<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dolar Perkasa Ditopang Data Inflasi</title><description>Dolar menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/10/278/2392357/dolar-perkasa-ditopang-data-inflasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/04/10/278/2392357/dolar-perkasa-ditopang-data-inflasi"/><item><title>Dolar Perkasa Ditopang Data Inflasi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/04/10/278/2392357/dolar-perkasa-ditopang-data-inflasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/04/10/278/2392357/dolar-perkasa-ditopang-data-inflasi</guid><pubDate>Sabtu 10 April 2021 07:39 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/04/10/278/2392357/dolar-perkasa-ditopang-data-inflasi-yGwhUvIshT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dolar (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/04/10/278/2392357/dolar-perkasa-ditopang-data-inflasi-yGwhUvIshT.jpg</image><title>Dolar (Reuters)</title></images><description>NEW YORK - Dolar menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Kenaikan ini mengupas beberapa kerugian minggu ini, ketika kenaikan yang lebih kuat dari perkiraan dalam ukuran inflasi AS dan China mengangkat imbal hasil (yields) obligasi pemerintah AS lebih tinggi.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya, naik 0,10% menjadi 92,163.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dolar AS Menguat Terangkat Semangat The Fed untuk Pulihkan Ekonomi
&quot;Kami melihat konsolidasi dalam dolar AS yang luas hari ini setelah seminggu mengalami kerugian karena data inflasi dari China dan AS memicu kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali aktif,&quot; kata Analis Mata Uang Monex Europe, Simon Harvey.

Data pada Jumat (9/4/2021), menunjukkan harga-harga produsen AS meningkat lebih dari yang diperkirakan pada Maret, menghasilkan kenaikan tahunan terbesar dalam 9,5 tahun, sesuai dengan ekspektasi untuk inflasi yang lebih tinggi saat ekonomi dibuka kembali di tengah lingkungan kesehatan masyarakat yang membaik dan pendanaan pemerintah yang besar.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Indeks Dolar Sentuh Level Tertinggi selama Empat Bulan
&amp;nbsp;
Inflasi diperkirakan akan memanas tahun ini, didorong oleh permintaan yang terpendam dan karena angka yang lemah pada musim semi lalu keluar dari perhitungan. Harga-harga jatuh di awal pandemi di tengah penutupan wajib bisnis yang tidak penting di banyak negara bagian untuk memperlambat gelombang pertama infeksi COVID-19.Sebagian besar ekonom dan pejabat Federal Reserve (Fedd) percaya  inflasi yang lebih tinggi akan bersifat sementara karena kelesuan pasar  tenaga kerja.

Pada Jumat pagi (9/4/2021), data menunjukkan harga-harga di gerbang  pabrik China mengalahkan ekspektasi analis dan naik pada laju tahunan  tercepat sejak Juli 2018 pada Maret, tanda terbaru bahwa pemulihan di  ekonomi terbesar kedua di dunia itu sedang mengumpulkan momentum.

Dolar juga terbantu oleh data yang menunjukkan penurunan bulanan  kedua berturut-turut dalam produksi industri di Jerman, yang selanjutnya  meningkatkan kemungkinan ekonomi terbesar Eropa mengalami kontraksi  pada kuartal pertama.



Namun, reli dolar tahun ini tampaknya sudah kehabisan tenaga.  Terlepas dari kenaikan pada Jumat (9/4/2021), indeks dolar berada pada  kecepatan untuk menyelesaikan minggu ini turun 0,9 persen, penampilan  mingguan terburuk tahun ini.

&quot;Saya kira ini mungkin hanya jeda dengan penjualan dolar AS  kemungkinan akan berlanjut selama retorika sabar The Fed tetap tidak  berubah, terutama di awal siklus inflasi yang diantisipasi,&quot; Kepala  Strategi Pasar Global Axi, Stephen Innes, mengatakan dalam sebuah  catatan.



Sterling mengupas kerugian menjadi diperdagangkan sedikit berubah  setelah menyentuh level terendah dua bulan terhadap dolar pada awal  perdagangan London. Sterling masih mencatat penurunan mingguan  terbesarnya terhadap euro sepanjang tahun ini, dirugikan oleh aksi ambil  untung setelah kuartal pertama yang kuat.

Dolar Australia juga turun sebanyak 0,9 persen, sebelum memangkas kerugiannya.

