<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Neraca Perdagangan Februari Diprediksi Surplus USD2,62 Miliar</title><description>Neraca dagang pada bulan Februari  diperkirakan mengalami kenaikan surplus menjadi USD2,62 miliar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/15/320/2377759/neraca-perdagangan-februari-diprediksi-surplus-usd2-62-miliar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/15/320/2377759/neraca-perdagangan-februari-diprediksi-surplus-usd2-62-miliar"/><item><title>Neraca Perdagangan Februari Diprediksi Surplus USD2,62 Miliar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/15/320/2377759/neraca-perdagangan-februari-diprediksi-surplus-usd2-62-miliar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/15/320/2377759/neraca-perdagangan-februari-diprediksi-surplus-usd2-62-miliar</guid><pubDate>Senin 15 Maret 2021 07:21 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/15/320/2377759/neraca-perdagangan-februari-diprediksi-surplus-usd2-62-miliar-Cb13LIVRra.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ekspor-Impor Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/15/320/2377759/neraca-perdagangan-februari-diprediksi-surplus-usd2-62-miliar-Cb13LIVRra.jpeg</image><title>Ekspor-Impor Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Neraca perdagangan pada bulan Februari  diperkirakan mengalami kenaikan surplus menjadi USD2,62 miliar. Lebih baik dari bulan sebelumnya yang sebesar USD1,96 miliar.
Ekonom Josua Pardede mengatakan pelebaran neraca dagang pada Februari 2021  diperkirakan cenderung akibat penurunan pertumbuhan impor secara bulanan.
Baca Juga: Tanpa Sawit, Neraca Perdagangan Indonesia Bisa Defisit
 
&quot;Meskipun demikian, karena pengaruh rendahnya kinerja impor pada bulan Februari 20 lalu, laju pertumbuhan tahunan dari impor diperkirakan tercatat positif sebesar 9,97% (year on year/yoy),&quot; kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Senin (15/3/2021).
Baca Juga: 6 Fakta Surplus Neraca Perdagangan 2020, Tertinggi dalam Sejak 2011
 
Kata dia, penurunan impor secara bulanan disebabkan oleh menurunnya aktivitas manufaktur Indonesia, terindikasi dari penurunan PMI Indonesia menjadi sebesar 50,9 dari sebelumnya sebesar 52,2.
Sementara itu, dari sisi ekspor, diperkirakan secara bulanan pun, ekspor akan mengalami penurunan, meskipun secara tahunan akan tercatat bertumbuh sebesar 9,97% yoy, melambat bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang bertumbuh sebesar 12,24% yoy.&quot;Perlambatan dari sisi ekspor disebabkan oleh penurunan permintaan  dari negara-negara mitra dagang Indonesia, seperti India, Tiongkok,  serta AS, terlihat dari menurunnya PMI Manufacturing dari negara-negara  tersebut,&quot; katanya.
Namun demikian, penurunan ekspor diprediksi tidak terlalu dalam,  sejalan dengan masih bertumbuhnya harga komoditas utama unggulan  Indonesia, seperti CPO.
</description><content:encoded>JAKARTA - Neraca perdagangan pada bulan Februari  diperkirakan mengalami kenaikan surplus menjadi USD2,62 miliar. Lebih baik dari bulan sebelumnya yang sebesar USD1,96 miliar.
Ekonom Josua Pardede mengatakan pelebaran neraca dagang pada Februari 2021  diperkirakan cenderung akibat penurunan pertumbuhan impor secara bulanan.
Baca Juga: Tanpa Sawit, Neraca Perdagangan Indonesia Bisa Defisit
 
&quot;Meskipun demikian, karena pengaruh rendahnya kinerja impor pada bulan Februari 20 lalu, laju pertumbuhan tahunan dari impor diperkirakan tercatat positif sebesar 9,97% (year on year/yoy),&quot; kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Senin (15/3/2021).
Baca Juga: 6 Fakta Surplus Neraca Perdagangan 2020, Tertinggi dalam Sejak 2011
 
Kata dia, penurunan impor secara bulanan disebabkan oleh menurunnya aktivitas manufaktur Indonesia, terindikasi dari penurunan PMI Indonesia menjadi sebesar 50,9 dari sebelumnya sebesar 52,2.
Sementara itu, dari sisi ekspor, diperkirakan secara bulanan pun, ekspor akan mengalami penurunan, meskipun secara tahunan akan tercatat bertumbuh sebesar 9,97% yoy, melambat bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang bertumbuh sebesar 12,24% yoy.&quot;Perlambatan dari sisi ekspor disebabkan oleh penurunan permintaan  dari negara-negara mitra dagang Indonesia, seperti India, Tiongkok,  serta AS, terlihat dari menurunnya PMI Manufacturing dari negara-negara  tersebut,&quot; katanya.
Namun demikian, penurunan ekspor diprediksi tidak terlalu dalam,  sejalan dengan masih bertumbuhnya harga komoditas utama unggulan  Indonesia, seperti CPO.
</content:encoded></item></channel></rss>
