<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Sebut Pelaku Fintech Monopoli atau Oligopoli   </title><description>Perkembangan layanan financial technology (fintech) di Indonesia tidak dapat dipungkiri kecepatannya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/23/320/2382677/sri-mulyani-sebut-pelaku-fintech-monopoli-atau-oligopoli</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/23/320/2382677/sri-mulyani-sebut-pelaku-fintech-monopoli-atau-oligopoli"/><item><title>Sri Mulyani Sebut Pelaku Fintech Monopoli atau Oligopoli   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/23/320/2382677/sri-mulyani-sebut-pelaku-fintech-monopoli-atau-oligopoli</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/23/320/2382677/sri-mulyani-sebut-pelaku-fintech-monopoli-atau-oligopoli</guid><pubDate>Selasa 23 Maret 2021 14:41 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/23/320/2382677/sri-mulyani-sebut-pelaku-fintech-monopoli-atau-oligopoli-BDJU4WG4R7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani (Foto: Dok Kemenkeu)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/23/320/2382677/sri-mulyani-sebut-pelaku-fintech-monopoli-atau-oligopoli-BDJU4WG4R7.jpg</image><title>Sri Mulyani (Foto: Dok Kemenkeu)</title></images><description>JAKARTA - Perkembangan layanan financial technology (fintech) di Indonesia tidak dapat dipungkiri kecepatannya, terutama fintech peer-to-peer (P2P) lending yang bisa memberikan akses pinjaman online (pinjol) yang kini menjadi alternatif masyarakat yang tak tersentuh akses bank.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa saat ini teknologi memang berkompetisi untuk menciptakan pasar terbuka yang luar biasa sulit.

&quot;Kalau kita lihat pelaku fintech monopoli atau oligopoli. Contohnya dunia hanya punya satu Google, kompetitornya tidak muncul-muncul. Lalu saat Facebook mengumumkan bisa mengambil data di Whatsapp, orang berbondong-bondong pindah ke Telegram, ada kompetitornya,&quot; kata Sri Mulyani dalam video virtual di Jakarta, Selasa (23/3/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;Sri Mulyani Kesal Terima SMS Ditawari Dana Cepat Rp5 Juta, BPKB Jadi Jaminan&amp;nbsp;
Sri Mulyani mengakui bahwa memang sulit untuk menciptakan pasar yang kompetitif. &quot;It's gonna be hard. Sekarang ada Grab dan Gojek, Tokopedia, Shopee dan Bukalapak,&quot; katanya.

Situasi ini menyiratkan bahwa kompetisi pasar dipegang oleh perusahaan-perusahaan besar. Contohnya saja aksi perusahaan Facebook yang selalu berusaha menyingkirkan para kompetitornya dengan membeli perusahaan tersebut karena memang Facebook ingin menguasai pasar.

&quot;Jadi kalau si Zuckerberg lihat ada perusahaan bagus langsung dibeli, kalau ada orang jenius seperti mereka baru pertama kali IPO biasanya membutuhkan angel investor ya mereka langsung 'makan' saja,&quot; tambahnya.

Menurut Sri Mulyani, yang terpenting, platform digital ini harus bisa menciptakan inklusi keuangan dan meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait sektor keuangan.
</description><content:encoded>JAKARTA - Perkembangan layanan financial technology (fintech) di Indonesia tidak dapat dipungkiri kecepatannya, terutama fintech peer-to-peer (P2P) lending yang bisa memberikan akses pinjaman online (pinjol) yang kini menjadi alternatif masyarakat yang tak tersentuh akses bank.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa saat ini teknologi memang berkompetisi untuk menciptakan pasar terbuka yang luar biasa sulit.

&quot;Kalau kita lihat pelaku fintech monopoli atau oligopoli. Contohnya dunia hanya punya satu Google, kompetitornya tidak muncul-muncul. Lalu saat Facebook mengumumkan bisa mengambil data di Whatsapp, orang berbondong-bondong pindah ke Telegram, ada kompetitornya,&quot; kata Sri Mulyani dalam video virtual di Jakarta, Selasa (23/3/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;Sri Mulyani Kesal Terima SMS Ditawari Dana Cepat Rp5 Juta, BPKB Jadi Jaminan&amp;nbsp;
Sri Mulyani mengakui bahwa memang sulit untuk menciptakan pasar yang kompetitif. &quot;It's gonna be hard. Sekarang ada Grab dan Gojek, Tokopedia, Shopee dan Bukalapak,&quot; katanya.

Situasi ini menyiratkan bahwa kompetisi pasar dipegang oleh perusahaan-perusahaan besar. Contohnya saja aksi perusahaan Facebook yang selalu berusaha menyingkirkan para kompetitornya dengan membeli perusahaan tersebut karena memang Facebook ingin menguasai pasar.

&quot;Jadi kalau si Zuckerberg lihat ada perusahaan bagus langsung dibeli, kalau ada orang jenius seperti mereka baru pertama kali IPO biasanya membutuhkan angel investor ya mereka langsung 'makan' saja,&quot; tambahnya.

Menurut Sri Mulyani, yang terpenting, platform digital ini harus bisa menciptakan inklusi keuangan dan meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait sektor keuangan.
</content:encoded></item></channel></rss>
