<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Genjot PNBP, KKP Digitalisasi Layanan Perikanan Tangkap</title><description>KKP melakukan digitalisasi sejumlah layanan di pelabuhan guna mendukung pelaksanaan program terobosan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/29/320/2386143/genjot-pnbp-kkp-digitalisasi-layanan-perikanan-tangkap</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/29/320/2386143/genjot-pnbp-kkp-digitalisasi-layanan-perikanan-tangkap"/><item><title>Genjot PNBP, KKP Digitalisasi Layanan Perikanan Tangkap</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/29/320/2386143/genjot-pnbp-kkp-digitalisasi-layanan-perikanan-tangkap</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/29/320/2386143/genjot-pnbp-kkp-digitalisasi-layanan-perikanan-tangkap</guid><pubDate>Senin 29 Maret 2021 22:04 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/29/320/2386143/genjot-pnbp-kkp-digitalisasi-layanan-perikanan-tangkap-92Vfla5qS8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perikanan (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/29/320/2386143/genjot-pnbp-kkp-digitalisasi-layanan-perikanan-tangkap-92Vfla5qS8.jpg</image><title>Perikanan (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan digitalisasi sejumlah layanan di pelabuhan guna mendukung pelaksanaan program terobosan, yakni peningkatan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sub sektor perikanan tangkap. Digitalisasi itu untuk meningkatkan keselamatan nelayan saat melaut hingga memperkuat pendataan hasil produksi.

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP, memasang alat Wahana Keselamatan dan Pemantauan Objek Berbasis Informasi - Automatic Identification System (WakatobiAIS) pada sepuluh kapal nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu Serang, Banten.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Menteri KKP Putar Otak Kejar Target PNBP Rp12 Triliun
Pemasangan dilakukan bersama LPTK dan Solusi 247 dan didukung penuh oleh Pusat Riset Kelautan (Pusriskel), Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) dan Direktorat Kepelabuhanan DJPT.

Wakatobi AIS merupakan perangkat AIS Class B yang dapat mengirim posisi kapal secara simultan sehingga keberadaan kapal dapat diketahui oleh kapal-kapal lain di sekitarnya dan stasiun monitoring di darat. Kegunaannya sebagai alat keselamatan nelayan apabila kapal yang mereka operasikan dalam kondisi bahaya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: 7 Kapal yang Langgar Daerah Penangkapan Ikan Ditertibkan KKP
Pemasangan Wakatobi AIS sangat mudah. Cukup dengan memasang antena di posisi tertinggi kapal lalu memasang alat utama AIS pada posisi yang mudah dijangkau oleh awak kapal. Sebagai perbandingan, produk AIS yang lain membutuhkan sambungan listrik ke catu daya seperti ke aki atau adaptor DC juga sambungan kabel ke antena GPS yang dipasang terpisah.Hasil inovasi riset Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK)  Wakatobi ini dinilai sangat cocok untuk kapal-kapal nelayan Karangantu  yang sebagian besar merupakan kapal bagan. Nelayan di sana kerap  menangkap ikan di lokasi yang ramai pelayaran kapal-kapal besar dari  Cilegon dan Merak. Keberadaan kapal nelayan tentunya berisiko tertabrak  atau terkena hempasan ombak tinggi akibat kapal besar yang melintas.

&quot;Kami sangat mendukung implementasi alat keselamatan nelayan di  kapal-kapal nelayan terutama nelayan di wilayah pengawasan kami.  Terlebih dipilihnya PPN Karangantu merupakan kali pertama  dimanfaatkannya alat keselamatan nelayan hasil temuan para peneliti LPTK  Wakatobi,&quot; ujar Kepala PPN Karangantu, Asep Saefuloh dalam keterangan  tertulisnya, Senin (29/3/2021).

