<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cara Menghentikan Kebiasaan Berhutang, Cek di Sini</title><description>Cara menghentikan kebiasaan berhutang bisa dilakukan dengan mengelola hutang dengan baik.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/08/622/2391388/cara-menghentikan-kebiasaan-berhutang-cek-di-sini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/04/08/622/2391388/cara-menghentikan-kebiasaan-berhutang-cek-di-sini"/><item><title>Cara Menghentikan Kebiasaan Berhutang, Cek di Sini</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/08/622/2391388/cara-menghentikan-kebiasaan-berhutang-cek-di-sini</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/04/08/622/2391388/cara-menghentikan-kebiasaan-berhutang-cek-di-sini</guid><pubDate>Kamis 08 April 2021 14:11 WIB</pubDate><dc:creator>Fariza Rizky Ananda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/08/622/2391388/cara-menghentikan-kebiasaan-berhutang-cek-di-sini-Cy8dRAkVwT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/08/622/2391388/cara-menghentikan-kebiasaan-berhutang-cek-di-sini-Cy8dRAkVwT.jpg</image><title>Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Cara menghentikan kebiasaan berhutang bisa dilakukan dengan mengelola hutang dengan baik. Berhutang mungkin lebih dikenal sebagai keputusan keuangan yang negatif dan harus dihindari oleh siapa saja. Banyak kasus di mana orang bisa terjerat hutang dan menjadi sebuah kebiasaan atau rutinitas yang tidak bisa dilepaskan.
Selain itu, semakin mudahnya teknologi saat ini memunculkan banyak alternatif untuk berhutang. Orang biasanya terlena karena kemudahan kartu kredit ketika berbelanja. Kemajuan fintech juga memunculkan fenomena pinjaman online yang sangat mudah diakses dan siapapun bisa memanfaatkannya, baik secara bertanggung jawab maupun ceroboh.
Baca Juga: Masa Tua Banyak Duit, Ini Pentingnya Perencanaan Tabungan Pensiun
Namun faktanya, hutang bisa saja dikelola dengan baik dan bisa mendatangkan manfaat. Perencana keuangan Eko Endarto mengatakan, hutang yang bagus misalnya digunakan untuk investasi.
&amp;ldquo;Hutang juga ada yang bagus, ada yang buruk. Kalau hutangnya bagus misalnya untuk investasi, ya ga masalah artinya dia berhutang untuk mendapatkan aset, dan aset itu terus meningkat nilainya,&amp;rdquo; ucap Eko kepada Okezone, Kamis (8/4/2021).
Baca Juga: Tips Keluar dari Jeratan Utang Kartu Kredit
Masalah datang ketika hutang yang menjerat itu hutang konsumtif yang digunakan untuk memenuhi gaya hidup dan kebutuhan konsumtif. Menurut Eko, orang seperti itu mengorbankan masa depannya untuk bayar cicilan yang biasanya diambil dari tabungannya sendiri.
&amp;ldquo;Jadi dia tidak menabung, tapi dia juga harus bayar cicilannya. Ketika seseorang itu terkena masalah hutang, selalu ingat untuk masa depan. Kalau sudah berkeluarga misalnya, ingat anaknya, kalau tidak berkeluarga ingat masa pensiunnya, sebab ketika dia berhutang berarti dia kehilangan waktunya dan kesempatan untuk berinvestasi, dia mengorbankan investasinya,&amp;rdquo; jelas Eko.Namun, bagi beberapa orang, berhutang adalah sebuah pilihan di kala  situasi mendesak. Tidak jarang orang dengan penghasilan kecil memiliki  banyak pengeluaran tambahan yang tidak diduga. Misal, bagi generasi  sandwich saat ini harus memenuhi kebutuhan orang tuanya, atau tiba-tiba  ada situasi darurat yang tidak diharapkan.
Perencana keuangan Agustina Fitria menjelaskan solusi untuk orang  berhutang karena kebutuhan mendesak dan disebabkan karena kondisi yang  tidak bisa dikendalikan.
&amp;ldquo;Suka berhutang itu berarti kan ada sesuatu yang bermasalah, pertama  dikarenakan penghasilan seseorang itu kurang, di bawah UMR, belum lagi  harus menghidupi orang tua atau adik-adiknya, makanya dia terpaksa harus  berhutang. Berarti solusinya dia harus cari penghasilan tambahan supaya  dia bisa melunasi hutangnya dan tidak berhutang lagi,&amp;rdquo; terang Agustina  kepada Okezone.
Berbeda kasusnya ketika seseorang dengan penghasilan yang besar tapi  memiliki kebiasaan berhutang. Agustina menjelaskan langkah untuk  mengatasi hutang konsumtif yaitu dengan komitmen untuk mengelola  pengeluaran dan melakukan penghematan.
