin aspek  governance, meningkatkan transparansi, efisiensi waktu, serta biaya,&amp;rdquo;  tambahnya.


IFSoc berpandangan pemerintah tidak perlu membangun sistem baru untuk  digitalisasi bansos, namun dapat bersinergi dengan mengoptimalkan  infrastruktur setiap Kementerian dan Lembaga sehingga lebih efisien dan  menghapus gap yang ada saat ini.

&quot;Pemerintah dapat mereplikasi platform kartu Prakerja yang telah  berhasil menghilangkan middlemen issue (perantara), inefisiensi, dan  distorsi lainnya. Program Prakerja juga telah membawa dampak positif  seperti mendorong masyarakat untuk memiliki rekening bank ataupun dompet  digital, kecepatan dan ketepatan distribusi insentif di hari yang sama,  dan dapat menghindari kerumunan saat distribusi bantuan,&quot; tegasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
