<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gudang Garam, Produsen Rokok Milik Susilo Wonowidjojo Tergerus Labanya 29%</title><description>Emiten produsen rokok PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) mencatatkan pertumbuhan pendapatan menjadi Rp114,47 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/01/278/2387747/gudang-garam-produsen-rokok-milik-susilo-wonowidjojo-tergerus-labanya-29</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/04/01/278/2387747/gudang-garam-produsen-rokok-milik-susilo-wonowidjojo-tergerus-labanya-29"/><item><title>Gudang Garam, Produsen Rokok Milik Susilo Wonowidjojo Tergerus Labanya 29%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/01/278/2387747/gudang-garam-produsen-rokok-milik-susilo-wonowidjojo-tergerus-labanya-29</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/04/01/278/2387747/gudang-garam-produsen-rokok-milik-susilo-wonowidjojo-tergerus-labanya-29</guid><pubDate>Kamis 01 April 2021 12:43 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/01/278/2387747/gudang-garam-produsen-rokok-milik-susilo-wonowidjojo-tergerus-labanya-29-dG9Z6x749g.jpg" expression="full" type="image/jpeg">PT Gudang Garam Tbk (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/01/278/2387747/gudang-garam-produsen-rokok-milik-susilo-wonowidjojo-tergerus-labanya-29-dG9Z6x749g.jpg</image><title>PT Gudang Garam Tbk (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Di tahun 2020 kemarin, emiten produsen rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan pertumbuhan pendapatan menjadi Rp114,47 triliun. Meningkat Rp3,95 triliun atau naik 3,57% dari pendapatan pada 2019 yang sebesar Rp110,52 triliun.

Namun pertumbuhan pendapatan juga diiringi dengan beban biaya pokok penjualan yang meningkat menjadi Rp97,08 triliun. Di mana, naik Rp9,34 triliun dari posisi 2019 yang sebesar Rp87,74 triliun.
 
&amp;nbsp;Baca juga:  Megaproyek Gudang Garam di Kediri, dari Bandara hingga Jalan Tol 
Mengutip Neraca, Jakarta, Kamis (1/4/2021), kenaikan biaya pokok penjualan tersebut membuat laba bruto menjadi Rp17,38 triliun turun dari saat 2019 yang mencapai Rp22,78 triliun. Walhasil, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp7,64 triliun atau terkoreksi 29,19% dari laba pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp10,88 triliun.

Dengan demikian, laba per saham dasar dan dilusian atau earning per share pun turut tergerus menjadi Rp3.975, sementara saat 2019 dapat mencapai Rp5.655.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Gudang Garam Suntik Anak Usaha Rp1 Triliun, Buat Apa?
Selain itu, total aset perseroan mengalami sedikit penurunan menjadi Rp78,19 triliun dari tahun 2019 yang sebesar Rp78,64 triliun. Dengan rincian, kenaikan aset tidak lancar menjadi Rp28,65 triliun dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp26,56 triliun.Sementara total aset lancar tergerus menjadi Rp49,53 triliun  dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp52,08 triliun. Dari  sisi liabilitas, GGRM mencatatkan penurunan total liabilitas menjadi  Rp19,66 triliun turun 29% dibandingkan dengan 2019 yang sebesar Rp27,71  triliun.

Perseroan menjelaskan, penurunan tersebut terutama karena penurunan  liabilitas jangka pendek menjadi Rp17 triliun daripada tahun 2019 yang  sebesar Rp25,25 triliun. Dengan penurunan terbesar terjadi pada pinjaman  bank jangka pendek yang turun menjadi Rp6 triliun dari posisi tahun  sebelumnya sebesar Rp17,21 triliun. Sementara utang cukai, PPN dan pajak  rokok mengalami peningkatan menjadi Rp9,05 triliun naik dari tahun  sebelumnya yang sebesar Rp5,08 triliun.

Adapun, liabilitas jangka panjang meningkat menjadi Rp2,65 triliun  dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp2,45 triliun. Dengan  peningkatan terjadi pada liabilitas imbalan pasca kerja. Adapun total  ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp58,52 triliun dibandingkan dengan  tahun sebelumnya sebesar Rp50,93 triliun. Sementara itu, posisi kas dan  setara kas meningkat menjadi Rp4,76 triliun dari posisi 2019 yang  sebesar Rp3,45 triliun.

