<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>    Cerita Menkes BGS 3 Kali Berada di Pusaran Krisis Ekonomi: Kebetulan atau Kesialan</title><description>Budi Gunadi Sadikin menceritakan bahwa sudah tiga kali menjadi pejabat pemerintahan yang tidak kali berada pada pusaran krisis ekonomi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/26/320/2384536/cerita-menkes-bgs-3-kali-berada-di-pusaran-krisis-ekonomi-kebetulan-atau-kesialan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/26/320/2384536/cerita-menkes-bgs-3-kali-berada-di-pusaran-krisis-ekonomi-kebetulan-atau-kesialan"/><item><title>    Cerita Menkes BGS 3 Kali Berada di Pusaran Krisis Ekonomi: Kebetulan atau Kesialan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/26/320/2384536/cerita-menkes-bgs-3-kali-berada-di-pusaran-krisis-ekonomi-kebetulan-atau-kesialan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/26/320/2384536/cerita-menkes-bgs-3-kali-berada-di-pusaran-krisis-ekonomi-kebetulan-atau-kesialan</guid><pubDate>Jum'at 26 Maret 2021 15:13 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/26/320/2384536/cerita-menkes-bgs-3-kali-berada-di-pusaran-krisis-ekonomi-kebetulan-atau-kesialan-zF78L2NJof.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menkes BGS (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/26/320/2384536/cerita-menkes-bgs-3-kali-berada-di-pusaran-krisis-ekonomi-kebetulan-atau-kesialan-zF78L2NJof.jpg</image><title>Menkes BGS (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menceritakan bahwa sudah tiga kali menjadi pejabat pemerintahan yang tidak kali berada pada pusaran krisis ekonomi.

&amp;ldquo;Saya enggak tahu kebetulan atau kesialan sudah mengalami tiga kali krisis ekonomi di Indonesia. Jadi tahun 1998, 2008-2013, dan sekarang di 2020-2021 ini. Nah, kebetulan yang krisis-krisis sebelumnya saya benar-benar ada di tengah pusaran,&amp;rdquo; ungkap BGS dalam Manager Forum ke-55 secara virtual, Jumat (26/3/2021).

BGS mengatakan bahwa krisis ekonomi terutama tahun 1998 yang sangat menghancurkan ekonomi Indonesia dan juga ekonomi 2008-2013 itu penyebabnya adalah krisis keuangan. &amp;ldquo;Jadi dimulai oleh krisis keuangan kemudian menjadi krisis ekonomi besar,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Cerita Sri Mulyani Ekonomi Indonesia Banyak Alami Shock&amp;nbsp;
Lalu, akibatnya apa? &amp;ldquo;Akibatnya hampir semua pejabat kita, hampir seluruh pembuat kebijakan di negeri kita memiliki memori, bahwa respons kebijakannya atau polisi respons yang menghadapi krisis ekonomi besar seperti ini,&amp;rdquo; kata BGS.

Namun, BGS mengatakan bahwa pada saat dia menjadi Ketua KPC PEN, pemulihan ekonomi harus sejalan dengan penanggulangan pandemi. &amp;ldquo;Padahal waktu saya menjadi Ketua Satgas Pemulihan Ekonomi yang diminta pak Presiden di KCP PEN istilah Pemulihan ekonomi dan penanggulangan pandemi,&quot; katanya.

BGS juga menegaskan bahwa krisis ekonomi saat ini penyebabnya adalah krisis kesehatan. &amp;ldquo;Saya sampaikan bahwa krisis ekonomi yang sekarang berbeda karena penyebabnya bukan krisis keuangan. Jadi bukan masalah likuiditas perbankan, interest rate kredit, bukan. Masalahnya adalah krisis kesehatan,&quot; ujarnya.

Kenapa krisis kesehatan bisa demikian besar dampaknya ke ekonomi? &amp;ldquo;Karena kebetulan krisis kesehatan ini harus direspons dengan lockdown atau pembatasan pergerakan, padahal ekonomi dunia dan khususnya ekonomi Indonesia itu masih sangat bergantung kepada pergerakan, pada kontak fisik,&amp;rdquo; kata BGS.

&amp;ldquo;Sehebat-hebatnya kita untuk melakukan e-commerce tetap commerce lewat pasar lebih besar volumenya,&amp;rdquo; tambah BGS.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menceritakan bahwa sudah tiga kali menjadi pejabat pemerintahan yang tidak kali berada pada pusaran krisis ekonomi.

&amp;ldquo;Saya enggak tahu kebetulan atau kesialan sudah mengalami tiga kali krisis ekonomi di Indonesia. Jadi tahun 1998, 2008-2013, dan sekarang di 2020-2021 ini. Nah, kebetulan yang krisis-krisis sebelumnya saya benar-benar ada di tengah pusaran,&amp;rdquo; ungkap BGS dalam Manager Forum ke-55 secara virtual, Jumat (26/3/2021).

BGS mengatakan bahwa krisis ekonomi terutama tahun 1998 yang sangat menghancurkan ekonomi Indonesia dan juga ekonomi 2008-2013 itu penyebabnya adalah krisis keuangan. &amp;ldquo;Jadi dimulai oleh krisis keuangan kemudian menjadi krisis ekonomi besar,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Cerita Sri Mulyani Ekonomi Indonesia Banyak Alami Shock&amp;nbsp;
Lalu, akibatnya apa? &amp;ldquo;Akibatnya hampir semua pejabat kita, hampir seluruh pembuat kebijakan di negeri kita memiliki memori, bahwa respons kebijakannya atau polisi respons yang menghadapi krisis ekonomi besar seperti ini,&amp;rdquo; kata BGS.

Namun, BGS mengatakan bahwa pada saat dia menjadi Ketua KPC PEN, pemulihan ekonomi harus sejalan dengan penanggulangan pandemi. &amp;ldquo;Padahal waktu saya menjadi Ketua Satgas Pemulihan Ekonomi yang diminta pak Presiden di KCP PEN istilah Pemulihan ekonomi dan penanggulangan pandemi,&quot; katanya.

BGS juga menegaskan bahwa krisis ekonomi saat ini penyebabnya adalah krisis kesehatan. &amp;ldquo;Saya sampaikan bahwa krisis ekonomi yang sekarang berbeda karena penyebabnya bukan krisis keuangan. Jadi bukan masalah likuiditas perbankan, interest rate kredit, bukan. Masalahnya adalah krisis kesehatan,&quot; ujarnya.

Kenapa krisis kesehatan bisa demikian besar dampaknya ke ekonomi? &amp;ldquo;Karena kebetulan krisis kesehatan ini harus direspons dengan lockdown atau pembatasan pergerakan, padahal ekonomi dunia dan khususnya ekonomi Indonesia itu masih sangat bergantung kepada pergerakan, pada kontak fisik,&amp;rdquo; kata BGS.

&amp;ldquo;Sehebat-hebatnya kita untuk melakukan e-commerce tetap commerce lewat pasar lebih besar volumenya,&amp;rdquo; tambah BGS.</content:encoded></item></channel></rss>
