<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bank Diramal Tak Lagi Simpan Uang Tunai tapi Data, Ini Penjelasannya</title><description>Tidak lama lagi istilah bank sebagai tempat menyimpan dana, tidak lagi diartikan secara tradisional berupa uang cash.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/22/320/2381912/bank-diramal-tak-lagi-simpan-uang-tunai-tapi-data-ini-penjelasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/22/320/2381912/bank-diramal-tak-lagi-simpan-uang-tunai-tapi-data-ini-penjelasannya"/><item><title>Bank Diramal Tak Lagi Simpan Uang Tunai tapi Data, Ini Penjelasannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/22/320/2381912/bank-diramal-tak-lagi-simpan-uang-tunai-tapi-data-ini-penjelasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/22/320/2381912/bank-diramal-tak-lagi-simpan-uang-tunai-tapi-data-ini-penjelasannya</guid><pubDate>Senin 22 Maret 2021 13:26 WIB</pubDate><dc:creator>Hafid Fuad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/22/320/2381912/bank-diramal-tak-lagi-simpan-uang-tunai-tapi-data-ini-penjelasannya-aNA0UZ96Ny.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perbankan (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/22/320/2381912/bank-diramal-tak-lagi-simpan-uang-tunai-tapi-data-ini-penjelasannya-aNA0UZ96Ny.jpg</image><title>Perbankan (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Tidak lama lagi istilah bank sebagai tempat menyimpan dana, tidak lagi diartikan secara tradisional berupa uang cash. Tetapi berupa uang elektronik yang menjadi data.

Berikutnya istilah dana beralih sebagai data. Hingga suatu saat orang tidak kenal uang kertas tapi uang elektronik.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Likuiditas Perbankan Oke, Pertumbuhan Kredit Masih Minus
Pengamat Tren Telekomunikasi Moch S Hendrowijono menceritakan era dekade lalu, perbankan seingat dia masih alergi dengan sistem telekomunikasi digital untuk semua transaksi perbankan. Karena itu berarti akan meruntuhkan sistem yang selama ini dilakukan secara offline dengan tampilan gedung atau bangunan megah, karyawan berdasi, hingga antrean orang di depan teller.

&quot;Fungsi sebagai bank data sama dengan pusat data yang sekarang makin marak digunakan oleh berbagai korporasi. Data center muncul di mana-mana dan selalu bertambah dengan makin beragamnya kebutuhan, bukan hanya untuk sektor telko saja,&quot; ujar Hendrowijono saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta (221/3/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Hikmah di Balik Pandemi, Percepat Proses Digitalisasi Bank
Digitalisasi kini tidak bisa ditepis perbankan dan mau tidak mau mereka akan ke sana, cepat atau lambat. Hampir tidak ada perbedaan cara pengelolaan keuangan sebagai bank, dalam masalah data. Walau tetap saja namanya bank yang mengurusi uang,  hanya cara transaksinya lebih banyak cashless.Ke depan uang kartal atau berbentuk fisik diperkirakan makin tidak  banyak beredar. Karena orang tidak lagi membawa uang dalam dompet.

Apa yang akan terjadi, efisiensi di perbankan dengan makin  berkurangnya  SDM yang dipekerjakan, makin sedikitnya kantor cabang yang  dibangun atau dibutuhkan. &quot;Apalagi dengan bank data yang kuat dan  sistem digitalisasi yang didukung unsur telekomunikasi makin canggih,  orang bisa melakukan transfer dengan jumlah tanpa batas sementara cara  sekarang maksimal hanya beberapa puluh juta rupiah sekali transfer,&quot;  tambahnya.

Tetapi juga masih ada banyak tantangan karena secara infrastruktur  telekomunikasi tidak memadai. Selain itu perlindungan data pribadi juga  belum dijamin undang-undang. Keuangan merupakan hal yang sangat  sensitif, sehingga infrastruktur telekomunikasi tidak bisa seperti yang  sekarang.

Dia mengingatkan fungsi sebagai bank data membutuhkan  jaringan telko   yang kuat dan berkapasits besar dan aman, dan itu tidak bisa terjawab  oleh kemampuan operator telko yang masih berkutat di layanan 2G, 3G,  maupun 4G LTE.

