<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PUPR Butuh Banyak Tenaga Kerja Konstruksi Bersertifikat, Ini Rinciannya</title><description>Kebutuhan tenaga kerja konstruksi untuk pembangunan infrastruktur sangat besar setiap tahunya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/17/320/2379480/pupr-butuh-banyak-tenaga-kerja-konstruksi-bersertifikat-ini-rinciannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/17/320/2379480/pupr-butuh-banyak-tenaga-kerja-konstruksi-bersertifikat-ini-rinciannya"/><item><title>PUPR Butuh Banyak Tenaga Kerja Konstruksi Bersertifikat, Ini Rinciannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/17/320/2379480/pupr-butuh-banyak-tenaga-kerja-konstruksi-bersertifikat-ini-rinciannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/17/320/2379480/pupr-butuh-banyak-tenaga-kerja-konstruksi-bersertifikat-ini-rinciannya</guid><pubDate>Rabu 17 Maret 2021 19:37 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/17/320/2379480/pupr-butuh-banyak-tenaga-kerja-konstruksi-bersertifikat-ini-rinciannya-HC4O6O91mJ.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Infrastruktur (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/17/320/2379480/pupr-butuh-banyak-tenaga-kerja-konstruksi-bersertifikat-ini-rinciannya-HC4O6O91mJ.jpeg</image><title>Infrastruktur (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kebutuhan tenaga kerja konstruksi untuk pembangunan infrastruktur sangat besar setiap tahunya. Diperkirakan ada sekitar 1,5 juta tenaga kerja konstruksi yang dibutuhkan setiap tahunnya untuk membantu program pembangunan infrastruktur.
Namun, yang menjadi permasalahan pemerintah juga adalah masih ada jarak yang cukup besar antara tenaga kerja konstruksi yang tersedia dengan yang sudah memiliki sertifikat. Karena masih cukup banyak tenaga kerja konstruksi yang belum memiliki sertifikat.
Baca Juga: Kementerian PUPR Butuh 1,5 Juta Tenaga Kerja Konstruksi Setiap Tahunnya, Siapa Minat?
 
&quot;Di sini bisa kita lihat bahwa kebutuhan tenaga ahli konstruksi yang memenuhi sesuai dengan klasifikasi di lapangan gapnya masih sangat besar,&quot; ujar Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Bina Konstruksi Kementerian PUPR Dewi Chomistriana dalam acara Webinar 'Memastikan Efektivitas SiPetruk Dalam Penyediaan Rumah Rakyat Berkualitas' Forwapera, Rabu (17/3/2021).
Dewi pun memaparkan kebutuhan dan jumlah tenaga kerja konstruksi yang memiliki sertifikat pada masing-masing klasifikasi. Seperti misalnya adalah tenaga kerja konstruksi khusus arsitektur, sipil, mekanikal dan elektrikal hingga manajemen pelaksanaan.
Baca Juga: Demi Ibu Kota Baru, SDM Konstruksi RI Belajar dari Korea
 
&quot;Ini GAP yang sangat besar. Ini data yang kita peroleh ini kami bisa mengumpulkan data untuk klasifikasi Arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, tata lingkungan dan manajemen pelaksanaan kalau kita lihat ketersediaannya ini gapnya masih sangat tinggi sekali,&quot; kata Dewi.
Sebagai salah satunya adalah tenaga kerja konstruksi dengan klasifikasi sipil yang membutuhkan 121.734 orang. Sedangkan jumlah yang tersedia hanya 106.400 orang yang artinya masih ada selisih sekitar 15.254 tenaga kerja.
Sementara untuk arsitektur membutuhkan sekitar 1.302 tenaga kerja konstruksi bersertifikat, sedangkan tenaga yang tersedia mencapai 16.014. Kemudian untuk Mekanikal kebutuhannya adalah 1.654 tenaga kerja dengan tenaga yang tersedia mencapai 9.167
Lalu untuk tata lingkungan kebutuhannya mencapai 10.626 orang namun  tenaga kerja yang tersedia hanya 7.111 orang saja. Artinya masih ada gap  yang mencapai 3.515.
Sedangkan elektrikal dan manajemen pelaksana masih belum diketahui  jumlah kebutuhan tenaga kerjanya. Namun, tenaga kerja yang tersedia  masing-masing 14.283 dan 42.407 orang.
&quot;Sebagai contohnya Sipil ketersediaannya sekitar 106 ribu  kebutuhannya 12 ribu jadi kita masih punya gap 15 ribu. Dan sebetulnya  kalau kita lihat disini ada data kebutuhan yang belum bisa kita  kumpulkan juga berapa kuantitas yang diperlukan di lapangan,&quot; kata Dewi.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ada beberapa langkah yang  disiapkan pemerintah. Dari sisi kuantitas dengan melakukan kerjasama  dengan berbagai perguruan tinggi pada level tingkatan. Kerjasama yang  dimaksud ini bahkan sudah mencakup yang sifatnya spesialis hingga  superspesialis.
&quot;Ini tidak lain bagaimana upaya kita untuk menambah tenaga kerja  konstruksi yang nantinya akan bekerja di lapangan. Dan diharapkan sesuai  dengan kebutuhan di lapangan,&quot; kata Dewi.
Selanjutnya, Kementerian PUPR juga melakukan kolaborasi dengan Badan  Usaha Jasa Konstruksi (BUJK) nasional maupun asing. Langkah ini  dilakukan untuk menjadikan beberapa paket kegiatan yang sekarang  berlangsung yang dikerjakan BUJK nasional maupun asing ini sebagai  training ground bagi tenaga kerja konstruksi.
&quot;Jadi kita memberikan kesempatan untuk magang kepada tenaga kerja  konstruksi kita pada proyek-proyek yang sedang berjalan. Ke depan kita  melakukan magang pada proyek-oryek pembangunan perumahan,&quot; kata Dewi.
Kemudian uga kita melakukan percepatan sertifikasi tenaga kerja  konstruksi. Salah satunya adalah dengan memperluas, mempercepat  dan  memodernisasi layanan sertifikasi.</description><content:encoded>JAKARTA - Kebutuhan tenaga kerja konstruksi untuk pembangunan infrastruktur sangat besar setiap tahunya. Diperkirakan ada sekitar 1,5 juta tenaga kerja konstruksi yang dibutuhkan setiap tahunnya untuk membantu program pembangunan infrastruktur.
Namun, yang menjadi permasalahan pemerintah juga adalah masih ada jarak yang cukup besar antara tenaga kerja konstruksi yang tersedia dengan yang sudah memiliki sertifikat. Karena masih cukup banyak tenaga kerja konstruksi yang belum memiliki sertifikat.
Baca Juga: Kementerian PUPR Butuh 1,5 Juta Tenaga Kerja Konstruksi Setiap Tahunnya, Siapa Minat?
 
