<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Komoditas Melonjak, Mendag Sebut RI Masuk Periode Supercycle</title><description>Indonesia akan memasuki periode supercycle dalam perekonomian dunia.  Pada periode ini, harga beberapa komoditas akan naik secara signifikan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/07/320/2390721/harga-komoditas-melonjak-mendag-sebut-ri-masuk-periode-supercycle</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/04/07/320/2390721/harga-komoditas-melonjak-mendag-sebut-ri-masuk-periode-supercycle"/><item><title>Harga Komoditas Melonjak, Mendag Sebut RI Masuk Periode Supercycle</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/07/320/2390721/harga-komoditas-melonjak-mendag-sebut-ri-masuk-periode-supercycle</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/04/07/320/2390721/harga-komoditas-melonjak-mendag-sebut-ri-masuk-periode-supercycle</guid><pubDate>Rabu 07 April 2021 11:53 WIB</pubDate><dc:creator>Ferdi Rantung</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/07/320/2390721/harga-komoditas-melonjak-mendag-sebut-ri-masuk-periode-supercycle-R01uluyKPR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (Foto: Dokumentasi Kemendag)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/07/320/2390721/harga-komoditas-melonjak-mendag-sebut-ri-masuk-periode-supercycle-R01uluyKPR.jpg</image><title>Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (Foto: Dokumentasi Kemendag)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia akan memasuki periode supercycle dalam perekonomian dunia. Pada periode ini, harga beberapa komoditas akan naik secara signifikan.
&amp;ldquo;Indonesia akan memasuki periode supercycle, dimana harga beberapa komoditas akan naik secara signifikan, terutama komoditas dasar, yang diakibatkan pertumbuhan ekonomi baru dari permintaan yang terjadi di masa pandemi dan setelah pandemi,&amp;rdquo; kata  Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/4/2021).
Baca juga: Sri Mulyani: Covid-19 Luar Biasa, Negara Paling Kaya Sampai Terperosok
Menurut Mendag, beberapa komoditas yang harganya naik dalam periode supercycle tersebut adalah minyak bumi, gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), bijih besi, dan tembaga.
&amp;ldquo;Ini bukan kali pertama Indonesia menghadapi periode supercycle. Beberapa tahun lalu, Indonesia telah mengalaminya dan seperti periode sebelumnya, periode supercycle kali ini diharapkan juga akan membawa keberuntungan dan dampak positif bagi perekonomian Indonesia,&amp;rdquo; ujar Mendag.
Baca juga: Ekonomi Dunia Diprediksi Tumbuh 5,6%, Sri Mulyani: Biasanya Ada Revisi Lagi 
Selain supercycle, ada beberapa hal lain yang juga akan menjadi tren perdagangan Indonesia ke depan. Tren pertama adalah munculnya investasi yang terjadi karena adanya pasar yang besar. Hal itu dapat dilihat melalui sektor otomotif, dimana pada sektor tersebut banyak muncul investasi yang disebabkan besarnya pasar otomotif di Indonesia.Tren kedua, komoditas dasar Indonesia memberikan keunggulan  komparatif (comparative advantage) yang baik. Dengan memiliki keunggulan  tersebut, maka Indonesia mampu menghasilkan barang dan jasa dengan  biaya yang sangat bersaing. Hal ini dapat dilihat dari produksi  stainless steel Indonesia, dimana Indonesia merupakan produsen kedua  terbesar di dunia.
Tren ketiga, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tinggi.  Salah satu contohnya, komoditas perhiasan yang merupakan komoditas  unggulan ekspor nonmigas Indonesia. Dengan sumber daya alam dan manusia  yang saling mendukung, Indonesia mampu menghasilkan produk perhiasan  berdaya saing di pasar dunia.
Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki tersebut, lanjut Mendag,  diharapkan nantinya akan banyaknegara yang menjadi mitra khusus  Indonesia. Terutama Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok.
&amp;ldquo;Negara-negara tersebut tak hanya sekedar menjadi mitra dagang, namun  juga menjadi sumber investasi perekonomian nasional dengan  produk-produk yang menjadi pilar utama ekspor nonmigas Indonesia,&amp;rdquo;  pungkas Mendag.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia akan memasuki periode supercycle dalam perekonomian dunia. Pada periode ini, harga beberapa komoditas akan naik secara signifikan.
&amp;ldquo;Indonesia akan memasuki periode supercycle, dimana harga beberapa komoditas akan naik secara signifikan, terutama komoditas dasar, yang diakibatkan pertumbuhan ekonomi baru dari permintaan yang terjadi di masa pandemi dan setelah pandemi,&amp;rdquo; kata  Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/4/2021).
Baca juga: Sri Mulyani: Covid-19 Luar Biasa, Negara Paling Kaya Sampai Terperosok
Menurut Mendag, beberapa komoditas yang harganya naik dalam periode supercycle tersebut adalah minyak bumi, gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), bijih besi, dan tembaga.
&amp;ldquo;Ini bukan kali pertama Indonesia menghadapi periode supercycle. Beberapa tahun lalu, Indonesia telah mengalaminya dan seperti periode sebelumnya, periode supercycle kali ini diharapkan juga akan membawa keberuntungan dan dampak positif bagi perekonomian Indonesia,&amp;rdquo; ujar Mendag.
Baca juga: Ekonomi Dunia Diprediksi Tumbuh 5,6%, Sri Mulyani: Biasanya Ada Revisi Lagi 
Selain supercycle, ada beberapa hal lain yang juga akan menjadi tren perdagangan Indonesia ke depan. Tren pertama adalah munculnya investasi yang terjadi karena adanya pasar yang besar. Hal itu dapat dilihat melalui sektor otomotif, dimana pada sektor tersebut banyak muncul investasi yang disebabkan besarnya pasar otomotif di Indonesia.Tren kedua, komoditas dasar Indonesia memberikan keunggulan  komparatif (comparative advantage) yang baik. Dengan memiliki keunggulan  tersebut, maka Indonesia mampu menghasilkan barang dan jasa dengan  biaya yang sangat bersaing. Hal ini dapat dilihat dari produksi  stainless steel Indonesia, dimana Indonesia merupakan produsen kedua  terbesar di dunia.
Tren ketiga, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tinggi.  Salah satu contohnya, komoditas perhiasan yang merupakan komoditas  unggulan ekspor nonmigas Indonesia. Dengan sumber daya alam dan manusia  yang saling mendukung, Indonesia mampu menghasilkan produk perhiasan  berdaya saing di pasar dunia.
Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki tersebut, lanjut Mendag,  diharapkan nantinya akan banyaknegara yang menjadi mitra khusus  Indonesia. Terutama Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok.
&amp;ldquo;Negara-negara tersebut tak hanya sekedar menjadi mitra dagang, namun  juga menjadi sumber investasi perekonomian nasional dengan  produk-produk yang menjadi pilar utama ekspor nonmigas Indonesia,&amp;rdquo;  pungkas Mendag.</content:encoded></item></channel></rss>
