<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sabun Mandi Berbahan Limbah Ini Cuan hingga Diekspor ke Eropa</title><description>Mendengar kata limbah, banyak yang membayangkan sampah menjijikan dan kotor.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/28/455/2385301/sabun-mandi-berbahan-limbah-ini-cuan-hingga-diekspor-ke-eropa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/28/455/2385301/sabun-mandi-berbahan-limbah-ini-cuan-hingga-diekspor-ke-eropa"/><item><title>Sabun Mandi Berbahan Limbah Ini Cuan hingga Diekspor ke Eropa</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/28/455/2385301/sabun-mandi-berbahan-limbah-ini-cuan-hingga-diekspor-ke-eropa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/28/455/2385301/sabun-mandi-berbahan-limbah-ini-cuan-hingga-diekspor-ke-eropa</guid><pubDate>Minggu 28 Maret 2021 11:08 WIB</pubDate><dc:creator>Trisna Purwoko</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/28/455/2385301/sabun-mandi-berbahan-limbah-ini-cuan-hingga-diekspor-ke-eropa-Cw8XP0mQtQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/28/455/2385301/sabun-mandi-berbahan-limbah-ini-cuan-hingga-diekspor-ke-eropa-Cw8XP0mQtQ.jpg</image><title>Rupiah (Shutterstock)</title></images><description>BANTUL &amp;ndash; Mendengar kata limbah, banyak yang membayangkan sampah menjijikan dan kotor. Namun, di tangan orang kreatif, limbah mempunyai nilai ekonomi, seperti kulit buah dan dedaunan.

Seorang warga Bantul mencoba berkreasi dengan membuat sabun mandi  dengan campuran limbah. Kreasi sabun mandi dengan campuran limbah kulit buah dan dedaunan  ini ternyata diminati pasar bahkan peminatnya sampai ke Eropa.
Baca juga: 3 Alasan Berhenti Bekerja dan Banting Setir Buka Usaha
Untuk meminimalisir dan mengurangi sampah yang semakin hari semakin menumpuk, seorang warga di Bantul, DI Yogyakarta melakukan langkah sederhana dengan membuat sabun mandi  batangan  dari bahan daur ulang atau limbah seperti kulit jeruk, daun jati dan cabai yang sudah mengering.
sejak tahun 2008 keluarga yang bertempat tinggal di Kasongan, Kapanewon Kasihan, Bantul, Yogyakarta ini mulai mengurangi dan meminimalisir menggunakan produk yang dikemas dengan bahan plastik yang sekali pakai. Berawal dari itu, Hamdani (pria 52 tahun) bersama sang istri mulai berkreasi membuat sabun alami ramah lingkungan  yang terbuat dari bahan daur ulang.
Baca juga;  8 Cara Bangun Bisnis dari Nol agar Cepat Sukses
Sebelum diproses menjadi sabun mandi, bahan bahan dari limbah seperti  kulit jeruk daun jati yang mulai mengering  tersebut kemudian di bersihkan. Lalu dikeringkan dan haluskan dengan cara di giling sampai lembut hingga menjadi bubuk.Setelah menjadi serbuk kering, bahan limbah tadi dicampur dengan  minyak kelapa, natrium dioksidan dan air secukupnya. Kemudian diaduk  hingga mengental dan  dituangkan ke dalam wadah cetakan.

Sabun mandi homemade  buatan warga bantul ini  sudah dipakai bertahun  tahun  oleh keluarga Hamdani dan dinilai cukup baik untuk mandi serta  tidak merusak kulit. Untuk satu buah sabun batang berbahan limbah  sendiri dijual dengan harga Rp20.000 per buah.

Untuk mengurangi penggunaan sampah sabun alami berbahan limbah yang  ramah lingkungan sengaja tidak dikemas dengan  plastik ataupun kertas,    namun  hanya diberikan  seutas tali pada ujung sabun. Menurut  beberapa  warga,  sabun mandi berbahan limbah ini  cukup lembut  dan aroma  wangi  yang berasal dari limbah buah tersebut masih terasa saat digunakan.
</description><content:encoded>BANTUL &amp;ndash; Mendengar kata limbah, banyak yang membayangkan sampah menjijikan dan kotor. Namun, di tangan orang kreatif, limbah mempunyai nilai ekonomi, seperti kulit buah dan dedaunan.

Seorang warga Bantul mencoba berkreasi dengan membuat sabun mandi  dengan campuran limbah. Kreasi sabun mandi dengan campuran limbah kulit buah dan dedaunan  ini ternyata diminati pasar bahkan peminatnya sampai ke Eropa.
Baca juga: 3 Alasan Berhenti Bekerja dan Banting Setir Buka Usaha
Untuk meminimalisir dan mengurangi sampah yang semakin hari semakin menumpuk, seorang warga di Bantul, DI Yogyakarta melakukan langkah sederhana dengan membuat sabun mandi  batangan  dari bahan daur ulang atau limbah seperti kulit jeruk, daun jati dan cabai yang sudah mengering.
sejak tahun 2008 keluarga yang bertempat tinggal di Kasongan, Kapanewon Kasihan, Bantul, Yogyakarta ini mulai mengurangi dan meminimalisir menggunakan produk yang dikemas dengan bahan plastik yang sekali pakai. Berawal dari itu, Hamdani (pria 52 tahun) bersama sang istri mulai berkreasi membuat sabun alami ramah lingkungan  yang terbuat dari bahan daur ulang.
Baca juga;  8 Cara Bangun Bisnis dari Nol agar Cepat Sukses
Sebelum diproses menjadi sabun mandi, bahan bahan dari limbah seperti  kulit jeruk daun jati yang mulai mengering  tersebut kemudian di bersihkan. Lalu dikeringkan dan haluskan dengan cara di giling sampai lembut hingga menjadi bubuk.Setelah menjadi serbuk kering, bahan limbah tadi dicampur dengan  minyak kelapa, natrium dioksidan dan air secukupnya. Kemudian diaduk  hingga mengental dan  dituangkan ke dalam wadah cetakan.

Sabun mandi homemade  buatan warga bantul ini  sudah dipakai bertahun  tahun  oleh keluarga Hamdani dan dinilai cukup baik untuk mandi serta  tidak merusak kulit. Untuk satu buah sabun batang berbahan limbah  sendiri dijual dengan harga Rp20.000 per buah.

Untuk mengurangi penggunaan sampah sabun alami berbahan limbah yang  ramah lingkungan sengaja tidak dikemas dengan  plastik ataupun kertas,    namun  hanya diberikan  seutas tali pada ujung sabun. Menurut  beberapa  warga,  sabun mandi berbahan limbah ini  cukup lembut  dan aroma  wangi  yang berasal dari limbah buah tersebut masih terasa saat digunakan.
</content:encoded></item></channel></rss>