&quot;Di sini bisa kita lihat bahwa kebutuhan tenaga ahli konstruksi yang memenuhi sesuai dengan klasifikasi di lapangan gapnya masih sangat besar,&quot; ujar Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Bina Konstruksi Kementerian PUPR Dewi Chomistriana dalam acara Webinar 'Memastikan Efektivitas SiPetruk Dalam Penyediaan Rumah Rakyat Berkualitas' Forwapera, Rabu (17/3/2021).
Dewi pun memaparkan kebutuhan dan jumlah tenaga kerja konstruksi yang memiliki sertifikat pada masing-masing klasifikasi. Seperti misalnya adalah tenaga kerja konstruksi khusus arsitektur, sipil, mekanikal dan elektrikal hingga manajemen pelaksanaan.
Baca Juga: Demi Ibu Kota Baru, SDM Konstruksi RI Belajar dari Korea
 
&quot;Ini GAP yang sangat besar. Ini data yang kita peroleh ini kami bisa mengumpulkan data untuk klasifikasi Arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, tata lingkungan dan manajemen pelaksanaan kalau kita lihat ketersediaannya ini gapnya masih sangat tinggi sekali,&quot; kata Dewi.
Sebagai salah satunya adalah tenaga kerja konstruksi dengan klasifikasi sipil yang membutuhkan 121.734 orang. Sedangkan jumlah yang tersedia hanya 106.400 orang yang artinya masih ada selisih sekitar 15.254 tenaga kerja.
Sementara untuk arsitektur membutuhkan sekitar 1.302 tenaga kerja konstruksi bersertifikat, sedangkan tenaga yang tersedia mencapai 16.014. Kemudian untuk Mekanikal kebutuhannya adalah 1.654 tenaga kerja dengan tenaga yang tersedia mencapai 9.167
Lalu untuk tata lingkungan kebutuhannya mencapai 10.626 orang namun  tenaga kerja yang tersedia hanya 7.111 orang saja. Artinya masih ada gap  yang mencapai 3.515.
Sedangkan elektrikal dan manajemen pelaksana masih belum diketahui  jumlah kebutuhan tenaga kerjanya. Namun, tenaga kerja yang tersedia  masing-masing 14.283 dan 42.407 orang.
&quot;Sebagai contohnya Sipil ketersediaannya sekitar 106 ribu  kebutuhannya 12 ribu jadi kita masih punya gap 15 ribu. Dan sebetulnya  kalau kita lihat disini ada data kebutuhan yang belum bisa kita  kumpulkan juga berapa kuantitas yang diperlukan di lapangan,&quot; kata Dewi.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ada beberapa langkah yang  disiapkan pemerintah. Dari sisi kuantitas dengan melakukan kerjasama  dengan berbagai perguruan tinggi pada level tingkatan. Kerjasama yang  dimaksud ini bahkan sudah mencakup yang sifatnya spesialis hingga  superspesialis.
&quot;Ini tidak lain bagaimana upaya kita untuk menambah tenaga kerja  konstruksi yang nantinya akan bekerja di lapangan. Dan diharapkan sesuai  dengan kebutuhan di lapangan,&quot; kata Dewi.
Selanjutnya, Kementerian PUPR juga melakukan kolaborasi dengan Badan  Usaha Jasa Konstruksi (BUJK) nasional maupun asing. Langkah ini  dilakukan untuk menjadikan beberapa paket kegiatan yang sekarang  berlangsung yang dikerjakan BUJK nasional maupun asing ini sebagai  training ground bagi tenaga kerja konstruksi.
&quot;Jadi kita memberikan kesempatan untuk magang kepada tenaga kerja  konstruksi kita pada proyek-proyek yang sedang berjalan. Ke depan kita  melakukan magang pada proyek-oryek pembangunan perumahan,&quot; kata Dewi.
Kemudian uga kita melakukan percepatan sertifikasi tenaga kerja  konstruksi. Salah satunya adalah dengan memperluas, mempercepat  dan  memodernisasi layanan sertifikasi.</content:encoded></item></channel></rss>