&amp;ldquo;Kalau masalahnya yang lain misal dia gajinya lumayan tapi suka  hutang berarti pengeluaran dia yang terlalu besar. Cara keluar dari  kebiasaan itu ya harus ada komitmen dari dirinya sendiri, dia mau gak  seperti itu terus, harus lakukan penghematan di bagian mana nih yang  harus dikurangi sambil cicilannya dilunasi, kalau belum beres jangan  ambil hutang baru,&amp;rdquo; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Cara menghentikan kebiasaan berhutang bisa dilakukan dengan mengelola hutang dengan baik. Berhutang mungkin lebih dikenal sebagai keputusan keuangan yang negatif dan harus dihindari oleh siapa saja. Banyak kasus di mana orang bisa terjerat hutang dan menjadi sebuah kebiasaan atau rutinitas yang tidak bisa dilepaskan.
Selain itu, semakin mudahnya teknologi saat ini memunculkan banyak alternatif untuk berhutang. Orang biasanya terlena karena kemudahan kartu kredit ketika berbelanja. Kemajuan fintech juga memunculkan fenomena pinjaman online yang sangat mudah diakses dan siapapun bisa memanfaatkannya, baik secara bertanggung jawab maupun ceroboh.
Baca Juga: Masa Tua Banyak Duit, Ini Pentingnya Perencanaan Tabungan Pensiun
Namun faktanya, hutang bisa saja dikelola dengan baik dan bisa mendatangkan manfaat. Perencana keuangan Eko Endarto mengatakan, hutang yang bagus misalnya digunakan untuk investasi.
&amp;ldquo;Hutang juga ada yang bagus, ada yang buruk. Kalau hutangnya bagus misalnya untuk investasi, ya ga masalah artinya dia berhutang untuk mendapatkan aset, dan aset itu terus meningkat nilainya,&amp;rdquo; ucap Eko kepada Okezone, Kamis (8/4/2021).
Baca Juga: Tips Keluar dari Jeratan Utang Kartu Kredit
Masalah datang ketika hutang yang menjerat itu hutang konsumtif yang digunakan untuk memenuhi gaya hidup dan kebutuhan konsumtif. Menurut Eko, orang seperti itu mengorbankan masa depannya untuk bayar cicilan yang biasanya diambil dari tabungannya sendiri.
&amp;ldquo;Jadi dia tidak menabung, tapi dia juga harus bayar cicilannya. Ketika seseorang itu terkena masalah hutang, selalu ingat untuk masa depan. Kalau sudah berkeluarga misalnya, ingat anaknya, kalau tidak berkeluarga ingat masa pensiunnya, sebab ketika dia berhutang berarti dia kehilangan waktunya dan kesempatan untuk berinvestasi, dia mengorbankan investasinya,&amp;rdquo; jelas Eko.Namun, bagi beberapa orang, berhutang adalah sebuah pilihan di kala  situasi mendesak. Tidak jarang orang dengan penghasilan kecil memiliki  banyak pengeluaran tambahan yang tidak diduga. Misal, bagi generasi  sandwich saat ini harus memenuhi kebutuhan orang tuanya, atau tiba-tiba  ada situasi darurat yang tidak diharapkan.
Perencana keuangan Agustina Fitria menjelaskan solusi untuk orang  berhutang karena kebutuhan mendesak dan disebabkan karena kondisi yang  tidak bisa dikendalikan.
&amp;ldquo;Suka berhutang itu berarti kan ada sesuatu yang bermasalah, pertama  dikarenakan penghasilan seseorang itu kurang, di bawah UMR, belum lagi  harus menghidupi orang tua atau adik-adiknya, makanya dia terpaksa harus  berhutang. Berarti solusinya dia harus cari penghasilan tambahan supaya  dia bisa melunasi hutangnya dan tidak berhutang lagi,&amp;rdquo; terang Agustina  kepada Okezone.
Berbeda kasusnya ketika seseorang dengan penghasilan yang besar tapi  memiliki kebiasaan berhutang. Agustina menjelaskan langkah untuk  mengatasi hutang konsumtif yaitu dengan komitmen untuk mengelola  pengeluaran dan melakukan penghematan.
&amp;ldquo;Kalau masalahnya yang lain misal dia gajinya lumayan tapi suka  hutang berarti pengeluaran dia yang terlalu besar. Cara keluar dari  kebiasaan itu ya harus ada komitmen dari dirinya sendiri, dia mau gak  seperti itu terus, harus lakukan penghematan di bagian mana nih yang  harus dikurangi sambil cicilannya dilunasi, kalau belum beres jangan  ambil hutang baru,&amp;rdquo; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
