<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perjuangan Bisnis Keripik &quot;Kepompong&quot; Bertahan di Tengah Pandemi</title><description>Produk UMKM keripik kepompong dari bahan  baku ketela tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/16/455/2378810/perjuangan-bisnis-keripik-kepompong-bertahan-di-tengah-pandemi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/16/455/2378810/perjuangan-bisnis-keripik-kepompong-bertahan-di-tengah-pandemi"/><item><title>Perjuangan Bisnis Keripik &quot;Kepompong&quot; Bertahan di Tengah Pandemi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/16/455/2378810/perjuangan-bisnis-keripik-kepompong-bertahan-di-tengah-pandemi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/16/455/2378810/perjuangan-bisnis-keripik-kepompong-bertahan-di-tengah-pandemi</guid><pubDate>Selasa 16 Maret 2021 20:17 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/16/455/2378810/perjuangan-bisnis-keripik-kepompong-bertahan-di-tengah-pandemi-NajVepjAoR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keripik Singkong (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/16/455/2378810/perjuangan-bisnis-keripik-kepompong-bertahan-di-tengah-pandemi-NajVepjAoR.jpg</image><title>Keripik Singkong (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) keripik kepompong dari bahan baku ketela di Desa Kemiriombo, Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19.
Pemilik usaha keripik kepompong &quot;Dadi Waras&quot; Triamaningsih (54) di Temanggung, Selasa, mengatakan meskipun pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan produk, usahanya masih tetap bisa berjalan. Cemilan dengan rasa gurih ini dijual dengan harga Rp18.000 per kilogram.
Baca Juga: Suntikan Dana Seret, UMKM Tertatih-tatih Bangkit dari Keterpurukan
 
Dia menyebutkan, sebelum pandemi pihaknya bisa menghabiskan bahan baku singkong sampai empat kuintal per hari, sekarang hanya bisa menghabiskan bahan baku dua hingga tiga kuintal per hari.
&quot;Produksi keripik berkurang, karena permintaan juga turun dengan adanya pandemi ini, tetapi alhamdulillah masih bisa berproduksi,&quot; katanya dilansir dari Antara, Selasa (16/3/2021).
Baca Juga: Ada Rumah BUMN, UMKM Bisa Naik Kelas dan Juara
 
Karena produksi turun maka tenaga kerja juga dikurangi, kalau semula setiap hari mempekerjakan 12-14 orang, saat ini hanya enam orang per hari. &quot;Para pedagang datang ke tempat kami. Kalau sebelum pandemi, banyak pedagang menitip uang sebelum barang diambil, tetapi sekarang kami harus bersabar untuk menunggu pembayaran,&quot; katanya.
Menurut dia untuk mendapatkan bahan baku tidak pernah ada kendala, selain dari Temanggung, pihaknya juga mendatangkan singkong dari Wonosobo.
&quot;Meskipun harga singkong di pasar saat ini cenderung rendah, sekitar  Rp1.000 sampai Rp1.200 per kilogram, tetapi kami tetap membeli dengan  harga Rp1.500 hingga Rp2.000 per kilogram agar petani tetap semangat  menanam singkong,&quot; katanya.
Dia menuturkan produknya dinamakan keripik kepompong karena bentuknya menggelembung seperti kepompong.
&quot;Awalnya kami hanya coba-coba untuk membuat keripik kepompong ini.  Kami melakukan uji coba berkali-kali agar keripik bisa menggelembung  seperti yang kami harapkan. Keripik kepompong produk kami ini sekarang  sudah memiliki hak paten,&quot; katanya.
Proses pembuatan keripik kepompong, yakni singkong dikupas, dicuci,  dikukus, digiling, dijemur dalam bentuk lembaran, setelah kering  dipotong dan digoreng. Bumbu dasar keripik ini berupa garam dan bawang,  setelah digoreng diberi penyedap. Dia mengaku memproduksi keripik dengan  bahan baku singkong karena di daerahnya banyak menghasilkan singkong  yang semula tidak laku.</description><content:encoded>JAKARTA - Produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) keripik kepompong dari bahan baku ketela di Desa Kemiriombo, Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19.
Pemilik usaha keripik kepompong &quot;Dadi Waras&quot; Triamaningsih (54) di Temanggung, Selasa, mengatakan meskipun pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan produk, usahanya masih tetap bisa berjalan. Cemilan dengan rasa gurih ini dijual dengan harga Rp18.000 per kilogram.
Baca Juga: Suntikan Dana Seret, UMKM Tertatih-tatih Bangkit dari Keterpurukan
 
Dia menyebutkan, sebelum pandemi pihaknya bisa menghabiskan bahan baku singkong sampai empat kuintal per hari, sekarang hanya bisa menghabiskan bahan baku dua hingga tiga kuintal per hari.
&quot;Produksi keripik berkurang, karena permintaan juga turun dengan adanya pandemi ini, tetapi alhamdulillah masih bisa berproduksi,&quot; katanya dilansir dari Antara, Selasa (16/3/2021).
Baca Juga: Ada Rumah BUMN, UMKM Bisa Naik Kelas dan Juara
 
Karena produksi turun maka tenaga kerja juga dikurangi, kalau semula setiap hari mempekerjakan 12-14 orang, saat ini hanya enam orang per hari. &quot;Para pedagang datang ke tempat kami. Kalau sebelum pandemi, banyak pedagang menitip uang sebelum barang diambil, tetapi sekarang kami harus bersabar untuk menunggu pembayaran,&quot; katanya.
Menurut dia untuk mendapatkan bahan baku tidak pernah ada kendala, selain dari Temanggung, pihaknya juga mendatangkan singkong dari Wonosobo.
&quot;Meskipun harga singkong di pasar saat ini cenderung rendah, sekitar  Rp1.000 sampai Rp1.200 per kilogram, tetapi kami tetap membeli dengan  harga Rp1.500 hingga Rp2.000 per kilogram agar petani tetap semangat  menanam singkong,&quot; katanya.
Dia menuturkan produknya dinamakan keripik kepompong karena bentuknya menggelembung seperti kepompong.
&quot;Awalnya kami hanya coba-coba untuk membuat keripik kepompong ini.  Kami melakukan uji coba berkali-kali agar keripik bisa menggelembung  seperti yang kami harapkan. Keripik kepompong produk kami ini sekarang  sudah memiliki hak paten,&quot; katanya.
Proses pembuatan keripik kepompong, yakni singkong dikupas, dicuci,  dikukus, digiling, dijemur dalam bentuk lembaran, setelah kering  dipotong dan digoreng. Bumbu dasar keripik ini berupa garam dan bawang,  setelah digoreng diberi penyedap. Dia mengaku memproduksi keripik dengan  bahan baku singkong karena di daerahnya banyak menghasilkan singkong  yang semula tidak laku.</content:encoded></item></channel></rss>
