<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Masih Ada 8 Danau Kritis di Indonesia, di Mana Saja?</title><description>Kementerian PUPR sejak tahun 2016 secara bertahap telah melaksanakan kegiatan revitalisasi 15 danau kritis.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/11/320/2376246/masih-ada-8-danau-kritis-di-indonesia-di-mana-saja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/11/320/2376246/masih-ada-8-danau-kritis-di-indonesia-di-mana-saja"/><item><title>Masih Ada 8 Danau Kritis di Indonesia, di Mana Saja?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/11/320/2376246/masih-ada-8-danau-kritis-di-indonesia-di-mana-saja</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/11/320/2376246/masih-ada-8-danau-kritis-di-indonesia-di-mana-saja</guid><pubDate>Kamis 11 Maret 2021 18:54 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/11/320/2376246/masih-ada-8-danau-kritis-di-indonesia-di-mana-saja-9npc7289SG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">bendungan danau (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/11/320/2376246/masih-ada-8-danau-kritis-di-indonesia-di-mana-saja-9npc7289SG.jpg</image><title>bendungan danau (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sejak tahun 2016 secara bertahap telah melaksanakan kegiatan revitalisasi 15 danau kritis. Di mana yang menjadi prioritas nasional untuk ditangani berdasarkan Konferensi Nasional Danau Indonesia (KNDI) di Denpasar, Bali pada 13 Agustus 2009 silam.

Revitalisasi danau bertujuan untuk mengembalikan fungsi alami danau sebagai tampungan air melalui pengerukan sedimen, pembersihan gulma air/eceng gondok, pembuatan tanggul, termasuk penataan di kawasan daerah aliran sungai.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kisah Misteri Danau Penuh Kerangka Manusia
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, dalam penyelamatan danau kritis di Indonesia ditempuh melalui kegiatan struktural dan non struktural. Keduanya membutuhkan sinergi antara Pemerintah Pusat dan Daerah, akademisi, komunitas, dan masyarakat.

&quot;Pada TA 2020, penanganan dilanjutkan  Kementerian PUPR dengan merevitalisasi 8 danau kritis terdiri dari 6 Danau Super Prioritas yakni  Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Maninjau di Sumatera Barat, Danau Rawa Pening di Jawa Tengah, Danau Tondano di Sulawesi Utara, Danau Limboto di Gorontalo, dan Danau Tempe di Sulawesi Selatan. Sedangkan 2 Danau Prioritas yakni Danau Poso di Sulawesi Tengah dan Danau Sentani di Papua,&quot; kata Basuki di Jakarta, Kamis (11/3/2021)
 
&amp;nbsp;Baca juga: Bahaya! Danau di Afrika Berisiko Meledak
Pertama, Danau Toba di Sumatera Utara pada TA 2020 telah dilakukan Preparation of Water Resources Strategic Implementation Plan for Priority Lake - West Region. Kemudian pelebaran Alur Tano Ponggol di Kabupaten Samosir dan dilanjutkan pada TA 2021.

Tano Ponggol merupakan satu-satunya akses darat untuk menuju Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba. Desain jembatan tersebut akan mengadposi kearifan lokal adat Batak dengan perkiraan ketinggian ideal jembatan sekitar 8-9 meter dari permukaan danau. Danau Toba memiliki volume tampung 256.200 juta m3 dan luas area 112.400 hektar.Kedua Danau Maninjau di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat juga  dilakukan Preparation of Water Resources Strategic Implementation Plan  for Priority Lake - West Region. Danau ini memiliki volume tampung 10,33  miliar m3 dan luas 9.996 hektar. Ketiga Danau Rawa Pening di Jawa  Tengah dengan volume tampung 48,15 juta m3 dan luas 1.850 hektar.  Pekerjaan revitalisasi Danau Rawa Pening dilanjutkan pada TA 2021.

Penanganan keempat dilakukan pada Danau Tempe di Sulawesi Selatan  yang telah dikerjakan sejak 2018. Permasalahan pada danau ini antara  lain peningkatan sedimentasi,alih fungsi lahan yang tidak terkendali dan  berkurangnya fungsi danau sebagai sarana redaman banjir. Danau Tempe  memiliki volume tampung 207,66 juta m3 dan luas 16.250 hektar.

Selanjutnya penanganan kelima Danau Limboto di Gorontalo yang  memiliki volume tampung 75 juta m3 dan luas 3.000 hektar. Permasalahan  pada Danau Limboto adalah pendangkalan dan penyusutan luas perairan  danau serta pertumbuhan eceng gondok yang cepat, okupasi lahan danau,  dan terjadinya banjir tahunan pada musim hujan. Penanganan Danau Limboto  juga dilanjutkan pada TA 2021.

Keenam Danau Tondano di Sulawesi Utara yang memiliki volume tampung  668,57 juta m3 dan luas 4.616 hektar. Sebelumnya Kementerian PUPR telah  menyelesaikan revitalisasi Sungai Tondano yang mengalir ke badan air  Danau Tondano pada 2016-2018. Pada tahun 2019 pelaksanaan revitalisasi  dianjutkan diantaranya membangun  tanggul pembatas badan air danau  sepanjang sekitar 108 meter untuk  mencegah terjadinya alih fungsi dan  okupasi lahan di kawasan tepi danau. Pada tahun 2020, pekerjaan  revitalisasi dilanjutkan dengan pembangunan tanggul sepanjang 280 meter  dan dilanjutkan pada TA 2021.

Ketujuh Danau Poso di Sulawesi Tengah dengan volume tampung 71.812  juta m3 dan luas 37.890 hektar. Persoalan penting pada Danau Poso  diantaranya pencemaran akibat limbah cair, pendangkalan sungai dan  terganggunya jalur migrasi ikan sidat. Pada TA 2021 dilakukan penetapan  batas badan dan sempadan Danau Poso.