Dari pos ini terlihat perseroan melakukan pembayaran pinjaman jangka  pendek cukup tinggi sebesar Rp20,6 triliun dengan penarikan pinjaman  jangka pendek sebesar Rp9,5 triliun. Ekspansi bisnis perseroan melabar  di sektor bandara dan infrastruktur.  Teranyar, selain membangun bandara  Dhoho Kediri, PT Gudang Garam Tbk juga membentuk cucu usaha yang  bergerak di bidang jalan tol bernama PT Surya Kertaagung Toll.</description><content:encoded>JAKARTA - Di tahun 2020 kemarin, emiten produsen rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan pertumbuhan pendapatan menjadi Rp114,47 triliun. Meningkat Rp3,95 triliun atau naik 3,57% dari pendapatan pada 2019 yang sebesar Rp110,52 triliun.

Namun pertumbuhan pendapatan juga diiringi dengan beban biaya pokok penjualan yang meningkat menjadi Rp97,08 triliun. Di mana, naik Rp9,34 triliun dari posisi 2019 yang sebesar Rp87,74 triliun.
 
&amp;nbsp;Baca juga:  Megaproyek Gudang Garam di Kediri, dari Bandara hingga Jalan Tol 
Mengutip Neraca, Jakarta, Kamis (1/4/2021), kenaikan biaya pokok penjualan tersebut membuat laba bruto menjadi Rp17,38 triliun turun dari saat 2019 yang mencapai Rp22,78 triliun. Walhasil, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp7,64 triliun atau terkoreksi 29,19% dari laba pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp10,88 triliun.

Dengan demikian, laba per saham dasar dan dilusian atau earning per share pun turut tergerus menjadi Rp3.975, sementara saat 2019 dapat mencapai Rp5.655.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Gudang Garam Suntik Anak Usaha Rp1 Triliun, Buat Apa?
Selain itu, total aset perseroan mengalami sedikit penurunan menjadi Rp78,19 triliun dari tahun 2019 yang sebesar Rp78,64 triliun. Dengan rincian, kenaikan aset tidak lancar menjadi Rp28,65 triliun dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp26,56 triliun.Sementara total aset lancar tergerus menjadi Rp49,53 triliun  dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp52,08 triliun. Dari  sisi liabilitas, GGRM mencatatkan penurunan total liabilitas menjadi  Rp19,66 triliun turun 29% dibandingkan dengan 2019 yang sebesar Rp27,71  triliun.

Perseroan menjelaskan, penurunan tersebut terutama karena penurunan  liabilitas jangka pendek menjadi Rp17 triliun daripada tahun 2019 yang  sebesar Rp25,25 triliun. Dengan penurunan terbesar terjadi pada pinjaman  bank jangka pendek yang turun menjadi Rp6 triliun dari posisi tahun  sebelumnya sebesar Rp17,21 triliun. Sementara utang cukai, PPN dan pajak  rokok mengalami peningkatan menjadi Rp9,05 triliun naik dari tahun  sebelumnya yang sebesar Rp5,08 triliun.

Adapun, liabilitas jangka panjang meningkat menjadi Rp2,65 triliun  dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp2,45 triliun. Dengan  peningkatan terjadi pada liabilitas imbalan pasca kerja. Adapun total  ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp58,52 triliun dibandingkan dengan  tahun sebelumnya sebesar Rp50,93 triliun. Sementara itu, posisi kas dan  setara kas meningkat menjadi Rp4,76 triliun dari posisi 2019 yang  sebesar Rp3,45 triliun.

Dari pos ini terlihat perseroan melakukan pembayaran pinjaman jangka  pendek cukup tinggi sebesar Rp20,6 triliun dengan penarikan pinjaman  jangka pendek sebesar Rp9,5 triliun. Ekspansi bisnis perseroan melabar  di sektor bandara dan infrastruktur.  Teranyar, selain membangun bandara  Dhoho Kediri, PT Gudang Garam Tbk juga membentuk cucu usaha yang  bergerak di bidang jalan tol bernama PT Surya Kertaagung Toll.</content:encoded></item></channel></rss>