Dalam pemasangan Wakatobi AIS, terlebih dahulu dilakukan pengecekan  kapal guna menentukan kapal memenuhi syarat. Instalasi di kapal hanya  membutuhkan waktu 7 hingga 10 menit dan alat dapat langsung dinyalakan  dan otomatis kapal dapat dilihat posisinya di layar monitor.

Selain melakukan instalasi transmiter AIS di kapal, tim juga  melakukan instalasi sistem penerima AIS yang dipasang di kantor  Pelabuhan. Sistem ini akan memudahkan operator Pelabuhan mengawasi dan  memberikan pelayanan terhadap aktivitas kapal perikanan di PPN  Karangantu.

Kepala LPTK Wakatobi, Akhmatul ferlin, mengatakan adapun sistem  Wakatobi AIS terdiri dari unit di kapal (AIS transmitter, perangkat AIS)  unit di darat (Menara antenna AIS receiver+ mini PC, Modem) dan layar  ship monitoring Wakatobi AIS dapat mengidentifikasi tiga masalah utama  yang dihadapi nelayan dalam melaut.

&quot;Pertama, kurangnya kesiapan operasi nelayan dalam hal penguasaan  informasi mengenai kondisi meteorologi di area target penangkapan ikan.  Kedua, perlunya peningkatan keterpantauan armada-armada nelayan  tradisional oleh otoritas di darat untuk mendukung ekstraksi SDA yang  berkelanjutan, sekaligus sebagai data penting dalam proses rescue saat  para nelayan mengalami musibah di laut,&quot; ungkap dia.

Ketiga, kata dia sulitnya nelayan tradisional dalam mengabarkan  kondisi darurat yang mereka alami akibat terbatasnya moda komunikasi di  laut, sehingga tertundanya upaya penyelamatan.

Selain pemasangan WakatobiAIS, KKP juga akan menerapkan teknologi  Internet of Thing (IoT) timbangan online di PPN Karangantu. Sistem yang  juga akan diterapkan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap ini  telah diintegrasikan dengan aplikasi Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan  (PIPP) dalam kerangka Satu Data KKP.

Kepala Pusdatin Budi Sulistiyo menyampaikan penerapan timbangan  online akan mempercepat proses serta menjamin akurasi pencatatan hasil  tangkapan. Selanjutnya volume dan nilai per komoditas ikan akan  dijadikan dasar penetapan PNBP yang akan dibayarkan pelaku usaha.

&quot;Untuk mendukung proses ini, pendataan KUSUKA menjadi penting dan KKP menargetkan pendataan KUSUKA selesai 2022,&quot; tandas dia.
</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan digitalisasi sejumlah layanan di pelabuhan guna mendukung pelaksanaan program terobosan, yakni peningkatan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sub sektor perikanan tangkap. Digitalisasi itu untuk meningkatkan keselamatan nelayan saat melaut hingga memperkuat pendataan hasil produksi.

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP, memasang alat Wahana Keselamatan dan Pemantauan Objek Berbasis Informasi - Automatic Identification System (WakatobiAIS) pada sepuluh kapal nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu Serang, Banten.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Menteri KKP Putar Otak Kejar Target PNBP Rp12 Triliun
Pemasangan dilakukan bersama LPTK dan Solusi 247 dan didukung penuh oleh Pusat Riset Kelautan (Pusriskel), Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) dan Direktorat Kepelabuhanan DJPT.