Terakhir Danau Sentani di Papua dengan membangun bangunan pengendali  sedimen. Persoalan utama pada Danau yang memiliki volume tampung 4.821  juta m3 dan luas 9.360 hektar ini adalah tingginya erosi dan peningkatan  lahan kritis di Daerah Aliran Sungai Sentani. Pembangunan bangunan  pendendali banjir dilanjutkan pada TA 2021.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sejak tahun 2016 secara bertahap telah melaksanakan kegiatan revitalisasi 15 danau kritis. Di mana yang menjadi prioritas nasional untuk ditangani berdasarkan Konferensi Nasional Danau Indonesia (KNDI) di Denpasar, Bali pada 13 Agustus 2009 silam.

Revitalisasi danau bertujuan untuk mengembalikan fungsi alami danau sebagai tampungan air melalui pengerukan sedimen, pembersihan gulma air/eceng gondok, pembuatan tanggul, termasuk penataan di kawasan daerah aliran sungai.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kisah Misteri Danau Penuh Kerangka Manusia
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, dalam penyelamatan danau kritis di Indonesia ditempuh melalui kegiatan struktural dan non struktural. Keduanya membutuhkan sinergi antara Pemerintah Pusat dan Daerah, akademisi, komunitas, dan masyarakat.

&quot;Pada TA 2020, penanganan dilanjutkan  Kementerian PUPR dengan merevitalisasi 8 danau kritis terdiri dari 6 Danau Super Prioritas yakni  Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Maninjau di Sumatera Barat, Danau Rawa Pening di Jawa Tengah, Danau Tondano di Sulawesi Utara, Danau Limboto di Gorontalo, dan Danau Tempe di Sulawesi Selatan. Sedangkan 2 Danau Prioritas yakni Danau Poso di Sulawesi Tengah dan Danau Sentani di Papua,&quot; kata Basuki di Jakarta, Kamis (11/3/2021)
 
&amp;nbsp;Baca juga: Bahaya! Danau di Afrika Berisiko Meledak
Pertama, Danau Toba di Sumatera Utara pada TA 2020 telah dilakukan Preparation of Water Resources Strategic Implementation Plan for Priority Lake - West Region. Kemudian pelebaran Alur Tano Ponggol di Kabupaten Samosir dan dilanjutkan pada TA 2021.

Tano Ponggol merupakan satu-satunya akses darat untuk menuju Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba. Desain jembatan tersebut akan mengadposi kearifan lokal adat Batak dengan perkiraan ketinggian ideal jembatan sekitar 8-9 meter dari permukaan danau. Danau Toba memiliki volume tampung 256.200 juta m3 dan luas area 112.400 hektar.Kedua Danau Maninjau di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat juga  dilakukan Preparation of Water Resources Strategic Implementation Plan  for Priority Lake - West Region. Danau ini memiliki volume tampung 10,33  miliar m3 dan luas 9.996 hektar. Ketiga Danau Rawa Pening di Jawa  Tengah dengan volume tampung 48,15 juta m3 dan luas 1.850 hektar.  Pekerjaan revitalisasi Danau Rawa Pening dilanjutkan pada TA 2021.

Penanganan keempat dilakukan pada Danau Tempe di Sulawesi Selatan  yang telah dikerjakan sejak 2018. Permasalahan pada danau ini antara  lain peningkatan sedimentasi,alih fungsi lahan yang tidak terkendali dan  berkurangnya fungsi danau sebagai sarana redaman banjir. Danau Tempe  memiliki volume tampung 207,66 juta m3 dan luas 16.250 hektar.

Selanjutnya penanganan kelima Danau Limboto di Gorontalo yang  memiliki volume tampung 75 juta m3 dan luas 3.000 hektar. Permasalahan  pada Danau Limboto adalah pendangkalan dan penyusutan luas perairan  danau serta pertumbuhan eceng gondok yang cepat, okupasi lahan danau,  dan terjadinya banjir tahunan pada musim hujan. Penanganan Danau Limboto  juga dilanjutkan pada TA 2021.

Keenam Danau Tondano di Sulawesi Utara yang memiliki volume tampung  668,57 juta m3 dan luas 4.616 hektar. Sebelumnya Kementerian PUPR telah  menyelesaikan revitalisasi Sungai Tondano yang mengalir ke badan air  Danau Tondano pada 2016-2018. Pada tahun 2019 pelaksanaan revitalisasi  dianjutkan diantaranya membangun  tanggul pembatas badan air danau  sepanjang sekitar 108 meter untuk  mencegah terjadinya alih fungsi dan  okupasi lahan di kawasan tepi danau. Pada tahun 2020, pekerjaan  revitalisasi dilanjutkan dengan pembangunan tanggul sepanjang 280 meter  dan dilanjutkan pada TA 2021.

Ketujuh Danau Poso di Sulawesi Tengah dengan volume tampung 71.812  juta m3 dan luas 37.890 hektar. Persoalan penting pada Danau Poso  diantaranya pencemaran akibat limbah cair, pendangkalan sungai dan  terganggunya jalur migrasi ikan sidat. Pada TA 2021 dilakukan penetapan  batas badan dan sempadan Danau Poso.

Terakhir Danau Sentani di Papua dengan membangun bangunan pengendali  sedimen. Persoalan utama pada Danau yang memiliki volume tampung 4.821  juta m3 dan luas 9.360 hektar ini adalah tingginya erosi dan peningkatan  lahan kritis di Daerah Aliran Sungai Sentani. Pembangunan bangunan  pendendali banjir dilanjutkan pada TA 2021.</content:encoded></item></channel></rss>
