<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dolar Perkasa di Tengah Merosotnya Imbal Hasil Obligasi AS</title><description>Dolar AS melonjak terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/24/320/2383028/dolar-perkasa-di-tengah-merosotnya-imbal-hasil-obligasi-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/24/320/2383028/dolar-perkasa-di-tengah-merosotnya-imbal-hasil-obligasi-as"/><item><title>Dolar Perkasa di Tengah Merosotnya Imbal Hasil Obligasi AS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/24/320/2383028/dolar-perkasa-di-tengah-merosotnya-imbal-hasil-obligasi-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/24/320/2383028/dolar-perkasa-di-tengah-merosotnya-imbal-hasil-obligasi-as</guid><pubDate>Rabu 24 Maret 2021 07:51 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/24/320/2383028/dolar-perkasa-di-tengah-merosotnya-imbal-hasil-obligasi-as-ml5e06BpQ3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dolar (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/24/320/2383028/dolar-perkasa-di-tengah-merosotnya-imbal-hasil-obligasi-as-ml5e06BpQ3.jpg</image><title>Dolar (Reuters)</title></images><description>NEW YORK - Dolar AS melonjak terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), melampaui level tertinggi dua minggu. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS merosot karena Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell mengatakan kepada Kongres bahwa inflasi tidak akan lepas kendali.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya terakhir menguat 0,65 persen pada 91,8, berbalik arah dari pergerakan Senin (22/3/2021) ketika turun tetapi melayang di bawah tertinggi empat bulan, karena investor mencari tempat berlindung yang aman (safe haven) pada dolar AS.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dolar Berjaya Terhadap Sekeranjang Mata Uang Lainnya
Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun juga turun lagi, menjadi 1,624 persen. Pada Selasa pagi (23/3/2021), surat utang negara menarik permintaan yang kuat untuk yang bertenor dua tahun, dengan investor menunggu lelang obligasi pemerintah untuk yang bertenor lebih lama pada pekan ini.

&amp;ldquo;Ini lebih tentang fundamental,&amp;rdquo; kata Juan Perez, pedagang mata uang dan ahli strategi di Tempus Inc. &amp;ldquo;(Kami) memiliki banyak data untuk dicerna mulai besok.&amp;rdquo;
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dolar Menguat karena Ekonomi AS Semakin Cerah
Perez mengatakan kenaikan dolar pada Selasa (23/3/2021) menunjukkan &quot;pada akhirnya kami tidak keluar dari hal ini,&quot; mengacu pada pandemi COVID-19.Indeks dolar telah naik sekitar 2,4 persen sejauh tahun ini karena  investor melihat peluncuran vaksin COVID-19 yang relatif cepat dan  pengeluaran stimulus di Amerika Serikat sebagai pendorong pertumbuhan  ekonomi.

Tetapi ada nada waspada di pasar global, dengan sebagian besar saham AS jatuh pada Selasa (23/3/2021).

Berkontribusi pada kehati-hatian pasar adalah gelombang ketiga  pandemi COVID-19 di Eropa. Jerman memperpanjang pengunciannya dan  mendesak warganya untuk tinggal di rumah selama liburan Paskah.

Euro merosot 0,71 persen terhadap dolar menjadi 1,1847 dolar AS.

Dolar Selandia Baru jatuh karena langkah-langkah baru untuk  mendinginkan pasar perumahan, turun ke level terendah tiga bulan  terhadap dolar AS. Mata uang Kiwi anjlok sekitar 2,27 persen hari itu di  0,70 dolar AS.

Penurunan tersebut dipicu oleh pemerintah Selandia Baru yang  memperkenalkan langkah-langkah untuk mengekang spekulasi di pasar  perumahan yang sedang panas, di mana harga rumah telah melambung 23  persen dalam 12 bulan. Dolar Australia - yang dianggap sebagai proksi  likuid untuk risiko - juga terpukul dan jatuh 1,54 persen pada 0,763  terhadap dolar AS.

Lira Turki agak stabil, setelah jatuh 7,5 persen pada Senin  (22/3/2021) setelah Presiden Tayyip Erdogan memecat kepala bank sentral  yang hawkish. Lira naik sekitar 1,79 persen terhadap dolar AS.</description><content:encoded>NEW YORK - Dolar AS melonjak terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), melampaui level tertinggi dua minggu. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS merosot karena Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell mengatakan kepada Kongres bahwa inflasi tidak akan lepas kendali.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya terakhir menguat 0,65 persen pada 91,8, berbalik arah dari pergerakan Senin (22/3/2021) ketika turun tetapi melayang di bawah tertinggi empat bulan, karena investor mencari tempat berlindung yang aman (safe haven) pada dolar AS.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dolar Berjaya Terhadap Sekeranjang Mata Uang Lainnya
Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun juga turun lagi, menjadi 1,624 persen. Pada Selasa pagi (23/3/2021), surat utang negara menarik permintaan yang kuat untuk yang bertenor dua tahun, dengan investor menunggu lelang obligasi pemerintah untuk yang bertenor lebih lama pada pekan ini.

&amp;ldquo;Ini lebih tentang fundamental,&amp;rdquo; kata Juan Perez, pedagang mata uang dan ahli strategi di Tempus Inc. &amp;ldquo;(Kami) memiliki banyak data untuk dicerna mulai besok.&amp;rdquo;
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dolar Menguat karena Ekonomi AS Semakin Cerah
Perez mengatakan kenaikan dolar pada Selasa (23/3/2021) menunjukkan &quot;pada akhirnya kami tidak keluar dari hal ini,&quot; mengacu pada pandemi COVID-19.Indeks dolar telah naik sekitar 2,4 persen sejauh tahun ini karena  investor melihat peluncuran vaksin COVID-19 yang relatif cepat dan  pengeluaran stimulus di Amerika Serikat sebagai pendorong pertumbuhan  ekonomi.

Tetapi ada nada waspada di pasar global, dengan sebagian besar saham AS jatuh pada Selasa (23/3/2021).

Berkontribusi pada kehati-hatian pasar adalah gelombang ketiga  pandemi COVID-19 di Eropa. Jerman memperpanjang pengunciannya dan  mendesak warganya untuk tinggal di rumah selama liburan Paskah.

Euro merosot 0,71 persen terhadap dolar menjadi 1,1847 dolar AS.

Dolar Selandia Baru jatuh karena langkah-langkah baru untuk  mendinginkan pasar perumahan, turun ke level terendah tiga bulan  terhadap dolar AS. Mata uang Kiwi anjlok sekitar 2,27 persen hari itu di  0,70 dolar AS.

Penurunan tersebut dipicu oleh pemerintah Selandia Baru yang  memperkenalkan langkah-langkah untuk mengekang spekulasi di pasar  perumahan yang sedang panas, di mana harga rumah telah melambung 23  persen dalam 12 bulan. Dolar Australia - yang dianggap sebagai proksi  likuid untuk risiko - juga terpukul dan jatuh 1,54 persen pada 0,763  terhadap dolar AS.

Lira Turki agak stabil, setelah jatuh 7,5 persen pada Senin  (22/3/2021) setelah Presiden Tayyip Erdogan memecat kepala bank sentral  yang hawkish. Lira naik sekitar 1,79 persen terhadap dolar AS.</content:encoded></item></channel></rss>