Wakatobi AIS merupakan perangkat AIS Class B yang dapat mengirim posisi kapal secara simultan sehingga keberadaan kapal dapat diketahui oleh kapal-kapal lain di sekitarnya dan stasiun monitoring di darat. Kegunaannya sebagai alat keselamatan nelayan apabila kapal yang mereka operasikan dalam kondisi bahaya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: 7 Kapal yang Langgar Daerah Penangkapan Ikan Ditertibkan KKP
Pemasangan Wakatobi AIS sangat mudah. Cukup dengan memasang antena di posisi tertinggi kapal lalu memasang alat utama AIS pada posisi yang mudah dijangkau oleh awak kapal. Sebagai perbandingan, produk AIS yang lain membutuhkan sambungan listrik ke catu daya seperti ke aki atau adaptor DC juga sambungan kabel ke antena GPS yang dipasang terpisah.Hasil inovasi riset Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK)  Wakatobi ini dinilai sangat cocok untuk kapal-kapal nelayan Karangantu  yang sebagian besar merupakan kapal bagan. Nelayan di sana kerap  menangkap ikan di lokasi yang ramai pelayaran kapal-kapal besar dari  Cilegon dan Merak. Keberadaan kapal nelayan tentunya berisiko tertabrak  atau terkena hempasan ombak tinggi akibat kapal besar yang melintas.

&quot;Kami sangat mendukung implementasi alat keselamatan nelayan di  kapal-kapal nelayan terutama nelayan di wilayah pengawasan kami.  Terlebih dipilihnya PPN Karangantu merupakan kali pertama  dimanfaatkannya alat keselamatan nelayan hasil temuan para peneliti LPTK  Wakatobi,&quot; ujar Kepala PPN Karangantu, Asep Saefuloh dalam keterangan  tertulisnya, Senin (29/3/2021).

Dalam pemasangan Wakatobi AIS, terlebih dahulu dilakukan pengecekan  kapal guna menentukan kapal memenuhi syarat. Instalasi di kapal hanya  membutuhkan waktu 7 hingga 10 menit dan alat dapat langsung dinyalakan  dan otomatis kapal dapat dilihat posisinya di layar monitor.

Selain melakukan instalasi transmiter AIS di kapal, tim juga  melakukan instalasi sistem penerima AIS yang dipasang di kantor  Pelabuhan. Sistem ini akan memudahkan operator Pelabuhan mengawasi dan  memberikan pelayanan terhadap aktivitas kapal perikanan di PPN  Karangantu.

Kepala LPTK Wakatobi, Akhmatul ferlin, mengatakan adapun sistem  Wakatobi AIS terdiri dari unit di kapal (AIS transmitter, perangkat AIS)  unit di darat (Menara antenna AIS receiver+ mini PC, Modem) dan layar  ship monitoring Wakatobi AIS dapat mengidentifikasi tiga masalah utama  yang dihadapi nelayan dalam melaut.

&quot;Pertama, kurangnya kesiapan operasi nelayan dalam hal penguasaan  informasi mengenai kondisi meteorologi di area target penangkapan ikan.  Kedua, perlunya peningkatan keterpantauan armada-armada nelayan  tradisional oleh otoritas di darat untuk mendukung ekstraksi SDA yang  berkelanjutan, sekaligus sebagai data penting dalam proses rescue saat  para nelayan mengalami musibah di laut,&quot; ungkap dia.

Ketiga, kata dia sulitnya nelayan tradisional dalam mengabarkan  kondisi darurat yang mereka alami akibat terbatasnya moda komunikasi di  laut, sehingga tertundanya upaya penyelamatan.

Selain pemasangan WakatobiAIS, KKP juga akan menerapkan teknologi  Internet of Thing (IoT) timbangan online di PPN Karangantu. Sistem yang  juga akan diterapkan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap ini  telah diintegrasikan dengan aplikasi Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan  (PIPP) dalam kerangka Satu Data KKP.

Kepala Pusdatin Budi Sulistiyo menyampaikan penerapan timbangan  online akan mempercepat proses serta menjamin akurasi pencatatan hasil  tangkapan. Selanjutnya volume dan nilai per komoditas ikan akan  dijadikan dasar penetapan PNBP yang akan dibayarkan pelaku usaha.

&quot;Untuk mendukung proses ini, pendataan KUSUKA menjadi penting dan KKP menargetkan pendataan KUSUKA selesai 2022,&quot; tandas dia.
</content:encoded></item></channel></rss>
