<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Problematika Bulog: Beli Gabah dan Jual Beras Nggak Bisa</title><description>Bulog tak memiliki kemampuan menyerap gabah petani, sehingga para petani menjual hasil padinya ke tengkulak.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/25/320/2383851/problematika-bulog-beli-gabah-dan-jual-beras-nggak-bisa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/25/320/2383851/problematika-bulog-beli-gabah-dan-jual-beras-nggak-bisa"/><item><title>Problematika Bulog: Beli Gabah dan Jual Beras Nggak Bisa</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/25/320/2383851/problematika-bulog-beli-gabah-dan-jual-beras-nggak-bisa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/25/320/2383851/problematika-bulog-beli-gabah-dan-jual-beras-nggak-bisa</guid><pubDate>Kamis 25 Maret 2021 13:49 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/25/320/2383851/problematika-bulog-beli-gabah-dan-jual-beras-nggak-bisa-KhqNdu8LtL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Beras (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/25/320/2383851/problematika-bulog-beli-gabah-dan-jual-beras-nggak-bisa-KhqNdu8LtL.jpg</image><title>Beras (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi mengutarakan Bulog tak memiliki kemampuan menyerap gabah petani, sehingga para petani menjual hasil padinya ke tengkulak. Namun, seringkali tengkulak tidak semuanya memiliki modal yang cukup.

&quot;Banyak tengkulak yang baru bisa membayar setelah penjualan, sehingga ada titik waktu banyak para petani kecil yang mengalami kekosongan keuangan, karena menunggu hasil gabahnya menjadi beras dan laku di pasar,&quot; kata Dedi, Rabu (25/3/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ombudsman Pastikan Harga Gabah Turun Bukan karena Impor Beras
Tak hanya itu, dia juga menilai Bulog tidak maksimalnya menyerap gabah petani. Di mana, daya serap Bulog itu rendah, karena sering kali membeli beras di bawah tengkulak.

Misalnya, tengkulak membeli gabah dari petani Rp4.200 per kilogram, sedangkan Bulog hanya Rp3.800 per kilogram. Hal itu karena memang Bulog memiliki kehati-hatian dalam membeli gabah.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Stok Beras Menggunung, Ombudsman Minta Impor Ditunda
Perusahaan juga ternyata tidak mampu menjual beras. Hal itu bisa dilihat dari masih banyaknya stok lama yang tak bisa keluar.

&quot;Banyak beras lama tak terpakai berarti tak bisa keluar kan, sehingga mengalami kerusakan,&quot; kata politisi Golkar ini.Bulog tak memiliki gudang dengan teknologi memadai dalam penyimpanan  beras. Akibatnya, beras yang disimpan di gudang tidak bisa bertahan lama  sehingga mudah busuk.

Selama ini, Bulog menyimpan beras hanya dengan mengandalkan memakai valet, sehingga beras tidak bisa bertahan lama.

&quot;Jadi Bulog itu seperti terperangkap. Beli (gabah) nggak bisa, jual  (beras) juga nggak bisa. Bahkan beras sisa impor yang 2018 dan 2019 pun  belum terjual. Ini yang menjadi problematika dari sisi pengelolaan,&quot;  kata Dedi.

Dedi mengatakan, dengan kondisi seperti itu, kinerja Bulog  membingungkan. Dia mengatakan tugas Bulog itu apa dan yang dikerjakan  itu apa.

&quot;Beli tak bisa, jual juga nggak bisa. Andaikan bisa beli impor,  setelah impor tak bisa jual juga. Seharusnya Bulog punya peran menyerap  gabah petani. Namun gabah petani tak bisa dibeli juga. Misalnya, dari 8  juta ton beras, yang bisa dibeli Bulog paling 30%,&quot; katanya.

Sementara itu, menanggapi pernyataan Dedi, Sekretaris Perusahaan  Bulog, Awaludin Iqbal menyebut, saat ini pihaknya tengah fokus terhadap  penyerapan gabah beras petani. Bahkan, hingga saat ini penyerapan sudah  mencapai 158.000 ton.