Analis di MUFG mengatakan dalam sebuah catatan bahwa langkah tersebut  tidak memiliki pemicu makro yang jelas, tetapi laporan stabilitas  keuangan dari bank sentral Australia menunjukkan akan menahan diri dari  tindakan kebijakan moneter untuk mengatasi risiko pinjaman yang  meningkat mungkin telah menekan mata uangnya.</description><content:encoded>NEW YORK - Dolar menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Kenaikan ini mengupas beberapa kerugian minggu ini, ketika kenaikan yang lebih kuat dari perkiraan dalam ukuran inflasi AS dan China mengangkat imbal hasil (yields) obligasi pemerintah AS lebih tinggi.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya, naik 0,10% menjadi 92,163.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dolar AS Menguat Terangkat Semangat The Fed untuk Pulihkan Ekonomi
&quot;Kami melihat konsolidasi dalam dolar AS yang luas hari ini setelah seminggu mengalami kerugian karena data inflasi dari China dan AS memicu kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali aktif,&quot; kata Analis Mata Uang Monex Europe, Simon Harvey.

Data pada Jumat (9/4/2021), menunjukkan harga-harga produsen AS meningkat lebih dari yang diperkirakan pada Maret, menghasilkan kenaikan tahunan terbesar dalam 9,5 tahun, sesuai dengan ekspektasi untuk inflasi yang lebih tinggi saat ekonomi dibuka kembali di tengah lingkungan kesehatan masyarakat yang membaik dan pendanaan pemerintah yang besar.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Indeks Dolar Sentuh Level Tertinggi selama Empat Bulan
&amp;nbsp;
Inflasi diperkirakan akan memanas tahun ini, didorong oleh permintaan yang terpendam dan karena angka yang lemah pada musim semi lalu keluar dari perhitungan. Harga-harga jatuh di awal pandemi di tengah penutupan wajib bisnis yang tidak penting di banyak negara bagian untuk memperlambat gelombang pertama infeksi COVID-19.Sebagian besar ekonom dan pejabat Federal Reserve (Fedd) percaya  inflasi yang lebih tinggi akan bersifat sementara karena kelesuan pasar  tenaga kerja.

Pada Jumat pagi (9/4/2021), data menunjukkan harga-harga di gerbang  pabrik China mengalahkan ekspektasi analis dan naik pada laju tahunan  tercepat sejak Juli 2018 pada Maret, tanda terbaru bahwa pemulihan di  ekonomi terbesar kedua di dunia itu sedang mengumpulkan momentum.

Dolar juga terbantu oleh data yang menunjukkan penurunan bulanan  kedua berturut-turut dalam produksi industri di Jerman, yang selanjutnya  meningkatkan kemungkinan ekonomi terbesar Eropa mengalami kontraksi  pada kuartal pertama.



Namun, reli dolar tahun ini tampaknya sudah kehabisan tenaga.  Terlepas dari kenaikan pada Jumat (9/4/2021), indeks dolar berada pada  kecepatan untuk menyelesaikan minggu ini turun 0,9 persen, penampilan  mingguan terburuk tahun ini.

&quot;Saya kira ini mungkin hanya jeda dengan penjualan dolar AS  kemungkinan akan berlanjut selama retorika sabar The Fed tetap tidak  berubah, terutama di awal siklus inflasi yang diantisipasi,&quot; Kepala  Strategi Pasar Global Axi, Stephen Innes, mengatakan dalam sebuah  catatan.



Sterling mengupas kerugian menjadi diperdagangkan sedikit berubah  setelah menyentuh level terendah dua bulan terhadap dolar pada awal  perdagangan London. Sterling masih mencatat penurunan mingguan  terbesarnya terhadap euro sepanjang tahun ini, dirugikan oleh aksi ambil  untung setelah kuartal pertama yang kuat.

Dolar Australia juga turun sebanyak 0,9 persen, sebelum memangkas kerugiannya.

Analis di MUFG mengatakan dalam sebuah catatan bahwa langkah tersebut  tidak memiliki pemicu makro yang jelas, tetapi laporan stabilitas  keuangan dari bank sentral Australia menunjukkan akan menahan diri dari  tindakan kebijakan moneter untuk mengatasi risiko pinjaman yang  meningkat mungkin telah menekan mata uangnya.</content:encoded></item></channel></rss>
