<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Banyak Pabrik Alas Kaki Tutup Akibat Pandemi Covid-19</title><description>Bahkan banyak pabrik atau perusahaan menengah hingga kecil  yang menutup tempat usahanya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/24/320/2383124/banyak-pabrik-alas-kaki-tutup-akibat-pandemi-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/24/320/2383124/banyak-pabrik-alas-kaki-tutup-akibat-pandemi-covid-19"/><item><title>Banyak Pabrik Alas Kaki Tutup Akibat Pandemi Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/24/320/2383124/banyak-pabrik-alas-kaki-tutup-akibat-pandemi-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/24/320/2383124/banyak-pabrik-alas-kaki-tutup-akibat-pandemi-covid-19</guid><pubDate>Rabu 24 Maret 2021 11:07 WIB</pubDate><dc:creator>Ferdi Rantung</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/24/320/2383124/banyak-pabrik-alas-kaki-tutup-akibat-pandemi-covid-19-3NCgclgTYr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Buruh Tekstil (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/24/320/2383124/banyak-pabrik-alas-kaki-tutup-akibat-pandemi-covid-19-3NCgclgTYr.jpg</image><title>Buruh Tekstil (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Industri alas kaki tertekan selama pandemi covid-19. Bahkan banyak pabrik atau perusahaan menengah hingga kecil  yang menutup tempat usahanya.
Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko menjelaskan di tanah air industri alas kaki terbagi 3 layer. Pada layer pertama diisi oleh pabrik merek besar yang orientasinya  100% ekspor.
Baca Juga: Kemenperin Serap Garam Lokal 1,5 Juta Ton di 2021
 
&quot;Yang 100% cuma ekspor, dalam hal ini ada merek besar seperti Nike, Adidas Dan Reebok. Untuk layer ini bisa menjaga kinerja perusahaan yang baik serta protokol kesehatan,&quot; Katanya dalam Market Review IDX channel, Rabu (24/3/2021
kemudian, lanjut Eddy, layer ke dua ada perusahaan menengah yang produksinya untuk domestik. Di kelas ini dampak pandemi sangat terasa.
Baca Juga: Daya Saing Industri Dioptimalkan untuk Bangkitkan Ekonomi Nasional
 
&quot;Layer kedua ini yang lagi susah sedang hancur-hancuran kondisinya. saya melihat produksinya hanya 20 - 30% saja,&quot;ujarnya
Dia menjelaskan, perusahaan pada layer kedua ini tidak bisa menjaga kinerja perusahaan secara maksimal. Selain itu  protokol kesehatan tidak berjalan secara maksimal.
&quot;Kemudian biaya cost lebih mahal sehingga banyak yang memilih tutup.  dan yang bertahan hanya menjaga produksinya di 30% saja,&quot; terangnya
Kondisi tersebut, juga  terjadi pada layer ketiga yakni IKM. Sekitar 70% IKM itu menutup usahanya.
&quot;PHK tidak terhindarkan dan ada yang dirumahkan juga. kondisinya memang sulit,&quot; tandasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Industri alas kaki tertekan selama pandemi covid-19. Bahkan banyak pabrik atau perusahaan menengah hingga kecil  yang menutup tempat usahanya.
Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko menjelaskan di tanah air industri alas kaki terbagi 3 layer. Pada layer pertama diisi oleh pabrik merek besar yang orientasinya  100% ekspor.
Baca Juga: Kemenperin Serap Garam Lokal 1,5 Juta Ton di 2021
 
&quot;Yang 100% cuma ekspor, dalam hal ini ada merek besar seperti Nike, Adidas Dan Reebok. Untuk layer ini bisa menjaga kinerja perusahaan yang baik serta protokol kesehatan,&quot; Katanya dalam Market Review IDX channel, Rabu (24/3/2021
kemudian, lanjut Eddy, layer ke dua ada perusahaan menengah yang produksinya untuk domestik. Di kelas ini dampak pandemi sangat terasa.
Baca Juga: Daya Saing Industri Dioptimalkan untuk Bangkitkan Ekonomi Nasional
 
&quot;Layer kedua ini yang lagi susah sedang hancur-hancuran kondisinya. saya melihat produksinya hanya 20 - 30% saja,&quot;ujarnya
Dia menjelaskan, perusahaan pada layer kedua ini tidak bisa menjaga kinerja perusahaan secara maksimal. Selain itu  protokol kesehatan tidak berjalan secara maksimal.
&quot;Kemudian biaya cost lebih mahal sehingga banyak yang memilih tutup.  dan yang bertahan hanya menjaga produksinya di 30% saja,&quot; terangnya
Kondisi tersebut, juga  terjadi pada layer ketiga yakni IKM. Sekitar 70% IKM itu menutup usahanya.
&quot;PHK tidak terhindarkan dan ada yang dirumahkan juga. kondisinya memang sulit,&quot; tandasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