&quot;Saat ini kami semua sedang fokus kepada penyerapan gabah beras  petani, dan sampai saat ini realisasinya sudah mencapai 158.000 ton,&quot;  ujar Awaludin saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Kamis (25/3/2021).

Terkait skema penyerapannya, Bulog tetap mengikuti ketentuan atau  prosedur penyerapan gabah sesuai yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri  Perdagangan (Permendag) Nomor 24 Tahun 2020.</description><content:encoded>JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi mengutarakan Bulog tak memiliki kemampuan menyerap gabah petani, sehingga para petani menjual hasil padinya ke tengkulak. Namun, seringkali tengkulak tidak semuanya memiliki modal yang cukup.

&quot;Banyak tengkulak yang baru bisa membayar setelah penjualan, sehingga ada titik waktu banyak para petani kecil yang mengalami kekosongan keuangan, karena menunggu hasil gabahnya menjadi beras dan laku di pasar,&quot; kata Dedi, Rabu (25/3/2021).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ombudsman Pastikan Harga Gabah Turun Bukan karena Impor Beras
Tak hanya itu, dia juga menilai Bulog tidak maksimalnya menyerap gabah petani. Di mana, daya serap Bulog itu rendah, karena sering kali membeli beras di bawah tengkulak.

Misalnya, tengkulak membeli gabah dari petani Rp4.200 per kilogram, sedangkan Bulog hanya Rp3.800 per kilogram. Hal itu karena memang Bulog memiliki kehati-hatian dalam membeli gabah.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Stok Beras Menggunung, Ombudsman Minta Impor Ditunda
Perusahaan juga ternyata tidak mampu menjual beras. Hal itu bisa dilihat dari masih banyaknya stok lama yang tak bisa keluar.

&quot;Banyak beras lama tak terpakai berarti tak bisa keluar kan, sehingga mengalami kerusakan,&quot; kata politisi Golkar ini.Bulog tak memiliki gudang dengan teknologi memadai dalam penyimpanan  beras. Akibatnya, beras yang disimpan di gudang tidak bisa bertahan lama  sehingga mudah busuk.

Selama ini, Bulog menyimpan beras hanya dengan mengandalkan memakai valet, sehingga beras tidak bisa bertahan lama.

&quot;Jadi Bulog itu seperti terperangkap. Beli (gabah) nggak bisa, jual  (beras) juga nggak bisa. Bahkan beras sisa impor yang 2018 dan 2019 pun  belum terjual. Ini yang menjadi problematika dari sisi pengelolaan,&quot;  kata Dedi.

Dedi mengatakan, dengan kondisi seperti itu, kinerja Bulog  membingungkan. Dia mengatakan tugas Bulog itu apa dan yang dikerjakan  itu apa.

&quot;Beli tak bisa, jual juga nggak bisa. Andaikan bisa beli impor,  setelah impor tak bisa jual juga. Seharusnya Bulog punya peran menyerap  gabah petani. Namun gabah petani tak bisa dibeli juga. Misalnya, dari 8  juta ton beras, yang bisa dibeli Bulog paling 30%,&quot; katanya.

Sementara itu, menanggapi pernyataan Dedi, Sekretaris Perusahaan  Bulog, Awaludin Iqbal menyebut, saat ini pihaknya tengah fokus terhadap  penyerapan gabah beras petani. Bahkan, hingga saat ini penyerapan sudah  mencapai 158.000 ton.

&quot;Saat ini kami semua sedang fokus kepada penyerapan gabah beras  petani, dan sampai saat ini realisasinya sudah mencapai 158.000 ton,&quot;  ujar Awaludin saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Kamis (25/3/2021).

Terkait skema penyerapannya, Bulog tetap mengikuti ketentuan atau  prosedur penyerapan gabah sesuai yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri  Perdagangan (Permendag) Nomor 24 Tahun 2020.</content:encoded></item></channel></rss>
