<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Digitalisasi Perbankan, BI Awasi Pemain Baru</title><description>Digitalisasi turut memberikan dampak bagi aktivitas perekonomian.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/31/320/2387128/digitalisasi-perbankan-bi-awasi-pemain-baru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/03/31/320/2387128/digitalisasi-perbankan-bi-awasi-pemain-baru"/><item><title>Digitalisasi Perbankan, BI Awasi Pemain Baru</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/03/31/320/2387128/digitalisasi-perbankan-bi-awasi-pemain-baru</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/03/31/320/2387128/digitalisasi-perbankan-bi-awasi-pemain-baru</guid><pubDate>Rabu 31 Maret 2021 13:52 WIB</pubDate><dc:creator>Aditya Pratama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/03/31/320/2387128/digitalisasi-perbankan-bi-awasi-pemain-baru-wBCu01F7OJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi Digital (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/03/31/320/2387128/digitalisasi-perbankan-bi-awasi-pemain-baru-wBCu01F7OJ.jpg</image><title>Ekonomi Digital (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Digitalisasi turut memberikan dampak bagi aktivitas perekonomian. Bank Indonesia (BI) menilai digitalisasi dalam ekonomi perlu dioptimalkan dan menimalisir risiko yang ada.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta mengatakan, Bank Indonesia akan meminimalkan risiko dan ekses negatif yang terkait dengan digitalisasi ekonomi nasional.
 
Baca juga: BRI Dorong Kolaborasi Antarlembaga Demi Tingkatkan Keamanan Transaksi Digital di Indonesia
&quot;Kami di bank sentral juga melihat bahwa kami memiliki tantangan bagaimana kami mencari titik keseimbangan antara upaya mengoptimalkan peluang yang diusung oleh inovasi digital tetapi juga mengupayakan memitigasi kan risiko,&quot; ujar Filianingsih dalam forum diskusi virtual, Rabu (31/3/2021).

Dia menambahkan, dengan adanya digitalisasi, Bank Indonesia perlu bergerak secara selaras dengan upaya menjaga stabilitas moneter, menjaga stabilitas sistem keuangan dan kelancaran sistem pembayaran. Tidak hanya itu, dia menyebut industri juga perlu melakukan perubahan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Terapkan Satu Data Indonesia, Penyaluran Bansos Bisa Tepat Sasaran?
&quot;Bagi industri sendiri kita lihat perlu juga untuk melakukan transformasi digital secara end-to-end supaya bisa mampu untuk menjaga daya saingnya, jadi ga bisa di comfort zone harus melakukan transformasi,&quot; kata dia.Filianingsih menyampaikan, digitalisasi telah melahirkan pola baru  dalam aktivitas ekonomi, yang mana hal ini ditandai dengan munculnya  tiga hal baru, pertama adalah teknologi baru, Mengenai teknologi baru  atau disebut sebagai teknologi digital telah hadir di setiap sendi  kehidupan dan hampir seluruh aktivitas baik individu maupun korporasi  juga terpapar dengan inovasi digital ini. Teknologi baru pertumbuhannya  pun eksponensial saat ini.

Kedua, model bisnis baru, dimana saat ini telah banyak lahir model  bisnis baru yang sangat inovatif. Dia menyebut, teknologi digital  memungkinkan terjadinya model bisnis yang baik yang bundling maupun  unbundling. Di era saat ini juga penting untuk berkolaborasi model  bisnis antara berbagai pelaku salah satunya di sistem pembayaran

Terakhir yaitu pemain baru, dimana dengan merebaknya teknologi  digital memungkinkan banyaknya pemain baru khususnya non bank. Hal ini  terlihat terutama pada retail payment, dimana peran non bank semakin  menguat sekaligus mengubah struktur dan tatanan sektor keuangan.</description><content:encoded>JAKARTA - Digitalisasi turut memberikan dampak bagi aktivitas perekonomian. Bank Indonesia (BI) menilai digitalisasi dalam ekonomi perlu dioptimalkan dan menimalisir risiko yang ada.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta mengatakan, Bank Indonesia akan meminimalkan risiko dan ekses negatif yang terkait dengan digitalisasi ekonomi nasional.
 
Baca juga: BRI Dorong Kolaborasi Antarlembaga Demi Tingkatkan Keamanan Transaksi Digital di Indonesia
&quot;Kami di bank sentral juga melihat bahwa kami memiliki tantangan bagaimana kami mencari titik keseimbangan antara upaya mengoptimalkan peluang yang diusung oleh inovasi digital tetapi juga mengupayakan memitigasi kan risiko,&quot; ujar Filianingsih dalam forum diskusi virtual, Rabu (31/3/2021).

Dia menambahkan, dengan adanya digitalisasi, Bank Indonesia perlu bergerak secara selaras dengan upaya menjaga stabilitas moneter, menjaga stabilitas sistem keuangan dan kelancaran sistem pembayaran. Tidak hanya itu, dia menyebut industri juga perlu melakukan perubahan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Terapkan Satu Data Indonesia, Penyaluran Bansos Bisa Tepat Sasaran?
&quot;Bagi industri sendiri kita lihat perlu juga untuk melakukan transformasi digital secara end-to-end supaya bisa mampu untuk menjaga daya saingnya, jadi ga bisa di comfort zone harus melakukan transformasi,&quot; kata dia.Filianingsih menyampaikan, digitalisasi telah melahirkan pola baru  dalam aktivitas ekonomi, yang mana hal ini ditandai dengan munculnya  tiga hal baru, pertama adalah teknologi baru, Mengenai teknologi baru  atau disebut sebagai teknologi digital telah hadir di setiap sendi  kehidupan dan hampir seluruh aktivitas baik individu maupun korporasi  juga terpapar dengan inovasi digital ini. Teknologi baru pertumbuhannya  pun eksponensial saat ini.

Kedua, model bisnis baru, dimana saat ini telah banyak lahir model  bisnis baru yang sangat inovatif. Dia menyebut, teknologi digital  memungkinkan terjadinya model bisnis yang baik yang bundling maupun  unbundling. Di era saat ini juga penting untuk berkolaborasi model  bisnis antara berbagai pelaku salah satunya di sistem pembayaran

Terakhir yaitu pemain baru, dimana dengan merebaknya teknologi  digital memungkinkan banyaknya pemain baru khususnya non bank. Hal ini  terlihat terutama pada retail payment, dimana peran non bank semakin  menguat sekaligus mengubah struktur dan tatanan sektor keuangan.</content:encoded></item></channel></rss>