Layanan berteknologi 5G pun tampaknya masih belum aman untuk  transaksi sensitif seperti untuk perbankan, karena generasi-generasi  telko tersebut masih saja bisa dibobol. &quot;Infrastruktur telko yang baik  tidak hanya generasi teknologinya harus yang terbaru yaitu 5G atau 6G,  namun juga jaringannya harus merata ke seluruh Nusantara,&quot; jelasnya.

Sekarang saja dari 83.218 desa di seluruh Tanah Air, ada 22.548 desa  yang belum terlayani oleh telko. &quot;Boro-boro 4G, layanan generasi pertama  saja mereka belum punya. Kendala-kendala tadi yang harus mulai  dipikirkan dan diselesaikan pemerintah sebelum bank bisa disebut  benar-benar sebagai bank data,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Tidak lama lagi istilah bank sebagai tempat menyimpan dana, tidak lagi diartikan secara tradisional berupa uang cash. Tetapi berupa uang elektronik yang menjadi data.

Berikutnya istilah dana beralih sebagai data. Hingga suatu saat orang tidak kenal uang kertas tapi uang elektronik.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Likuiditas Perbankan Oke, Pertumbuhan Kredit Masih Minus
Pengamat Tren Telekomunikasi Moch S Hendrowijono menceritakan era dekade lalu, perbankan seingat dia masih alergi dengan sistem telekomunikasi digital untuk semua transaksi perbankan. Karena itu berarti akan meruntuhkan sistem yang selama ini dilakukan secara offline dengan tampilan gedung atau bangunan megah, karyawan berdasi, hingga antrean orang di depan teller.

&quot;Fungsi sebagai bank data sama dengan pusat data yang sekarang makin marak digunakan oleh berbagai korporasi. Data center muncul di mana-mana dan selalu bertambah dengan makin beragamnya kebutuhan, bukan hanya untuk sektor telko saja,&quot; ujar Hendrowijono saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta (221/3/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Hikmah di Balik Pandemi, Percepat Proses Digitalisasi Bank
Digitalisasi kini tidak bisa ditepis perbankan dan mau tidak mau mereka akan ke sana, cepat atau lambat. Hampir tidak ada perbedaan cara pengelolaan keuangan sebagai bank, dalam masalah data. Walau tetap saja namanya bank yang mengurusi uang,  hanya cara transaksinya lebih banyak cashless.Ke depan uang kartal atau berbentuk fisik diperkirakan makin tidak  banyak beredar. Karena orang tidak lagi membawa uang dalam dompet.

Apa yang akan terjadi, efisiensi di perbankan dengan makin  berkurangnya  SDM yang dipekerjakan, makin sedikitnya kantor cabang yang  dibangun atau dibutuhkan. &quot;Apalagi dengan bank data yang kuat dan  sistem digitalisasi yang didukung unsur telekomunikasi makin canggih,  orang bisa melakukan transfer dengan jumlah tanpa batas sementara cara  sekarang maksimal hanya beberapa puluh juta rupiah sekali transfer,&quot;  tambahnya.

Tetapi juga masih ada banyak tantangan karena secara infrastruktur  telekomunikasi tidak memadai. Selain itu perlindungan data pribadi juga  belum dijamin undang-undang. Keuangan merupakan hal yang sangat  sensitif, sehingga infrastruktur telekomunikasi tidak bisa seperti yang  sekarang.

Dia mengingatkan fungsi sebagai bank data membutuhkan  jaringan telko   yang kuat dan berkapasits besar dan aman, dan itu tidak bisa terjawab  oleh kemampuan operator telko yang masih berkutat di layanan 2G, 3G,  maupun 4G LTE.

Layanan berteknologi 5G pun tampaknya masih belum aman untuk  transaksi sensitif seperti untuk perbankan, karena generasi-generasi  telko tersebut masih saja bisa dibobol. &quot;Infrastruktur telko yang baik  tidak hanya generasi teknologinya harus yang terbaru yaitu 5G atau 6G,  namun juga jaringannya harus merata ke seluruh Nusantara,&quot; jelasnya.

Sekarang saja dari 83.218 desa di seluruh Tanah Air, ada 22.548 desa  yang belum terlayani oleh telko. &quot;Boro-boro 4G, layanan generasi pertama  saja mereka belum punya. Kendala-kendala tadi yang harus mulai  dipikirkan dan diselesaikan pemerintah sebelum bank bisa disebut  benar-benar sebagai bank data,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
